Home » Politik » Awas Titipan Calon Panwas!
Awas Titipan Calon Panwas!
SOFYAN LABOLO

Awas Titipan Calon Panwas!

CATATAN
Oleh: SOFYAN LABOLO

PANWAS adalah lembaga yang dibentuk untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemilu, baik pileg, pilpres maupun pilkada. Tujuannya, agar hajatan politik itu berjalan sesuai amanat undang-undang dan harapan masyarakat.
Kabarnya, di level kabupaten/kota, wadah independent ini akan naik status, dari yang sebelumnya adhock menjadi parmanen. Atau dengan kata lain, akan sejajar dengan KPU sebagai lembaga yang bertupoksi sebagai penyelenggara secara teknis.
Pileg 2019 masih setahun lebih lagi. Meski begitu tahapannya sudah dimulai. Itu tercermin lewat rekruitmen calon Panwas. Di Kabupaten Banggai, tim seleksi Panwas telah bekerja. Tim bentukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulteng itu sedang membuka pendaftaran calon.
Sudah sekitar 20-an yang mendaftar. Mereka berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Antusiasme menjadi Panwas cukup besar. Gambarannya, para calon tidak hanya berasal dari orang lama. Akan tetapi wajah baru terlihat dalam daftar yang ditulis pada secarik kertas tersebut.
Bukan berarti proses pengakomodiran calon personil lembaga pengawas pemilu itu tak harus diawasi. Karena tidak menutup kemungkinan, rekruitmen itu kental dengan konspirasi.
Pada sebuah kesempatan, salah seorang tokoh muda birokrasi dilingkup Pemda Banggai bercerita, sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam setiap ajang seleksi seperti ini sangat rentan terjadi nepotisme. Termasuk salah satunya sebut dia rekruitmen calon Panwas. Pola seperti ini sambung pejabat eselon II itu, seakan sudah membudaya dan sulit dihilangkan. “Siapa yang kuat jaringannya, maka dia yang terpilih,” tuturnya.
Dari sejumlah tahapan penjaringan, ada yang namanya tanggapan masyarakat. Tapi terkadang tahapan ini tidak efektif. Sekalipun dalam tanggapan publik itu ada calon yang banyak mengantongi raport merah atau dianggap tidak memiliki integritas sehingga tak mampu independent, namun tetap saja tidak digubris. Sebab modus titipan, selain samar juga permainan tingkat tinggi.
Pola penjaringan yang mengedepankan titipan, sudah pasti hasilnya tidak akan maksimal. Tak hanya merugikan para calon yang ‘bersih’ yang ditunjang dengan kemampuan mumpuni. Tapi lebih dari itu, akan mencederai demokrasi. Karena afiliasi politiknya sudah sangat kentara sejak dari awal.
Lantas siapa atau pihak mana yang harus melakukan pengawasan terhadap para calon pengawas pileg itu? Jawabannya, tentu publik. Satu harapan kita semua agar rekruitmen Panwas Kabupaten Banggai kali ini benar-benar steril dari pesan sponsor, yakni tim seleksi jangan sampai masuk angin. (*)

About uman