Home » Politik » Maestro Pemilu
Maestro Pemilu
Aminuddin Kasim

Maestro Pemilu

DI Kota Palu nama Dr. Aminuddin Kasim, SH, MH tak asing. Saking terkenalnya, dia dijuluki maestro pemilu. Selama 11 tahun bergelut pada dunia kepemiluan itulah, sehingga label tersebut melekat pada dosen di Universitas Tadulako (Untad) Palu ini. Pria ini cukup komunikatif. Sekalipun baru kali pertama bersua dengan sejumlah wartawan lokal, namun dia mampu membangun suasana yang penuh keakraban.
Aminuddin sempat memuji antusias masyarakat Kabupaten Banggai terkait penjaringan calon Panwaslu. Itu tercermin dari jumlah pendaftarnya. “Cukup banyak peminat Panwaslu disini. Yang ikut tes tertulis saja sebanyak 28 orang diluar empat calon yang tidak lolos berkas,” ucapnya.
Sekalipun orang Palu, namun Aminuddin menolak keras yang namanya politik identitas. Dia mencontohkan pada rekruitmen KPU dan Bawaslu Sulteng. Sebelumnya, orang Palu yang mendominasi pengisian kedua lembaga negara tersebut. Hanya saja, pola tersebut mulai tergerus. Perlahan pendominasian itu tidak kental. Dan itu dicontohkannya pada dua figur yang menjadi refresentase Kabupaten Banggai dan Bangkep. “Di Bawaslu ada nama Zaidul Bahri Mokoagow. Dia wakil dari Banggai. Juga ada Sahran Raden yang mewakili Bangkep,” jelas dia. Jika perlu tambah Aminuddin, dalam mengisi komposisi KPU dan Bawaslu Sulteng ada keterwakilan agama.
Dalam ranah kepemiluan, Aminuddin bukan orang baru. Sebelum dipercayakan sebagai Ketua Timsel rekruitmen calon Panwaslu zona II (Banggai, Poso, Bangkep, Balut, Morowali dan Morowali Utara) tahun 2017, dia adalah mantan tim Asisten Bawaslu RI yang serkarang disebut tenaga ahli tahun 2009.
Aminuddi juga pernah menjadi Ketua Timsel Bawaslu dan Ketua Timsel KPU Sulteng serta Koordinator tim pemeriksa daerah (TPD) dewan kehormatan penyelenggara pemilu (DKPP) Sulteng. Bahkan di kampus, Aminuddin mengajarkan tentang hukum pemilu partai politik pada S1 dan sengketa pemilu pada S2.
Lantas mengapa sang maestro pemilu ini enggan mendaftar sebagai calon penyelenggara pemilu? Peraih gelar Doktor pada Universitas Pajajaran tahun 2012 ini punya jawaban atas pertanyaan yang disodorkan wartawan tersebut. “Saya tidak suka jadi pemimpin. Tapi lebih suka menciptakan pemimpin”. (yan)

About uman