Home » Metro Luwuk » Cerita di Kelas, Siswa Dihukum Sampai Luka
Cerita di Kelas, Siswa Dihukum Sampai Luka
DJS (8), siswa SD Katholik saat memperlihatkan luka lecet di bagian lututnya, Sabtu (13/5).

Cerita di Kelas, Siswa Dihukum Sampai Luka

LUWUK-Potret kekerasan guru terhadap muridnya kembali terjadi di daerah ini, di mana dua orang siswa SD Katholik yang ketahuan bercerita pada saat kegiatan sekolah berlangsung dihukum gurunya hingga mengalami luka, Sabtu (13/5). Kejadian itu membuat orang tua siswa merasa tak terima, dan meminta pertanggungjawaban kepala sekolah serta yayasan yang menaunginya untuk mengambil sikap.
“Ini sudah yang ke dua kalinya. Dulu saat anak saya masih kelas satu juga pernah terjadi. Tapi itu sudah selesai dengan jalan kekeluargaan. Nah, ini terjadi lagi,” kata Indra Wilis, ibu dari korban kekerasan guru saat ditemui di kediamannya, akhir pekan kemarin.
Indra menjelaskan persoalan hukuman guru adalah hal yang wajar untuk mendidik siswa. Hanya saja, perlu diperhatikan juga jenis hukuman yang akan diberikan jangan sampai menimbulkan luka dan trauma bagi anak untuk menempuh pendidikan formal. “Kalau ini saya perhatikan sudah tidak sebanding dengan kesalahannya. Itupun kalau anak saya salah. Karena pengakuannya tidak seperti yang dituduh gurunya,” terang Indra lagi.
Kepada sejumlah media, DJS (8) yang kini duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar itu mengaku awalnya teman di sampingnya bercerita sendiri pada saat kegiatan sekolah berlangsung. Tak berapa lama seorang guru yang diketahui bernama Rinco Sadil menegur. DJS sempat ditanyai apakah Ia ikut bercerita atau tidak, namun karena takut dimarahi DJS memilih diam. Akhirnya keduanya dihukum jalan berlutut dalam kelas berdebu. “Kita di suruh jalan berlutut 20 putaran di dalam kelas. Tapi baru 15 kali sudah sakit,” ungkapnya.
Kesakitan yang dialami DJS diakibatkan luka lecet karena jalan menggunakan lutut. Melihat kondisi itu, Rinco pun mengambil tindakan pengobatan dengan memberikan obat merah di lutut kiri dan kanan DJS yang mengalami luka.
“Gurunya juga sempat titip nomor teleponnya yang ditulis di kertas untuk saya. Mungkin itu dimaksudkan agar ketika ada pertanyaan kami bisa meneleponnya,” sambung Indra, ibu DJS.
Meski telah mendapatkan penjelasan dari guru yang bersangkutan, Indra kurang puas. Karena menurutnya kejadian seperti ini harus ada tindakan dari penanggungjawab pendidikan di SD Katholik. Tujuannya, untuk menghindari hal serupa terjadi pada anak lain. “Saya kira harus ada efek jera. Kalau tidak ada tindakan dari kepala sekolah dan yayasan, terpaksa kasus ini kami teruskan ke ranah hukum,” tandasnya.
Sayang, kepala sekolah maupun guru yang bersangkutan (Rinco-red) belum terkonfirmasi hingga berita ini masuk dapur redaksi Luwuk Post.(van)

About uman