Home » Berita Utama » Tak Semua Bangunan Dieksekusi
Tak Semua Bangunan Dieksekusi
Sejumlah bangunan rata tanah usai diseruduk dua exavator yang digunakan dalam eksekusi lahan di Kompleks Tanjungsari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Kamis (4/5).

Tak Semua Bangunan Dieksekusi

LUWUK-Proses eksekusi lahan ternyata tidak menyeluruh. Kamis (4/5) kemarin beberapa rumah hanya dilewati tanpa disentuh alat berat. Kabarnya, karena telah terjadi kesepakatan antara pemilik bangunan dengan ahli waris.
“Itu karena sudah ada pembicaraan antara pemilik rumah dengan ahli waris. Kami hanya menjalankan tugas pengamanan dan soal mana yang dieksekusi atau tidak itu dari ahli waris dan PN,” terang seorang perwira Polres Banggai yang enggan dikorankan.
Tapi bagi sejumlah bangunan yang pemiliknya tidak menjalin komunikasi dengan ahli waris secara langsung terpaksa harus gigit jari, karena rumahnya digaruk tangan besi exavator. Dua alat berat yang terus bergerak itu membuat sejumlah bangunan rata tanah.  Pengawalan tim gabungan dari Polres, Brimob, TNI, Satpol PP dan Pemadam Kebakaran, membuat operator alat berat tak sungkan menjalankan tugasnya di lokasi objek eksekusi di Kompleks Tanjungsari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk. Alat berat terus meraung, sementara sejumlah warga hanya bisa menyaksikan bangunan-bangunan yang dirobohkan.
Kasubag Humas Polres Banggai, AKP Wiratno Apit menerangkan pada eksekusi pada hari kedua kemarin, tim telah membebaskan sekira 10 rumah dan dua gudang yang ada di objek eksekusi. Sementara sehari sebelumnya telah dieksekusi sekira 21 rumah.
“Jadi total warga yang sudah direlokasi itu ada 122 kepala keluarga. Sedangkan bangunan yang sudah tereksekusi berupa 31 rumah dan 2 gudang,” paparnya.
Amatan Luwuk Post, proses eksekusi terus mendapatkan pengawalan langsung dari Kapolres Banggai AKBP Benni Baehaki dan Kepala Satpol PP Yuten Koleba. Sesekali Kapolres menyambangi lokasi yang tengah dikeruk alat berat, kemudian balik lagi ke Kantor Kelurahan Karaton yang digunakan sebagai lokasi pemantauan proses eksekusi. Tak ada lagi perlawanan dari warga penghuni objek sengketa. Mereka hanya menatap sedih ketika bangunan-bangunan yang selama ini menjadi tempat bernaung diobrak abrik alat berat.

Harga Lahan Selangit
Terpisah, seorang warga yang direlokasi mengaku memilih pindah ketimbang berkomunikasi dengan ahli waris karena patokan harga yang diberikan tak terjangkau. “Saya sudah bicara tapi mereka kasih harga Rp2 juta per meter. Kalau harga segitu mending saya keluar saja,” ucap pasrah pria dengan rambut sebahu itu. Komunikasi dengan ahli waris menurutnya telah dilakukan beberapa kali, tapi harga tetap tak bisa dinego. Walhasil, mereka memilih pasrah dan mengemas barang lalu pergi.(van)

About uman