Home » Metro Luwuk » “Bukti Apa Lagi yang Diperlukan”
“Bukti Apa Lagi yang Diperlukan”
Abd Ukas Marzuki

“Bukti Apa Lagi yang Diperlukan”

LUWUK— Pernyataan penyidik lakalantas melalui Kasubag Humas Polres Banggai, AKP Wiratno Apit bahwa belum cukup bukti untuk menetapkan sopir bupati Banggai sebagai tersangka kembali mengundang reaksi. Kini giliran akademisi yang mengkritisinya.
Menurut akademisi Universitas Muhammadiyah Luwuk, Abd Ukas Marzuki, lakalantas yang terjadi di Kelurahan Mendono, Kecamatan Kintom, Senin (5/6) lalu antara mobil bupati dan pengendara sepeda motor yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang itu sudah bukti. “Sudah diketahui siapa yang mengendarai mobil. Itu juga bukti konkrit kan,” kata Ukas, Sabtu (10/6).
Menurut Ukas, pihak kepolisian perlu menganalisa kembali kalau kemudian polisi bilang belum cukup bukti. “Bukti yang diminta yang seperti apa, untuk membuktikan bahwa dialah pelakunya. Coba tanya balik ke polisi, bukti lagi yang diperlukan?” tanya Ukas.
Kata dia, jangan sampai karena dia adalah driver seorang pejabat kemudian tidak bisa disentuh oleh hukum. Siapapun dia, kalau melakukan proses pelanggaran harus tetap ditindak berdasarkan aturan yang berlaku. “Kita inikan negara hukum, dalam hukum semua orang sama dimata hukum, tidak melihat siapa dia yang melakukan pelanggaran tetapi ketika dia terindikasi nyata melakukan pelanggaran, harus ditindak sesuai dengan hukum,” jelasnya.
Proses terjadinya lakalantas sudah jelas, yang menabrak motor yakni mobil siapa dan supirnya sudah jelas. Dan kalau polisi berasumsi bahwa tidak memenuhi bukti, dari mana indikasinya, harus jelas pihak kepolisian. “Jangan terkesan tebang pilihlah. Karena yang saya ketahui lakalantas itu, meskipun terjadi kekeliruan antara motor dan mobil, tetap harus mobil yang harus bertanggung jawab,” urai Ukas.
Ia menambahkan, jangan sampai pihak korban merasa tidak puas dengan penegakan hukum lantas muncul riak-riak. “Itu akan lebih fatal,” tuturnya.
Sementara itu, Kasat Lantas Polres Banggai AKP Adirawa Permana, menegaskan, sopir bupati Banggai, Abdul Rahman alias Ebit (36), tidak dilepas. Hanya saja, sopir belum ditetapkan sebagai tersangka. “Belum. Masih dalam proses penyelidikan,” katanya saat dikonfirmasi via telepon. (tr-55/Awi)

About uman