Home » Berita Utama » Syaipuddin Nonjob, Fuad Kecewa
Syaipuddin Nonjob, Fuad Kecewa
Fuad Muid

Syaipuddin Nonjob, Fuad Kecewa

LUWUK—Fuad Muid tak mampu membendung rasa kecewa pasca Syaifuddin Muid yang juga keponakannya dinonjob Bupati Banggai, Herwin Yatim. Kekesalan Ketua Palang Merang Indonesia (PMI) Kabupaten Banggai ini pun dilontarkan  kepada Luwuk Post, Rabu (10/5).
“Ternyata masih banyak pejabat penjilat di daerah ini,” tutur Om Fuad yang dihubungi via ponsel. Tak hanya doyan menjilat. Akan tetapi lanjut Om Fuad, ada juga yang menggunakan cara-cara menjatuhkan pejabat lain. “Ini benar-benar gila jabatan. Menjilat sekaligus menghancurkan yang lain,” ucap Om Fuad.
Mirisnya lagi, ada yang pasang badan tapi terdepak. Sedang ada yang mencaci maki pada saat perhelatan pilkada, tapi malah diberi reward jabatan. Kondisi ini terjadi lantaran kata Om Fuad, Bupati Herwin ‘telinga tipis’. Yang mau mengakomodir bisikan orang yang munafik. Sehingga kelompok yang setia, harus terbuang. “Ini awal dari sebuah kehancuran,” ucapnya.
Modus penjilat dan saling menjatuhkan di tengah pejabat birokrasi, sambung Om Fuad seakan, telah membudaya. Model seperti ini masih tetap ada sampai saat ini. Bupati saran dia, harus ekstra hati-hati dalam mengeluarkan kebijakan penempatan jabatan. Sehingga tidak melahirkan polemik.
Sebagai mantan pejabat birokrasi, Om Fuad menilai pengangkatan Soffian Datu Adam sebagai Plt Kadispora Kabupaten Banggai sangat rancu. Mestinya, tidak bisa mentransfer pejabat dari luar Dispora yang hanya eselon III untuk menduduki jabatan Plt Kadispora. “Kalau dari dalam (Dispora) itu tidak masalah ataupun pejabat dari luar tapi eselon II. Itu aturan yang saya tahu. Apakah sudah berubah, saya tidak tahu,” ucapnya. Tapi, Om Fuad meski mengakui nonjob itu terasa menyakitkan, tapi harus diterima. Karena menurutnya, Bupati punya hak dalam mengambil keputusan itu.

Kelihatan Aslinya
Petikan kalimat Syaifuddin Muid “baru kelihatan aslinya”, rupanya menarik perhatian politikus Partai Gerindra Kabupaten Banggai Henri Ombong angkat bicara.
Sekitar tahun 2007 lalu, ada pernyataan almarhum Ismail Muid, yang menyebut pemerintahan amburadul. Dan statemen pedas yang dialamatkan pada pemerintahan saat itu, diwujudnyatakan oleh mantan Sekkab Banggai itu dalam bentuk perlawanan kepada bupati yang kala itu dijabat Ma’mun Amir.
“Nah, sekarang saya menantang Syaifuddin Muid untuk melakukan langkah yang sama,” ucap Henri. Kalimat ‘baru sekarang kelihatan aslinya’ kata Henri harus dijawab Syaifuddin dengan cara membongkar semua hal-hal yang palsu. Dorongan ini bukan dalam rangka mengompori. Akan tetapi bentuk pertanggung jawaban moral sebagai anak daerah dalam membenahi internal birokrasi.

Harus Legawa
Aktivis Linca, Syahrin Taalek berpendapat beda. Sindiran Syaifuddin dalam statemennya “baru kelihatan aslinya”, menurutnya tendensius. Bahkan sama dengan kaki pukul kepala. Yang mestinya dilakukan Pudin Muid adalah legawa sekaligus intropeksi diri. Apalagi setiap persoalan yang ditemui, pasti ada hikmahnya.
Memang kasus yang sedang melilit Pudin Muid tetap menjunjung praduga tak bersalah. Sebab kasus jual beli lahan di Desa Uso Kecamatan Batui itu masih dalam proses penyidikan Polda Sulteng, namun Pudin telah terjerat kasus hukum. Herwin Yatim sebagai Bupati tentu konsisten dengan sikapnya, ketika ada bawahannya terjerat hukum, maka langkah paling ideal yang diambilnya adalah menonjobkan.
Soal balas jasa yang disentil Pudin Muid juga disanggah fungsionaris Partai Demokrat Kabupaten Banggai ini. Herwin adalah politikus yang tahu berterima kasih. Sikap itu tercermin lewat reward jabatan yang diberikannya kepada Pudin Muid, mulai dari Staf Ahli hingga Sekdispora merangkab Plt Kadispora. Bahkan koleganya juga mendapat jabatan strategis.
Syahrin juga tidak sepakat jika nonjob Pudin Muid dianggap telah membunuh karir birokrasi anak daerah. Alasan Syahrin simple, Soffian Datu Adam sebagai pengganti Pudin Muid juga adalah anak daerah. “Sebaiknya Pudin ‘mohokot’. Sebab kata orang bijak, diam itu adalah emas,” tutup Syahrin. (yan)

About uman