Home » Berita Utama » Kontraktor Impor Berjaya, Lokal Gigit Jari
Kontraktor Impor Berjaya, Lokal Gigit Jari
Jemmy Karaton dan Ismanto Tiadja

Kontraktor Impor Berjaya, Lokal Gigit Jari

LUWUK –  Setelah cukup lama dipendam, para kontraktor lokal akhirnya tak tahan terus-terusan mengatup bibir. Mereka mulai lantang soal banyaknya proyek-proyek daerah yang justru dikuasai para kontraktor nonlokal. Mereka menyebutnya kontraktor impor.
“Tak ada pemberdayaan terhadap kontraktor lokal. Saat ini yang dominan adalah kontraktor dari luar Kabupaten Banggai,” keluh salah seorang kontraktor, Jemmy Karaton, Senin (8/5).
Jangankan para pengusaha jasa konstruksi, Jemmy saja yang pasang badan pada pilkada 2015 lalu, harus berjuang sendiri untuk mencari proyek. Jemmy menceritakan satu pengalaman mirisnya.
Suatu saat, kata dia, dirinya menemui Sekretaris Dinas Perumahan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Banggai, Benyamin Pongdatu untuk memasukkan permohonan proyek. Tapi jawabannya, sejumlah proyek sudah dimiliki kontraktor luar daerah.
Tidak masalah lanjut Jemmy, ketika sejumlah proyek harus dikuasai kontraktor impor. Akan tetapi hasil pekerjaannya harus baik. Tapi fakta yang terjadi di lapangan, malah tidak sedikit proyek yang dikerja asal-asalan kemudian dikomplain masyarakat.
Jemmy mengaku, dulu ketika menjadi tim sukses Winstar (Herwin-Mustar) dia berandai-andai bisa diberdayakan lewat proyek yang ada di organisasi perangkat daerah (OPD). Tapi semuanya sia-sia, lantaran ketika berkuasa, Herwin Yatim malah memprioritaskan kontraktor luar.
Sekretaris Gapensi Kabupaten Banggai, Ismanto Tiadja tidak menepis kondisi memiriskan yang dirasakan para kontraktor lokal itu. “Iya, mamang sangat berbeda dengan pemerintahan Sofhian Mile. Saat itu banyak kontraktor lokal yang diperhatikan,” ucap Ismanto.
Yang lebih tak direspek Ismanto, sudah menguasai proyek-proyek besar, malah hasil kerjanya tidak optimal. Ismanto pun menyebutnya, diantaranya proyek ruas jalan Saluan-Tou dengan pagu Rp4,6 miliar dan proyek jalan Bakung-Ondo Ondolu yang menelan anggaran Rp8,6 miliar. “Saya yakin kontraktor lokal bisa mengerjakan proyek itu. Mengapa harus memberikan kepada kontraktor impor,” ucap Ismanto dengan nada kesal. (yan)

About uman