Home » Metro Luwuk » Perlu ‘Pinasa’ di Tubuh Birokrasi
Perlu ‘Pinasa’ di Tubuh Birokrasi
Onesimus Djaka

Perlu ‘Pinasa’ di Tubuh Birokrasi

LUWUK— Kota Luwuk kembali merebut piala Adipura tahun ini, tidak lepas dari suksesnya aksi moral bernama pinasa (piya na sampah ala) yang mendapat dukungan penuh seluruh lapisan masyarakat.
Menurut fungsionaris PDIP Kabupaten Banggai, Onesimus Djaka, pinasa sejatinya tak hanya ditujukkan kepada persoalan lingkungan. Akan tetapi kebersihan mental bagi para penyelenggara pemerintahan juga harus di pinasa.
Berbincang-bincang dengan Luwuk Post di ruang Fraksi PDIP kantor DPRD Banggai, Kamis (10/8) kemarin, Onesimus mengatakan, sukses pinasa berbuah adipura. Wajar saja jika penyambutannya dilakukan secara ‘wah’ oleh daerah ini. Betapa tidak, sudah 13 tahun lamanya tropi itu lepas dari genggaman kota Luwuk.
Keberhasilan meraih Adipura tak hanya menjadi kebanggaan pemerintah Herwin Yatim-Mustar Labolo (Winstar). Akan tetapi itu juga menjadi kebangaan seluruh masyarakat Kabupaten Banggai. “Tidak bisa ditampik, keberhasilan meraih Adipura tidak lepas dari dukungan dan kerjasama semua pihak,” ucap Onesimus.
Adalah tidak berlebihan sambung tenaga ahli fraksi PDIP ini, ketika Winstar diberi reward sekalipun murah, yakni acungan dua jari jempol dan bukan tangan yang terkepal alias palungku, ataupun bahasa miris yang tidak beretika.
Ones sapaan akrabnya, sepakat jika ada keinginan agar Kabupaten Banggai tetap mempertahankan Adipura. Tapi dia lebih sepakat lagi, jika Herwin dipertahankan selama dua periode sebagai bupati. Karena tidak bisa dipungkiri, Herwin lah yang memaneg pergerakkan aksi kebersihan lingkungan dengan labal pinasa. “Caranya tiada lain, mulai hari ini dan esok, mari kita sama-sama berkomitmen mendukung pemerintahan Winstar dengan membackup visi misi daerah,” kata Ones.
Tidak lengkap rasanya lanjut Ones, ketika hanya terfokus pada bersih-bersih lingkungan. Aksi pinasa juga perlu dilakukan di internal birokrasi. Artinya kata mantan aleg ini, sikap, mental dan karakter penyelenggara pemerintahan harus dibersihkan. Sebab dari amatan dan pengalaman Ones, masih ada oknum penyelenggara pemerintah yang tidak memberi apresiasi positif dan obyektif kepada Herwin.
Tapi herannya, mereka suka dan terus mengejar jabatan dan kedudukan yang diberikan bupati. “Mereka suka jabatannya. Tapi tidak mendukung kepada pemberi jabatan,” kata Ones. Masih ada oknum pejabat yang memiliki sifat kemunafikan. Mereka tuding Ones, kerap melakukan ‘akrobat’ politik atau sering mencari muka kepada bupati. Lantas siapa saja oknum pejabat itu? Ones berujar, silakan cek dan bagi mereka yang menjadi obyeknya, silakan merasa diri. (yan)

About uman