Home » Berita Utama » Polres Lirik Gedung Korpri
Polres Lirik Gedung Korpri
Proyek pembangunan kantor Dinas Pendapatan dan Sekretariat Korpri ini kian menjadi sorotan publik terkait dugaan penyimpangan keuangan daerah.

Polres Lirik Gedung Korpri

LUWUK—Proyek pembangunan gedung Korpri terus mengundang sorotan. Pasalnya, pembangunan gedung yang menelan anggaran sekira Rp 4,8 miliar itu sangat mencurigakan. Anggaran yang dikucurkan terlihat tidak sebanding dengan hasil proyek. Sebagai perbandingan, gedung gedung mewah yang dibangun di sekitar jalan Ahmad Yani, tidak menghabiskan anggaran serupa proyek gedung korpri. Gedung Bank Mega, berlantai tiga, misalnya, disebut sebut hanya menelan anggaran sekira Rp 2 miliar. Akademisi Unismuh Luwuk, Sutrisno K Djawa, turut curiga dengan pembangunan gedung di jalan Ahmad Yani itu. Dalam taksiran Sutrisno, dengan menggunakan Indeks Kemahalan Konstruksi di wilayah Kabupaten Banggai, sebesar Rp 2,5 juta per meter, konstruksi gedung Korpri saat ini, seharusnya menghabiskan anggaran sekira Rp 2 miliar saja.“Jadi kalau disebut sudah menghabiskan anggaran Rp 4,8 miliar, dengan kondisi bangunan seperti itu, memang patut dipertanyakan, jangan sampai ada mark up,” katanya.
Untuk membuktikan dugaan publik itu, kata dia, pemerintah daerah melalui inspektorat daerah harus turun lapangan dan memeriksa kondisi bangunan.“Dengan pondasi cakar ayam pun saya kira tak akan menelan anggaran senilai Rp 4,8 miliar, paling banyak Rp 2 miliar,” katanya.
Ia memahami dalam proyek pemerintah, kontraktor penyedia jasa bekerja mencari profit. “Tapi kalau sudah seperti itu, kelihatannya sudah untung besar, makanya harus ada penjelasan dari pemerintah mengenai proyek tersebut,” katanya.
Sebelumnya, Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banggai, Zulkifli Aliu, membantah informasi yang menyebut proyek gedung korpri milik seorang anak pejabat di daerah ini.
Kepada Luwuk Post, Zulkifli, menegaskan, tidak benar bahwa proyek tersebut dikerjakan oleh anak seorang pejabat di Luwuk. “Tidak ada pinjam meminjam perusahaan karena proyek tersebut dikerjakan langsung oleh perusahaan PT Kakanta,” tambahnya. Belakangan proyek pembangunan gedung Korpri mengundang perhatian publik. Sebab, pembangunan gedung yang didanai dengan anggaran miliaran rupiah itu terlihat belum rampung. Baru sebatas konstruksi tiang, sementara atap terlihat belum menyeluruh.
Zulkifli mengakui nilai proyek sebesar Rp 4,8 miliar memang hanya pekerjaan struktur sebagaimana yang telah selesai dikerjakan saat ini.   Dijelaskan, pada awal proses lelang yang dimulai tanggal 5 Agustus 2016 pagu anggaran proyek sekira 8 miliar. Tetapi karena waktu pelaksanaan sudah tidak memungkinkan dan adanya pemotongan anggaran pada tahun 2016 sehingga pihaknya hanya melaksanakan pekerjaan struktur, atap, talud keliling bangunan dan timbunan.
Informasi yang dihimpun, proyek ini ditengah “dibidik” Kejari Banggai. Pasalnya, anggaran proyek diduga tak sepadan dengan hasilnya. Dengan sisa anggaran hanya sekira Rp 3,2 miliar sangat diragukan proyek itu akan selesai seperti perencanaan awal.
Terpisah, Polres Banggai saat ditanya soal upaya penyelidikan terhadap dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) pembangunan gedung Korpri, belum memberikan keterangan secara detail. Meski demikian, jika diyakini ada dugaan tipikor, pihaknya akan bertindak sesuai prosedur hukum yang berlaku.
“Kalau sudah mengarah kesana (tipikor,red) pasti dilidik. Yang pasti, kami akan puldata dan pulbaket dulu,” kata Kasubag Humas Polres Banggai AKP Wiratno Apit, kemarin.
Kata dia, yang lebih spesifik menjelaskan tentang prosedur penyelidikan adalah Satreskrim Polres Banggai, khususnya bagian Krimsus. “Kebetulan pak Kasat Reskrim lagi di Jakarta. Saya belum bisa memberikan keterangan lebih,” tuturnya. “Nanti kalau sudah datang Kasat-nya, akan dikonfirmasi kembali,” jelas Wiratno.(ris/awi)

About uman