Home » Metro Luwuk » Lahan Kantor Desa Awu Digugat
Lahan Kantor Desa Awu Digugat
Arvan Mokoagow

Lahan Kantor Desa Awu Digugat

LUWUK— Ahli waris almarhum Ali Mokoagow menggugat lahan kantor desa Awu Kecamatan Luwuk Utara. Selain pemerintah desa, gugatan juga diarahkan pada warga yang mengklaim lahan seluas 18 x 12 meter itu miliknya. Bahkan sengketa lahan tersebut telah berada di meja penyidik Polres Banggai.
Ahli waris almarhum Ali Mokoagow, Arvan Mokoagow Sabtu (29/7) menjelaskan, pihaknya mengantongi sejumlah bukti kepemilikan tanah. Mulai dari surat akte jual beli (AJB) tertanggal 15 Desember 1969, lampiran gambar kasar tanah tanggal 25 Agustus 1977, yang diketahui oleh Kepala Direktorat Agraria, surat keterangan hak milik tanah tertanggal 30 Februari 1979, surat keterangan kepala desa Boyou tanggal 2 Maret 1997, gambar kasar tanah tanggal 2 Maret 1997 serta surat ahli waris perihal penyerobotan yang ditujukkan kepada Camat Luwuk Utara tanggal 14 Desember 2016.
Meski lengkap data kepemilikan tanah seluas 1 hektar yang include didalamnya 18×12 meter (lahan yang sudah dibangunkan kantor desa Awu), namun Juliana Paat mengklaim itu adalah lahannya. Anehnya, pihak tersebut tidak memiliki hak kepemilikan yang legal. “Tahun 2010 lalu saya pernah meminta kepada Juliana dokumen tanah. Tapi yang bersangkutan tidak bisa memperlihatkannya,” kata Arvan. Malah sambung Arvan di depan aparat desa dikediaman mantan Kades Awu Hasanuddin tahun 2014 lalu, Juliana mengaku tidak ada bukti kepemilikan lahan, sekalipun dalam bentuk kwitansi.
Upaya untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan kata Arvan sudah beberapa kali dilakukannya. Tapi hasilnya nihil. Karena tidak ada itikad baik, sehingga pilihan alternatif yang ditempuh adalah jalur hukum. “Tanggal 14 Desember kami telah melayangkan surat kepada Pjs Kades Awu perihal penyerobotan, yang isinya meminta agar menghentikan aktivitas pembangunan kantor desa Awu. Tapi surat itu tak digubris,” ucap Arvan.
Kini kata Arvan lagi, kasusnya sudah masuk ke ranah hukum, dengan tuduhan melakukan penyerobotan lahan, pemalsuan dokumen serta perampasan hak. “Proses hukumnya telah berjalan,” ucapnya.
Satu hal yang membuat ahli waris tidak bisa menerima, sambung dia, AJB yang dibuat Juliana tahun 1988. Sementara Nan Mokoagow meninggal tahun 1987. “Itu sangat rancu. Karena sudah masuk ke ranah hukum, ahli waris sepakat untuk tidak akan berdamai,” tegas Arvan. (yan)

About uman