Home » Berita Utama » Isak Tangis Iringi Eksekusi
Isak Tangis Iringi Eksekusi
Puluhan rumah warga Tanjungsari, Kelurahan Keraton, Kecamatan Luwuk, Rabu (3/5), digusur menggunakan sejumlah alat berat. Pelaksanaan eksekusi lahan seluas 6,4 hektar, yang dikawal langsung oleh pihak Kepolisian, TNI hingga Satpol-PP Banggai itu, akan berlangsung secara bertahap.

Isak Tangis Iringi Eksekusi

LUWUK-Kesedihan tak bisa disembunyikan dari raut wajah warga yang mendiami objek sengketa Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Rabu (3/5). Itu setelah alat berat meruntuhkan bangunan dan pemukiman yang selama ini mereka diami. Selain sedih, tak sedikit warga terlihat panik dan kaget dengan aksi pembongkaran bangunan. Mereka seakan tidak percaya ketika melihat rumah yang ditinggali berpuluh-puluh tahun akhirnya rata tanah. Meski tak terima, warga hanya bisa pasrah.
Tak sedikit dari mereka meneteskan air mata ketika perabot rumah dikeluarkan sejumlah buruh bayaran.  Namun, tangisan tak menghentikan alat berat yang terus meraung meluluhlantakan pemukiman padat penduduk itu.
Para buruh bayaran berpakaian biru, kuning dan merah, keluar masuk rumah warga untuk membantu pengosongan. Kasur, lemari, pakaian, serta barang berharga lainnya dikeluarkan paksa.
Tangisan warga mengiringi keganasan alat berat merobohkan bangunan kokoh dari tembok berlantai dua. Saking sedih, seorang warga memaksa masuk ke dalam reruntuhan rumahnya, meskipun alat berat masih bekerja. Beruntung aksi itu langsung dihadang petugas gabungan, dan ditenangkan warga lainnya. “Kenapa kamu kasi hancur sa pe rumah model bagitu. So talalu memang,” teriak histeris perempuan yang ditahan karena hendak masuk ke puing-puing rumahnya.
Begitu juga saat baket alat berat akan menghancurkan rumah warga di depan pelabuhan Luwuk, petugas gabungan dan warga setempat masih menyelamatkan orang sakit yang terkapar di kamar tidur. “Jangan dulu dibongkar. Ada orang sakit di dalam, mau dikeluarkan dulu,” teriak warga untuk menghentikan alat berat. Tapi setelah dikeluarkan, rumah pun tinggal kenangan dalam hitungan menit.
Sebelumnya, eksekusi lahan seluas 6 hektar ini sempat dihadang warga. Mereka membakar ban bekas dan memblokade jalan, tepat di depan kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Banggai. Namun, aksi itu terhenti setelah petugas gabungan diturunkan berlapis. Emosi warga mereda. Mereka kembali ke rumah masing-masing untuk berkemas karena exavator dan buldoser mulai dikerahkan.
Perlawanan itu dilakukan warga saat Pengadilan Negeri Luwuk membacakan amar putusan Mahkamah Agung RI dan berita acara pelaksanaan eksekusi di depan kantor Kelurahan Karaton.
Eksekusi yang berlangsung hingga sore kemarin, sudah meratakan 14 rumah permanen dan 7 rumah darurat. Hari ini (4/5), eksekusi kembali dilanjutkan.
Hingga berita ini dibuat, sekira pukul 21.00 Wita, warga yang mendiami objek eksekusi masih sibuk mengumpulkan sisa harta benda. Mobil truk pengangkut berlalu lalang. Hampir di setiap sudut objek eksekusi terlihat tumpukan perabot warga. Di sisi lain, tepat di seputaran kantor Kelurahan Karaton, dua tenda polisi sudah terpasang. Puluhan petugas gabungan terlihat mondar mandir untuk memastikan keamanan tetap kondusif.

PN Luwuk Bacakan Putusan MA
Pengadilan Negeri Luwuk melalui Panitera Drs Abd Maujud Mansur SH, membacakan amar putusan Mahkamah Agung (MA) dan berita acara eksekusi sebelum pelaksanaan eksekusi lahan seluas 6,4 hektar di kompeks Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk.
Pembacaan ini didampingi Kapolres Banggai AKBP Benni Baehaki Rustandi, Dandim 1308 Luwuk Banggai Letkol Inf Sapto Irianto, Kasat Pol PP Yuten Koleba, dan Mustafa Pattiwael SH, selaku kuasa hukum ahli waris Berkah Albakar, di depan kantor Kelurahan Karaton, pagi kemarin.
Berita acara eksekusi dengan nomor 02/BA.Eksekusi.Pdt.G/1996/PN Luwuk, menyatakan, Panitera Pengadilan Negeri Luwuk Drs Abd Maujud Mansur SH, selaku juru sita ditunjuk dan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri Luwuk, dengan surat penetapan tanggal 27 April 2017 nomor 02/Pen.Pdt.G/1996/PN Luwuk, telah datang di lahan yang menjadi sengketa dalam perkara ini yang terletak di Tanjung Tumpu, Kelurahan Tumpang (sekarang Kelurahan Karaton), Kecamatan Luwuk, untuk melaksanakan putusan Mahkamah Agung RI nomor 2351 K/Pdt/1997 tanggal 02 Juni 1999, dikuatkan dengan putusan Peninjauan Kembali (PK) nomor 655 PK/Pdt/2000 tertanggal 13 Oktober 2003.
Keputusan ini berkekuatan hukum tetap (inkrah) dalam perkara antara Hadin Lanusu dkk disebut sebagai tergugat intervensi, Husen Taferokila disebut sebagai tergugat intervensi, dan Berkah Albakar sebagai penggugat intervensi (sekarang pemohon eksekusi).
Dalam amar putusan Mahkamah Agung RI nomor 2351 K/Pdt/1997 tanggal 02 Juni 1999, disebutkan, bahwa lahan sengketa itu dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara; dahulu dengan teluk Luwuk, sekarang berbatasan dengan tanah pemerintah daerah dan kompleks gudang Dolog, Timur; dahulu dengan tanah perempuan bernama Maasing dan perempuan Keling, sekarang berbatasan dengan tanah I Lanusa, Selatan; dahulu dengan Jurame, sekarang jurang, dan Barat; dahulu dengan kebuh pandan dan hutan lolaro (mangrove-red).
Dalam batas-batas itu, disebutkan bahwa lahan sengketa ini adalah milik Berkah Albakar. Dan putusan menegaskan agar mengembalikan lahan sengketa dalam keadaan kosong.(tim)

About uman