Home » Berita Utama » Lima ABK Berijazah Palsu
Lima ABK Berijazah Palsu
Kepala Bidang Kelaikan Kapal KUPP Luwuk, Juktias Mare, saat memeriksa ijazah ABK di KUPP Luwuk, Senin (10/7).

Lima ABK Berijazah Palsu

LUWUK – Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Luwuk menemukan sebanyak lima ABK yang mengantongi ijazah kelautan palsu. Ini ditemukan saat KUPP Luwuk memeriksa seluruh ijazah ABK dari 23 kapal yang masuk ke pelabuhan Luwuk, Senin (10/7).
“Di hari pertama, ada 5 ijazah ABK yang ditemukan palsu dari sekitar 60 ABK yang diperiksa,” ungkap Kepala Bidang Kelaikan Kapal KUPP Luwuk, Juktias Mare saat ditemui seusai pemeriksaan.
Dari lima ABK itu, 2 ABK dari KM Peling Damai, 1 ABK dari Lady Viera, dan 2 dari KM Aldus. Ketiga kapal tersebut merupakan jasa angkutan penumpang dan muatan barang antar pulau.
Juktias menuturkan, sudah ada 10 kapal yang diperiksa, dan masih tersisa 13 kapal. Sementara jumlah ABK yang terdaftar sekitar 134 orang. “Besok (hari ini) akan dilanjutkan lagi pemeriksaan,” katanya.
Dijelaskan, ABK yang sudah lolos tahap ferivikasi di KUPP Luwuk harus membuat surat pernyataan, bahwa ijazah yang dimiliki benar-benar asli. Sebab, pihaknya akan mengecek langsung ke Ditkapel, Dirjen Perhubungan Laut, Kementrian Perhubungan di Jakarta. “Ditkapel yang mengeluarkan nomor register ijazah. Jadi kalau palsu, maka ABK yang sudah tandatangani surat pernyataan akan dipolisikan,” tegasnya.
Ijazah merupakan dokumen negara. Sehingganya, bagi ABK yang tidak pernah menjalani pendidikan kepelautan tapi mengantongi ijazah, maka jangan coba-coba mendatangani surat pernyataan. Jika ijazah diketahui palsu, maka pasti dipolisikan.
“Ada ABK yang hanya bayar ijazah, tapi tidak melalui pendidikan kepelautan. Olehnya itu, kami melakukan verifikasi ijazah. Ini dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan saat berlayar,” tandasnya.
Juktias mengungkapkan, ada juga ABK yang tidak memiliki keahlian kelautan, bahkan tidak punya ijazah sama sekali.
Dikatakan, untuk mengetahui legalitas ABK, pihak KUPP melakukan clearing declaration terhadap ABK dan nahkoda sebelum kapal berlayar. Termasuk dengan jumlah penumpang dan angkutan barang sesuai manifest.
“Pemeriksaan ijazah hanya untuk kapal di atas 35 GT. Sementara di bawah 35 GT, ABK cukup memiliki SKK (surat kecakapan khusus)” jelas Juktias.
Ditanya soal kapal yang sering over load, Ia tidak menampik. Diungkapkan, persoalan ini biasanya dimainkan oleh agen kapal. Jumlah angkutan barang tidak dilaporkan ke pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan. “Iya itu benar. Kami hanya sekedar memberikan pembinaan. Tapi ada sebagian agen yang sudah dicopot,” papar Juktias.(awi)

About uman