Home » Metro Luwuk » KAPAS Advokasi Anak Suku Terasing
KAPAS Advokasi Anak Suku Terasing
Anak-anak suku terasing ini harus melewati sungai untuk menuju sekolah mereka yang berjarak puluhan kilometer.

KAPAS Advokasi Anak Suku Terasing

LUWUK— Suku Tambiobong Batui III Kecamatan Batui yang tinggal di kawasan hutan, belum pernah merasakan manisnya kemerdekaan. Apalagi anak-anak usia sekolah. Hidup mereka sangat termarginalkan.
Kondisi itu rupanya menggugah hati para pemuda yang mengatasnamakan Komunitas Aktivis Pendidikan Anak Suku Terasing (KAPAS). Mereka dengan ikhlas memberi advokasi.
“Meski tak jauh dari gemuruh pabrik gas dan ammonia, tapi kehidupan mereka terpinggirkan,” kata Ketua KAPAS Abdul Majid kepada Luwuk Post di kantor DPRD Banggai, Selasa (8/8).
Kawasan tempat tinggal mereka sulit untuk dijangkau. Akan tetapi kata Majid bukan menjadi penghalang bagi komunitasnya untuk melaksanakan tugas mulia mereka. “Kami jadikan itu sebuah tantangan, demi mencerdaskan anak anak suku terasing,” kata Majid.
Setelah berinteraksi kata Majid, anak anak suku terasing memiliki kemauan yang keras untuk belajar. Terbukti, sekalipun jarak sekolah mereka jauh berpuluh puluh kilometer dengan menyebrangi lima sungai kecil dan satu sungai besar, namun semangat mereka tetap kuat. Bahkan ketika sungai besar meluap berakibat banjir besar, anak-anak itu kata Majid, rela menginap di sekolah Maleo Jaya yang merupakan daerah trans. “Mereka anak anak mungil yang butuh pendidkan dan tentu saja punya keinginan merubah nasib ketika dewasa kelak,” kata Majid.
Terkadang lanjut dia, mereka merasa malu, karena saat bersekolah tidak memakai sepatu dan seragam baju sekolah. “Untuk materi, bantuan kami terbatas,” ucapnya.
Tidak sekedar memberi spirit, tapi lebih dari itu, KAPAS turun langsung mengajar anak-anak suku terasing itu. Caranya kata Majid, mengajar dengan konsep sekolah alam sebagai media belajar. Selain itu juga, KAPAS sering mengajarkan cara mengelola lahan dan bercocok tanam serta pengadaan bibit palawija.‬
“Kami sadar akan negeri dan daerah kami. Makanya mereka juga layak untuk pintar dan cerdas. Kami inginkan ada sinkronisasi dengan Pemda atas kerja kami ini. Tak hanya di Tambiobong desa Uwemea, Tombelombang dann suku Igo pun kami itens mengajar tanpa pamrih,” ucapnya.
Ada sejumlah ide yang ditawarkan KAPAS terhadap Pemda Banggai. Pertama kata Majid, terntang infrastruktur jembatan gantung, sehingga anak-anak sekolah dan hasil pertanian dapat mereka jual ke pasar tanpa harus menyebrangi sungai besar. Kedua, konsep sekolah alam satu atap. Dengan begitu mereka dapat belajar kelas 1,2 dan 3 di alam dan kampungnya.
Selanjutnya, pemerintah mengevaluasi kinerja guru yang dialokasikan dananya untuk mengajar pada suku terasing. Sebab pihaknya mendapatkan laporan bahwa para guru enggan mengajar di tempat itu. Begitu pula dengan kesehatan. Kabarnya akan dibangun pos kesehatan di wilayah itu. Tapi apa lacur, hingga kini tak ada realisasinya. Meski begitu, KAPAS tak patah arang. Advokasi ini terus dilakukan, dengan meminta backup dari Yayasan Indonesia Mengajar. (yan)

About uman