Home » Berita Utama » Derita Warga Tanjung Belum Berakhir
Derita Warga Tanjung Belum Berakhir
Beberapa titik di area objek eksekusi terlihat tulisan-tulisan kekesalan yang ditujukan kepada pemerintah daerah. Seperti tulisan “Apa kabar bupati. Mana hati dan nuranimu”.

Derita Warga Tanjung Belum Berakhir

LUWUK – Derita warga korban eksekusi lahan seluas 6,4 hektar di komplek Tanjungsari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk belum berakhir pasca eksekusi.
Kali ini, warga khawatir dengan status lahan relokasi di Desa Bunga, Kecamatan Luwuk Utara. Lahan itu diklaim masih bermasalah. Pasalnya, lahan tersebut belum dilunasi, pembeli hanya memberikan uang muka.
Sejumlah warga khawatir suatu saat penggusuran akan terjadi apabila menempati lahan relokasi tersebut. “Kami heran, kenapa kami ditempatkan di lahan yang bermasalah. Ini artinya, tidak ada niat baik dari pemerintah daerah,” ujar seorang warga Tanjung, kemarin (10/5).
Padahal, kata dia, pemerintah daerah melalui Bupati Banggai Herwin Yatim, pernah berjanji akan menganggarkan lahan relokasi pada APBD 2017, tapi belum direalisasikan. Selain itu, Wakil Bupati Banggai Mustar Labolo, juga pernah menyatakan sebelum pelaksanaan eksekusi, pemerintah daerah sudah meninjau langsung lahan relokasi dan akan memberikan fasilitas kebutuhan dan penunjang perekonomian.
“Tapi kok justru bermasalah. Jangankan sediakan fasilitas dan penunjang ekonomi, lahan relokasi saja belum dilunasi. Kalau hanya bicara, burung Beo juga bisa,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, semenjak pelaksanaan eksekusi hingga kemarin, bupati dan wakil bupati, tidak pernah menginjakan kaki di atas lahan tempat warga Tanjung digusur. “Tidak pernah datang. Lebih baik pak Bali Mang, meskipun terlambat,” beber pria berkulit hitam itu.
Sebelumnya, pemilik lahan relokasi warga Tanjung secara terang-terangan melarang penggunaan beberapa bagian tanah relokasi. “Saya tidak benarkan warga menempati tanah relokasi, sebelum ada pelunasan,” sebut Ali Lasali, pemilik tanah relokasi di Desa Bunga, Selasa (9/5) lalu.
Menurut Ali, sudah ada uang muka yang pernah diberikan oleh pihak pembeli, namun nilainya tidak sesuai kesepakatan. Menurut Ali, pihaknya menyepakati penjualan lokasi dengan nilai jual per meter Rp 35 ribu untuk lahan luasan sekitar dua hektar.
Yang mengherankan, kata Ali, belum ada kesepakatan, pembeli sudah melakukan penggusuran. Sementara, di dalam lokasi itu masih ada tanaman kelapa sebanyak 200 pohon yang sudah berbuah. Akibat penggusuran itu, Ia mengalami kerugian. “Terpaksa kami sudah 6 bulan di 2 kali musim panjatan, tidak lagi menikmati hasil panen. Padahal setiap panen hasil kelapa bisa mencapai 8 hingga 10 karung,” terang keluh Ali.
Dikatakan, pihaknya tidak akan mengizinkan sebagian lokasi permukiman itu digunakan jika kesepakatan belum diselesaikan. Sementara itu, Kabag Ops Polres Banggai Kompol Margiyanta, mengungkapkan, sudah ada sekitar 75 dari 343 KK yang sudah terdaftar menempati blok blok yang disiapkan di lahan relokasi. Dari 75 KK itu, ada sekira 10 KK yang sudah mulai membangun rumah.
“Sementara pemerintah menyiapkan fasilitas air bersih dan aliran listrik,” paparnya, Selasa (9/5).
Selain itu, pemerintah daerah juga sudah menyiapkan posko, baik dari Dinas Sosial Kabupaten Banggai maupun Dinas Kesehatan. “Sudah ada bantuan juga yang disalurkan,” kata Margiyanta.
Amatan Luwuk Post, kemarin sore, masih ada warga yang bertahan di objek eksekusi. Meskipun harus tinggal di tenda-tenda darurat. Ada juga beberapa KK yang harus ‘nginap’ di dalam maupun area masjid yang terletak di dalam pelabuhan Luwuk.
Tak hanya itu, barang-barang warga masih dibiarkan menumpuk di tepi jalan. Hanya ditutupi terpal. Sementara ada sekira tiga posko yang didirikan di objek eksekusi. Posko ini bertujuan sebagai pusat informasi, menampung bantuan, serta dapur umum bagi warga yang masih bertahan di area objek eksekusi.

Jauh dari Sumber Mata Pencaharian
Korban eksekusi yang sehari harinya hidup sebagai nelayan bakal makin menderita pasca eksekusi. Selain belum memiliki tempat tinggal yang layak di areal relokasi, jarak antara permukiman dengan kawasan pantai cukup jauh. “Bagaimana kita bisa mencari kalau seperti ini keadaannya. Tempat tinggal dipikirkan, laut pun jauh dari kawasan pemukiman. Makin sulit,” keluh Hendrik, salah seorang warga Tanjung Sari di areal relokasi Desa Bunga, Rabu (10/5).
Kondisi ini terjadi disaat belum ada rencana dari pemerintah daerah untuk memerhatikan kondisi ekonomi masyarakat Tanjungsari yang berada di Desa Bunga.
Padahal sebagai nelayan, warga Tanjungsari bisa meraup pendapatan Rp 100.000 per hari. Penghasilan itu kata Hendrik dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari serta membiayai sekolah bagi anak-anak mereka.
Kondisi itu akan terasa mudah jika tempat yang disediakan berdekatan dengan mata pencaharian. Mereka berharap kepada pemerintah agar dapat memberikan perhatian khusus  agar mereka segera beraktivitas seperti biasanya. “Terpaksa ini kita tinggal mengharap perhatian. Beli material rumah saja kita sudah kesulitan. Karena sisa bangunan rumah sebelumnya sudah dirobohkan tanpa ada yang bisa diselamatkan lagi,” ujarnya.
Sementara anggota siaga bencana (Tagana) Dinas Sosial Kabupaten Banggai, Athar, yang bertugas di lokasi permukiman itu mengatakan, warga Tanjungsari yang telah melakukan aktivitas di areal relokasi sebagian besar yang antusias atas perhatian tersebut. Menurutnya, meski masih ada sorotan terkait relokasi, namun kondisi tersebut tidak merubah keadaan warga. “Bersyukur kondisi warga sampai saat ini dalam keadaan aman. Bahkan, aktivitas warga yang sedang melakukan pembangunan tempat tinggal berjalan dengan lancar,” pungkasnya. (awi/ir)

About uman