Home » Metro Luwuk » Eksekusi Diduga Melebihi Batas
Eksekusi Diduga Melebihi Batas
Sejumlah bangunan disapu rata alat berat exavator pada eksekusi lahan di komplek Tanjungsari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk pekan lalu. Eksekusi itu diduga telah melebihi luasan objek eksekusi.

Eksekusi Diduga Melebihi Batas

LUWUK– Pengadilan Negeri (PN) Luwuk sepertinya harus bertanggung jawab atas kerugian warga yang sudah membongkar rumahnya sendiri. Pasalnya, pelakasnaan eksekusi diduga sudah melebihi batas sesuai perintah amar putusan Mahkamah Agung (MA) RI.
Dalam putusan jelas menyebutkan, bahwa mengembalikan lahan seluas kurang lebih 6 hektar milik Berkah Albakar dalam keadaan kosong. Namun pada Sabtu pekan kemarin (6/5), pelaksanaan eksekusi terhenti setelah pemilik lahan yang mengatasnamakan ahli waris Rahim Musa, memboikot karena dianggap sudah melebihi batas eksekusi.
Setelah terhenti hampir 2 jam, dua alat berat exavator langsung balik kanan dan pergi meninggalkan lokasi yang diklaim milik Rahim Musa tersebut.
Dalam amar putusan MA RI, bahwa di sebelah timur dahulu berbatasan dengan tanah perempuan bernama Maasing dan perempuan Keling, sekarang berbatasan dengan tanah I Lanusa.
“Nah, yang dimaksud dengan I Lanusa itu adalah lahan milik Rahim Musa. Jadi, jika dieksekusi hingga masuk ke lahan Rahim Musa, maka sudah salah,” ujar seorang warga yang mendiami objek eksekusi, kemarin.
Meski begitu, warga tetap membongkar rumahnya. Sebab, di dalam peta eksekusi, wilayah Rahim Musa masuk dalam blok D pelaksanaan eksekusi. “Rumah kami juga dimasuki polisi dan tentara, yang menyuruh kami untuk membongkar sendiri. Kami sahuti, daripada dibongkar exavator,” katanya.
Meski demikian, nasib mereka akan ditentukan hari ini. Apakah digusur atau tidak. “Kalau tidak, ahli waris, polisi dan pengadilan harus ganti rugi. Kami bongkar sendiri, karena disuruh petugas keamanan dengan senjata lengkap,” tandas pria berkulit hitam itu.
Sementara itu, informasi yang dihimpun Luwuk Post menyebutkan, luas lahan yang sudah diekskusi diperkirakan sudah mencapai 8 hektar lebih. Padahal dalam amar putusan, hanya kurang lebih 6 hektar.
Hingga berita ini dikorankan, informasi tentang lanjutan pelaksanaan eksekusi masih simpang siur. Namun, empat alat berat yang biasanya parkir di depan kantor Kelurahan Karaton dengan penjagaan ketat petugas gabungan, kini tidak terlihat lagi.

Rawan Konflik Horizontal
Sabtu dini hari (6/5) sekira pukul 02.00 Wita, warga Tanjung yang masih bertahan di puing-puing bangunan, dikagetkan dengan kebakaran sebuah kos-kosan yang diduga milik Bhabinkabtibmas Kelurahan Karaton, Bripka Zamrut.
Kos-kosan itu hanya berjarak sekira 1 meter dengan rumah polisi tersebut. Beruntung, petugas pemadam kebakaran berhasil menjinakan api.
Amatan Luwuk Post di lokasi kebakaran, satu unit mobil pemadam kebakaran tiba sekira pukul 02.30 Wita. Meski demikian, si jago merah berhasil melalap habis kos-kosan yang terbuat dari beton tersebut.
Belum diketahui penyebab kebakaran. Namun ada beberapa pengakuan warga yang menyebutkan, bahwa sebelum terbakar, ada seorang lelaki bertopeng mendekati kos-kosan tersebut. Mereka melihat lelaki itu saat warga lainnya sedang mengangkat barang di malam hari. Tapi lelaki tidak terlalu jelas. Sebab, Tanjung dalam keadaan gelap gulita.
“Kami juga belum tahu. Tapi kami menduga, ini sengaja dibakar,” kata seorang warga yang namanya tak mau dikorankan.
Aksi pembakaran ini dilakukan, kata dia, karena pelaksanaan eksekusi dilakukan secara sepihak. Masih ada sejumlah rumah warga yang masih berdiiri kokoh di antara reruntuhan rumah warga lainnya. Termasuk rumah polisi. Kondisi ini yang mengundang rekasi warga. “Kok yang lain digusur, yang lain tidak. Jangan ada diskriminasi dalam eksekusi,” tandasnya.
Landasan hukum jelas menyebutkan, lahan sengketa harus dikembalikan dalam keadaan kosong. Kenapa masih ada yang tidak dieksekusi. “Kecemburuan sosial itu pasti ada. Akhirnya warga dengan warga akan konflik,” paparnya.
Ia mengharapkan, Pengadilan Negeri Luwuk dan pihak kepolisian harus bersikap adil. Jangan ada tebang pilih alias diskriminasi dalam eksekusi ini.(awi)

About uman