Home » Berita Utama » Eva Bande Turun Gunung
Eva Bande Turun Gunung
Sejumlah elemen organisasi kemahasiswaan Kota Palu bersama Eva Bande bakal mengadvokasi warga Tanjung korban eksekusi lahan.

Eva Bande Turun Gunung

LUWUK— Setelah cukup lama tak terdengar, kini Eva Bande kembali muncul. Aktivis perempuan ini datang dengan satu agenda, yakni melakukan advokasi terhadap warga Tanjung yang menjadi korban eksekusi.
Kehadiran wanita energik ini, praktis melahirkan apresiasi dari Front Masyarakat Tanjung Bersatu (FMTB), yang selama ini intens mendampingi warga yang telah digusur rumahnya tersebut.
“Kami seakan mendapat kekuatan baru, setelah Eva Bande siap bersama-sama mengadvokasi warga Tanjung,” ujar Samsir pentolan FMTB, kepada Luwuk Post, belum lama ini.
Sebelumnya kata Samsir, FMTB telah berkonsolidasi di Kota Palu, terkait penggusuran yang mengakibatkan sebanyak 1.411 jiwa atau 343 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal. “Dan hasilnya Eva Bande turun gunung,” ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut lanjut dia, dihadiri berbagai elemen organisasi kemahasiswaan, diantaranya Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Fisip Untad, Komunitas Mahasiswa Antropologi (Komunal) Fisip Untad, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Toili Raya (IPMTR) Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) Sulawesi Tengah.
Kesemua elemen itu kata Samsir, siap membantu dan memperjuangkan nasib masyarakat Tanjung.
Tidak hanya itu mereka yang terhimpun dalam solidaritas untuk rakyat Tanjung di kota Palu juga akan melakukan aksi massa diberbagai instansi dan lembaga yang terkait dalam persoalan penggusuran di kawasan Tanjung.

PERNYATAAN SIKAP
Selain mengadvokasi warga Tanjung, solidaritas untuk rakyat Tanjung Kota Palu juga menyampaikan sejumlah pernyataan sikap. Pertama, mengutuk keras perbuatan aparatur negara di lingkup Pemerintahan Daerah Kabupaten Banggai dan semua pihak yang secara terang terangan maupun terselubung penyebab derita bagi para korban gusur paksa yang terorganisir.
Kedua, para eksekutor dan pengambil keputusan dibalik peristiwa tak manusiawi ini telah menyelewengkan tugas dan tanggung jawab pelayanan dan perlindungan bagi warga negara, mengubahnya menjadi malapetaka bagi ribuan rakyat Tanjung. “Mereka telah kehilangan hati, pikiran waras, dan rasa kemanusiaan, menjadi boneka beberapa orang yang berkepentingan memperkaya diri dan obral kuasa di balik peristiwa ternista ini,” tertulis dalam isi pernyataan sikap. Bahkan elemen ini memastikan bahwa warga Tanjung tidak berjuang sendiri. Sebab perjuangan akan digelorakan dan akan terus diperluas hingga ke pemerintah pusat. (yan)

About uman