Home » Berita Utama » Merintis Karier dari Bawah, Terkesan Manajemen Santika
Merintis Karier dari Bawah, Terkesan Manajemen Santika
GM Santika Hotel Luwuk, Baharuddin Adam, merintis karier di bisnis perhotelan sekira 22 tahun.

Merintis Karier dari Bawah, Terkesan Manajemen Santika

Grand opening Hotel Santika Luwuk dipastikan 5 Agustus nanti. Hotel yang sebelumnya bernama Istana Hotel itu mengalami renovasi besar-besaran setelah di-take over oleh manajemen Santika Hotel. Seperti apa sosok “kepala rumah tangga” hotel yang hanya satu kilometer dari pantai wisata kilometer Lima Luwuk itu? berikut ulasannya.

 

BAHARUDDIN Adam, tak menyangka jika kemudian hari akan bekerja pada bisnis perhotelan. Sejak kecil Ia sebenarnya bercita cita menjadi seorang pelaut. Bekerja di kapal kapal tanker yang banyak terlihat di kepulauan Riau.
Maklum, sebagai seorang perantauan Ia sebenarnya masih berdarah Bugis, yang memang lekat dengan laut. Meski bercita cita sebagai seorang pelaut, namun masa kecilnya dilewatkan dengan membantu orang tuanya bekerja. Untuk mengisi waktu luang setelah pulang dari sekolah dasar, Ia menjadi kacung di lapangan tenis.
Begitupun ketika beranjak SMP, Ia tidak hanya mengenal buku tapi juga bekerja menjadi karyawan di toko kelontong. Jelang kelulusannya sebagai siswa SMP, Ia sebenarnya sudah mulai bekerja di bagian administrasi pada sebuah perusahaan jasa. Hal ini juga yang kemudian mendorongnya memilih melanjutkan sekolah di SMEA. “Saya senang marketing,” tuturnya soal sekolah yang dipilihnya itu.
Dibanding kerja di lapangan, Ia memang merasa nyaman kerja sebagai orang kantoran. Hanya saja, setelah lulus SMEA, Ia kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan sehingga memilih bekerja sebagai penjaga gudang barang harian. Tak lama, Ia pun meninggalkan Kundur, pulau kecil di Kepulauan Riau, dan merantau ke Tanjung Pinang, Pulau Bintan.
Sambil mencari kerja, Ia mencari penghasilan dengan bekerja bangunan. Meski begitu, dia tetap meningkatkan kapasitas dengan kursus bahasa Inggiris pada sore harinya. Kebetulan, saat itu, di Kepulauan Riau, tepatnya di Pulau Bintan, masuk mega proyek pengembangan objek wisata. Cukup banyak investor asing yang membenamkan modalnya di pulau nan eksotis itu.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga lokal, investor memberikan beasiswa kepada warga setempat. Baharuddin Adam, termasuk yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk kuliah Diploma I di Balai Pendidikan Pariwisata.
Sebelum lulus, Ia sudah terpilih dan direkrut untuk bekerja di salah satu hotel di Tanjung Pinang. Ia merintis karier dari bawah, sebagai house keeping untuk public area, begitupun ketika naik status ke front office, dimulainya dari bell boy, lalu ke represionis. Lalu kariernya berlangsung cepat dan beberapa kali menjabat sebagai supervisor sebelum akhirnya jabatannya mentok di Asisten Front Office.
Sebagai orang lokal, posisi manager di resort tersebut memang dipegang oleh warga asing. Itulah mengapa Baharuddin lalu pindah ke hotel Harris, Batam. Di hotel ini dia bisa berbaur dengan banyak orang, dan masuk dalam berbagai asosiasi, hingga akhirnya pindah tugas ke Harris Jakarta, lalu tergoda lagi pindah ke hotel lokal dengan culture dan budaya kerja yang berbeda. Tak betah, Ia pun lalu berhenti dan kembali ke Tanjung Pinang, bekerja di Hotel Nirwana. Di hotel milik pengusaha sukses di Indonesia itu, posisi manager memang dapat dijabat oleh warga lokal, meskipun divisi head tetap dipegang oleh warga asing. Hanya satu tahun Ia pun pindah ke Padang dan bekerja di salah satu hotel local.
