Home » Banggai Laut » Tambal Sulam di Proyek Dini
Tambal Sulam  di Proyek Dini
RUSAK LAGI: Seorang pengendara saat melintasi ruas jalan Mampaliasan-Potilpololoba, Minggu (20/8). Ruas jalan tersebut mengalami kerusakan meski belum setahun selesai dikerjakan.

Tambal Sulam di Proyek Dini

BANGGAI – Pembangunan infrastruktur jalan patut disyukuri. Sebab, sejak belasan tahun lalu, peningkatan infrastruktur langkah di daerah ini. Namun, apa jadinya jika pengerjaannya diduga asal-asalan. Buktinya, masa pemeliharaan baru saja selesai, sudah rusak.
Karena itu, penegak hukum diminta segera menyelidiki proyek-proyek infrastruktur jalan yang digarap tahun 2016. Penelusuran Luwuk Post selama tiga pekan terakhir menunjukan jalan yang sudah mengalami kerusakan yakni ruas dalam Desa Lokotoy, Kecamatan Banggai Utara. Kerusakan tersebut memang sudah “ditambal sulam”, tetapi pantauan wartawan pada Minggu (20/8), sudah terjadi keretakan lagi di beberapa titik lagi.
Padahal, proyek tersebut dibiayai dengan anggaran sekitar Rp 2, 073 miliar. Dan baru tuntas dikerjakan Desember 2016 lalu. Tak ayal, proyek ini langsung menuai protes dari warga setempat. “Kami sesalkan ini, karena lahan masyarakat sudah dikorbankan,” ujar Wakil Ketua BPD Lokotoy, Hasran, kepada Radar Banggai (Luwuk Post Group).
Di Kecamatan Banggai Selatan, seorang sumber Luwuk Post, menginformasikan, ruas jalan Matanga-Pelingsolit juga telah mengalami kerusakan. Proyek ini tahun 2016 lalu dibandrol Rp 4,9 miliar. Fantastis memang. “Batu-batu sudah berhamburan di jalan,” katanya.
Di bagian lain, ruas jalan Mampaliasan-Potilpololoba juga telah mengalami kerusakan. Proyek ini juga dikerjakan tahun 2016 dengan anggaran sekitar Rp 2,7 milliar. Kerusakan di ruas ini sempat meramaikan warganet di media sosial facebook. Soalnya, warga setempat menanam pohon pisang di titik kerusakan.
Menanggapi hal ini, Kepala Kejaksaan Negeri Banggai Laut, Suyanto, masih irit berkomentar. “Diduga materialnya yang kurang baik,” tegas dia.
Sebelumnya, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Banggai Laut, Mulyadi Mojang, meneyatakan, sejak Mei 2017 lalu pihaknya telah mengirimkan surat teguran kepada kontraktor proyek tersebut. Karena itu, harus dibenahi. “Ada teguran-teguran itu,” jelas Mulyadi, Jumat (4/8).
Menurut dia, meski masa pemiliharaan telah selesai, tetapi kontraktor masih berkewajiban memperbaiki kerusakan jalan tersebut. “Bukan berarti sudah lewat masa pemeliharaan mereka sudah tidak perbaiki,” katanya.
Mulyadi menambahkan, jika kerusakan jalan pasca pengerjaan bukan disebabkan oleh faktor alam, memang menjadi tanggung jawab kontraktor untuk memperbaiki. “Kalau faktor alam lain lagi ceritanya,” ujar dia. (tim)

About uman