Home » Berita Utama » Jangan Asal Ganti Nama
Jangan Asal Ganti Nama
Pergantian nama Graha Dongkalan menjadi Graha Pemda terus menuai protes dari warga Kota Luwuk.

Jangan Asal Ganti Nama

LUWUK—Pergantian nama Gedung Graha Dongkalan menjadi Graha Pemda oleh pemerintah Kabupaten Banggai, terus mengundang perdebatan. Salah seorang warga Luwuk, Mustafa Abdul Rahman, kepada Luwuk Post mengatakan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai harus menjelaskan alasan dan motivasi mengapa gedung yang sudah diberi nama itu harus diganti. Jika memang karena tidak diperdakan maka pemerintah daerah seharusnya membuktikan bahwa penamaan aset-aset pemerintah daerah juga diatur dalam aturan pemerintah daerah. “Okelah nama Graha Dongkalan tidak diperdakan, tapi bagaimana dengan alun-alun bumi mutiara, Taman Sehati dan Taman Kreatifitas (dibangun di masa Bupati Herwin Yatim)? Kalau Taman Sehati itu juga, misalnya, tidak diatur dalam perda, kenapa tidak diganti juga. Kenapa malah Graha Dongkalan yang diganti?” ujarnya.
Menurut Mustafa, pemerintah daerah semestinya lebih memahami kearifan lokal. Dongkalan sangat erat kaitannya dengan Luwuk. Karena itu, kata dia, semestinya pergantian nama Graha Dongkalan tidak didasarkan pada ketidaksukaan atau alasan-alasan yang tidak rasional lainnya. “Kalau ingin menamakan sesuatu sesuai selera, silakan bangun gedung baru. Bukan merubah yang sudah ada. Silakan membangun Babasal Convention Centre, misalnya. Jangan hanya main ganti nama yang sudah dibangun oleh orang lain,” tambahnya.
Sementara itu, dalam catatan koran ini, penamaan gedung Graha Dongkalan yang diresmikan Bupati Banggai M Sofhian Mile, Rabu 25 Mei 2016 lalu itu, semata-mata untuk mengangkat sejarah Dongkalan, sejarah Kota Luwuk.
Sofhian Mile, yang saat itu masih menjabat Bupati Banggai pada sambutan peresmian Graha Dongkalan menegaskan, penamaan gedung Dharma Wanita Luwuk menjadi Graha Dongkalan untuk mengangkat kembali sejarah Luwuk. Pemberian nama Dongkalan pada gedung itu tidak didasarkan pada tendensi sektarian.
Penegasan tersebut disampaikan Sofhian Mile, saat meresmikan gedung Graha Dongkalan, Rabu (25/5). Penamaan Graha Dongkalan yang dibangun di lokasi Gedung Wanita itu memang mengundang perdebatan. Pemberian nama Graha Dongkalan dianggap mengabaikan keberagaman masyarakat Kabupaten Banggai. Seakan merespons hal itu, Sofhian Mile saat itu menjelaskan tentang pergantian nama gedung itu.
Dongkalan adalah sebutan untuk cikal bakal lahirnya Luwuk. Dongkalan adalah nama pohon yang tumbuh di tepi laut di sekitar teluk lalong, sebuah lokasi yang dihuni oleh beberapa warga Luwuk di waktu silam. Satu pohon Dongkalan itu menjadi tempat bagi para nelayan dari pulau Banggai untuk mengikat tali perahu yang dilabuhkan di sekitar teluk lalong.
Meski belum terpetakan melalui wilayah administrasi, namun wilayah Dongkalan dikenal dari lokasi pelabuhan lama hingga tugu adipura. “Itulah batas wilayah Dongkalan,” ujarnya. Beberapa warga bermukim di wilayah itu, terutama di lokasi sekitar Toko Maju saat ini. “Setelah tahun 1970-an barulah berkembang beberapa kelurahan, Soho, Jole dan lain lainnya,” tuturnya.
Sofhian Mile sebagaimana pernah dirilis koran ini menegaskan, penamaan Graha Dongkalan bukan untuk membangkitkan sektariasme, atau mengotak-kotakkan masyarakat Luwuk ataupun tidak menerima kehadiran orang lain. “Tidak demikian. Penamaan graha Dongkalan semata mata untuk mengangkat kembali sejarah Luwuk. Karena Luwuk itu adalah Dongkalan. Dongkalan itu adalah Luwuk,” pungkasnya.(ris)

About uman