Pada sekira tahun 2009 itu, Ia merasa tidak mendapatkan tantangan, karena dari sisi okupansi hotel tersebut sudah sangat bagus. Ia lalu hijrah ke Lombok dan kembali menangani hotel lokal. Di sini, Ia menghadapi minset karyawan lokal yang sulit diubah. Meskipun mendapatkan support pendanaan dari owner, namun hotel tersebut tetap kekurangan dana. Ia pun pindah ke Bali dan menangani Hotel Beverly Hills, Jimbaran.
Hotel tersebut mampu merubah dirinya dengan lebih mengutamakan pelayanan sedetil detilnya. “Dulu dibayar lima dolar, service sebatas lima dolar. Tapi setelah di Bali, saya belajar keramahan. Dengan kultur Bali yang memuliakan tamu, uang tidak menjadi ukuran, yang penting tamu dilayani sehingga berasa seperti di rumah sendiri,” tuturnya.
Meski hanya setahun bekerja di Bali, tapi ia merasa konfiden. Tak hanya bekerja, Ia juga belajar seni dan desain interior. Lalu Ia kembali ke Lombok menangani pembangunan villa. “Di Lombok saya merasakan kepuasan. Apa yang saya lihat dan pikirkan bisa menjadi bentuk,” tuturnya, saat ditemui wartawan koran ini, akhir pekan lalu.
Sukses menangani pembangunan villa, bersama “tim arsiteknya” Ia kembali menangani satu villa lainnya sebelum akhirnya dipercayakan menangani pembukaan hotel lama. Tiga tahun di Lombok itu, Ia belajar memahami bahwa semua karyawan mempunyai potensi. “Tak ada karyawan yang tidak bisa (kerja maksimal). Tugas pimpinanlah yang menggali potensi karyawannya,” tambahnya.
Tiga Tahun mengasah kemampuan menganai villa dan hotel di Lombok, Baharuddin lalu ditawari kembali ke Padang, membangun hotel yang runtuh akibat gempa. Bekerja di hotel yang bukan grup besar dan di manajemen secara individu, Ia merasa tidak sejalan, misalnya dalam hal pelayanan terhadap karyawan. Sehingga Ia pun keluar dan bergabung dengan Santika.
Grup Hotel Santika-lah yang membuatnya betah. Itu karena dari sisi manajemen hotel tersebut memanusiakan manusia. Memberdayakan karyawan. “Saya merasa ada kenikmatan tersendiri mendidik karyawan dan lalu mereka bisa sukses,” ujarnya.
Ia pun belajar hidup berbuat baik. Tidak saja terhadap karyawan tapi juga terhadap lingkungan sekitar. Hanya 10 bulan di Santika Jakarta, Ia ditarik ke Amaris Palembang. Dari pengalaman bekerja di grup Santika itu, Ia makin memahami bahwa berbuat baik terhadap karyawan dan lingkungan sekitar sangat penting dan wajib hukumnya. “Saya merasa tidak pernah menghadapi masalah masalah besar setelah itu. Saya merasakan ketenangan dalam bekerja,” tuturnya lalu tersenyum.
Kondisi itu tentu sangat terasa saat dia menangani hotel lainya di mana masalah besar kerap menghadangnya. Bahkan, Ia pernah ditodong pistol saat bekerja di salah satu hotel di Sumatera itu. Kini, meskipun belum lama menginjakkan kakinya di Kota Luwuk, Ia telah bertekad untuk turut serta dalam kegiatan kegiatan positif untuk daerah. “Salah satu komitmen saya saat tiba di Luwuk, mendatangkan banyak orang untuk liburan di Luwuk. Saya berharap upaya ini bisa memberi konstribusi bagi kemajuan daerah,” tambahnya. (ris)

 

 

 

About uman