Home » Berita Utama » Korban Eksekusi—Ahli Waris Nyaris Bentrok
Korban Eksekusi—Ahli  Waris Nyaris Bentrok
Seorang warga yang diduga utusan ahli waris Berkah Albakar mencabut parang dari rekannya saat ketegangan terjadi di objek eksekusi, kompleks Tanjung, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Kamis (27/7).

Korban Eksekusi—Ahli Waris Nyaris Bentrok

LUWUK–Situasi menegangkan terjadi di lokasi penggusuran lahan di kompleks Tanjung, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Kamis (27/4) sekira pukul 09.00 Wita.
Ketegangan itu terjadi antara puluhan orang yang diduga utusan ahli waris Berkah Albakar, dengan korban eksekusi yang masih mendiami objek sengketa.
Informasi yang dihimpun Luwuk Post menyebutkan, kedatangan utusan ahli waris dengan tujuan untuk membersihkan lokasi eksekusi. Mereka datang menggunakan peralatan, seperti parang, linggis dan lainnya. Mereka ingin membersihkan puing-puing bangunan agar terlihat bersih.
Namun, niat mereka tiba-tiba dipertanyakan oleh sekelompok warga Tanjung yang saat itu akan melakukan demonstrasi ke Pengadilan Negeri Luwuk. Awalnya komunikasi lancar. Tapi, entah apa penyebabnya, seorang utusan ahli waris mencabut parang dari rekannya dan langsung mengancam korban eksekusi. Sehingganya, korban eksekusi pun membalas dengan melempar utusan ahli waris dengan batu.
Seorang korban eksekusi saat dihubungi wartawan koran ini, Ba’arudin membenarkan adanya ketegangan tersebut. Meski begitu, situasi keamanan dapat dikendikan oleh pihak kepolisian. “Iya, mereka (utusan ahli waris) ada sekitar 30 orang. Katanya mau bersih-bersih,” ungkapnya.
Ketegangan terjadi tepat di pertigaan kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banggai. Ada seorang yang memegang parang dan mengancam warga Tanjung. “Saya juga tidak kenal siapa orangnya,” tutur Laba’a—sapaan akrabnya.
Utusan ahli waris juga sempat bersitegang dengan para pendemo, lalu perang mulut. “Mereka tidak masuk ke dalam. Hanya di pertigaan Dinsnaker saja,” katanya.
“Untung saja ada polisi yang mengamankan,” kata Laba’a lagi. Sementara itu Kabag Ops Polres Banggai Kompol Margiyanta membenarkan adanya peristiwa itu. Namun, Ia enggan berkomentar jauh. Puluhan utusan ahli waris datang karena ingin memagar lokasi. Namun ditolak warga hingga terjadi ketegangan. “Ahli waris mau pemagaran saja, tapi ditolak warga,” kata Margiyanta.
Masing-masing pihak bisa menahan diri. “Kami imbau agar selalu menjaga kamtibmas,” harap margiyanta.

Pemda Diminta
Bertanggung Jawab
Sementara itu, meskipun terjadi ketegangan di objek ekskusi Tanjung, tapi tidak membuat semangat korban eksekusi kendor dalam memperjuangan kebenaran. Kemarin (27/7), puluhan mahasiswa dan korban eksekusi yang tergabung dalam Front Mahasiswa Kabupaten Banggai menggelar aksi demonstrasi di beberapa titik. Massa aksi menggelar long march dari lokasi objek eksekusi ke Universitas Tompotika Luwuk, lalu ke Pengadilan Negeri Luwuk, setelah itu berorasi lagi di bundaran tugu Adipura Luwuk.
Massa aksi menuntut dugaan pelanggaran prosedur pelaksaan eksekusi di lahan seluas 6 hektar di kompleks Tanjung, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk.
Di Pengadilan Negeri Luwuk, massa aksi hanya berorasi di luar pagar. Tapi, perwakilan PN Luwuk tidak menemui massa aksi. Dalam tuntutannya, mereka menegaskan agar seluruh pimpinan instansi terkait dalam pelaksanaan eksekusi seperti, Ketua PN Luwuk, Kapolres Banggai, Bupati dan Wakil Bupati harus bertanggung jawab atas penggusuran yang merugikan masyarakat, kesalahan prosedur, melanggar HAM, dan luas eksekusi yang dianggap melebihi batas.
Seorang orator menyatakan, masyarakat dianiaya secara halus oleh Pemda. Mereka digusur dari tempat tinggal, serta pendapatan ekonominya. “Ini pelanggaran HAM,” tegasnya. Ia bersama mahasiswa lainnya mengutuk keras perbuatan yang dilakukan oleh Pemda kepada warga Tanjung. Sebab sampai saat ini status warga Tanjung belum jelas. “Masyarakat harus melawan dengan pemerintahan saat ini,” tandas pria berkaju kotak-kotak itu.(awi/tr-55)

 

 

About uman