Home » Berita Utama » Buton-Muna dan Saluan sudah Lama Hidup Berdampingan
Buton-Muna dan Saluan sudah Lama Hidup Berdampingan
Ratusan warga Buton dan Muna usai menggelar pertemuan di Masjid Rahmad KM 8 Kelurahan Tanjung Tuwis Kecamatan Luwuk Selatan, Sabtu (2/9) malam.

Buton-Muna dan Saluan sudah Lama Hidup Berdampingan

JAMAAH masjid yang berada di depan jalan provinsi itu belum juga beranjak. Usai salat Isya mereka memilih duduk bersila dalam beberapa kelompok. Meski jarum jam telah menunjukkan pukul 20.00 wita, namun warga semakin banyak berdatangan. Tak hanya di dalam masjid tersebut, mereka juga berjubel di pelataran hingga di bahu jalan.
Malam itu warga etnis Buton dan Muna Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memang menggelar pertemuan. Masjid itupun terlihat ramai.
Selain H. Samiun yang merupakan penggagas kegiatan sekaligus tokoh masyarakat Buton, juga terlihat sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat dan tokoh pemuda dari kedua etnis. Mereka diantaranya, H. Labelo, Hamaludin Laari, Laiji Panari, Burhanudin dan Sabara. Terlihat juga pejabat birokrasi yakni Mursidin Ribangka dan Rampia Laamiri serta Sekcam Luwuk Selatan Baharuddin. Bahkan Sekretaris DPD KNPI Kabupaten Banggai Alwin Palalo hadir pada kegiatan tersebut.
Ada beberapa subtansi yang dibahas. Yang paling hangat adalah persoalan minuman keras (miras). Etnis Buton dan Muna yang berdomisili di daerah ini berkomitmen memerangi peredaran miras serta narkoba di Kabupaten Banggai. Sanksi adat berupa pemulangan ke kampung halaman yang akan diterapkan, ketika kesepakatan itu diabaikan.
Pertemuan yang melibatkan perwakilan warga Buton dan Muna dari Tanjung, Kampung Baru, kilometer lima, kilometer delapan dan perwakilan pasar Simpong telah menyepakati tentang pemberian sanksi kepada penjual serta pembeli miras. Langkah pertama yang diambil yakni melaporkan kepada pihak kepolisian untuk selanjutnya ditindaki. Apabila penjual dan pembeli miras tidak juga jera hingga tiga kali proses itu dilakukan maka hukum adat Buton dan Muna yang diterapkan.
“Awalnya adalah hukum positif. Ketika tetap tidak mendengar selama tiga kali, maka berlaku hukum adat. Kita kembalikan mereka di kampung halaman,” kata H. Samiun dalam rapat berdurasi sekitar 2 jam lebih itu.
Sebelum merumuskan sanksi terhadap pelaku miras, rapat bertajuk sosialisasi 11 kesepakatan yang dihasilkan lewat dialog kebangsaan di kantor DPRD Banggai, Senin tanggal 28 Agustus 2017 itu, Haji Samiun memberi sejumlah pengantar.
Dihadapan ratusan peserta rapat yang didominasi kalangan pria itu, Haji Samiun mengatakan, hubungan antar etnis Buton-Muna dan Saluan sudah terjalin lama. Bahkan sudah terjalin hubungan kekeluargaan, lewat tali pernikahan antar etnis. “Persaudaraan kita ini bukan yang baru. Kerajaan Buton dan kerajaan Banggai tidak bisa terpisahkan,” ucapkan Haji Samiun.
Peristiwa yang nyaris merenggut korban jiwa yang banyak ini sambung ustad berjenggot ini, adalah sebuah teguran dari Allah SWT. Karena selama ini kita masa bodoh dengan gejolak yang sudah terjadi di tengah masyarakat. Bercermin dari teguran itu ajak Haji Samiun mari kita berbenah sekaligus mengevaluasi diri.
Apa yang menjadi keputusan di DPRD Banggai, tekan Haji Samiun harus ditaati. Karena warga Buton dan Muna harus berprinsip dimana bumi di pijak, disitu langit di junjung.
Pertemuan malam ini tambah Haji Samiun sangatlah bernilai. Karena satu komitmen yang ingin diraih yakni kita kembalikan nama baik etnis yang telah tercoreng atas sejumlah kasus kriminal yang pernah terjadi di Kabupaten Banggai, termasuk kasus yang telah merenggut nyawa Nurholis warga Jole Kecamatan Luwuk Selatan.
“Nenek moyang kita tidak pernah mengajarkan arogansi. Malah dulunya suku kita terkenal dengan penakut. Tapi mengapa sudah berubah, hingga melewati batas kewajaran. Mari kita kembalikan citra bahwa etnis Buton dan Muna adalah suku yang santun,” ucap Haji Samiun. Dan semua kasus kriminal yang pernah terjadi, hanya satu sumber malapetakanya, yakni minuman keras.
Rampia Laamiri menambahkan, kedamaian berasal dari keluarga. Ketika kita mampu menamamkan rasa kedamaian lewat lingkup masyarakat terkecil itu, maka tentu saja akan mengikuti pada lingkup masyarakat terbesar. “Kalau saya simple saja. Kedamaian harus dipupuk dalam keluarga masing-masing,” ucap ibu Nurul Indah Dalilah finalis Putri Pariwisata Indonesia 2017 peraih kategori putri perdamaian ini.
Haji Labelo mengaku sempat menemui Tomundo Banggai Hideo Amir di kediamannya beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan yang turut dihadiri etnis Saluan, Balantak dan Banggai itu, Tomundo menyambut baik kedatangannya. Bahkan Tomundo kata Haji Lebolo mengaku bahwa etnis Buton-Muna sudah lama berinteraksi dengan etnis lokal. Satu pesan Haji Labelo, di balik peristiwa ini ada hikmah berharga yang bisa diambil. Agar tidak terulang kembali kasus serupa, segera kita didik dan nasehati anak-anak muda kita.
Haji Labelo juga menitip amanah pada pertemuan itu yakni hidupkan kembali Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Kabupaten Banggai. “Wadah ini penting sebagai mediator dengan etnis lain dan Pemda Banggai,” ucapnya.
Mursidin Ribangka menyarankan, perlu diberlakukan lagi kegiatan ronda malam. Selain demi kantimbas sekaligus melakukan pengawasan terhadap peredaran miras di wilayah masing-masing. Pengaktifan kembali KKST juga mendapat respons putra Haji Tolori Ribangka ini.
Komitmen miras menjadi musuh bersama diamini Laiji Panari. Kata dia, perlu dibentuk wadah dalam memberantas miras di wilayah masing-masing. Tak hanya warga yang mabuk. Akan tetapi para penjual miras harus ditindak. “Aparat kepolisian juga proaktif, ketika mendapatkan laporan masyarakat. Tak hanya miras, narkoba serta ngefox yang trend di kalangan anak belia harus juga diberantas,” ucap dia.
Sebagai wadah berhimpunnya pemuda, DPD KNPI Kabupaten Banggai tidak mau ketinggalan kereta dalam memberikan pokok-pokok pikirannya. Sekretaris DPD KNPI Banggai Alwin Palalo usai pertemuan malam itu mendukung sepenuhnya apa yang dihasilkan lewat pertemuan etnis Buton-Muna itu. “KNPI mendukung pemberantasan miras. Karena barang haram ini yang menjadi sumber malapetaka sejumlah kasus kriminal yang terjadi di daerah ini,” ucap Alwin. (*)

About uman