Home » Berita Utama » Selamat Datang Buruh Nonlokal
Selamat Datang Buruh Nonlokal
Pekerja PT GTA saat mendengar penjelasan dari seorang personil Polsek Batui, ketika menggelar aksi mogok kerja di lokasi proyek di Desa Uso, Kecamatan Batui, Selasa (2/5). Mereka menuntut perusahaan membayarkan pesangon.

Selamat Datang Buruh Nonlokal

LUWUK – Dialog pada peringatan hari buruh atau may day seperti menelanjangi berbagai masalah di bidang ketenagakerjaan. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) dianggap tak mampu membendung dugaan kongkalingkong terkait perekrutan tenaga kerja.
Informasi yang diterima Luwuk Post Maret lalu, terdapat  tenaga kerja dari luar Kabupaten Banggai yang masuk secara diam-diam. Mereka diduga bekerja di  PT Wijaya Karya (Wika) di Desa Nonong, Kecamatan Batui.
Buruh-buruh itu dimasukan pada malam hari. Bahkan, tanpa pengawalan dari pihak terkait. Saat wartawan Luwuk Post mengkroscek data pekerja dari luar daerah, justru tidak dikantongi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. “Saya tidak bisa bilang itu ilegal, mungkin naker (tenaga kerja) itu dimutasi ke Kabupaten Banggai,” kata Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Suwitno Abusama. “Saya baru bertugas 3 bulan di Disnakertrans (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi). Karena itu, saya akan sedikit memaksa ke perusahaan agar intens memasukan laporan data naker ke Disnakertrans,” tegasnya.
Kala itu, gara-gara pekerja dari luar daerah belum dipulangkan, pekerja lokal yang di-PHK PT Wika bereaksi. Bahkan, mereka mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap pemerintah dan perusahaan.
Melihat reaksi dan desakan dari pekerja lokal, barulah manejemen PT Wika memulangkan pekerja dari luar daerah tersebut. “Kami akan pulangkan mereka secepatnya. Sebagian sudah dipulangkan, yang tersisa masih 90-an orang saja,” kata Kepala Humas PT Wika, Agusriyandi, Senin (13/3).
Agusriyandi mengatakan,  pekerja yang didatangkan dari luar daerah itu mempunyai keahlian (skill). “Kami rasa mereka (pekerja dari luar daerah) punya skill,” katanya. Namun, kondisinya justru berbeda. Alih-alih hebat, pekerja dari luar daerah itu malah ada yang menjadi tukang cat. Pekerjaan yang bisa dilakoni pekerja lokal. Lulusan Sekolah Dasar (SD) sekalipun.
Soal pekerja luar daerah yang dimasukan malam hari, Agusriyandi beralasan pesawat tiba sore hari, lalu disiapkan transportasi bus. Sehingga masuk ke area proyek pada malam hari. “Masuk malam karena pesawat landing sore,” katanya.
Kepada Luwuk Post, Ketua DPC SBSI Kabupaten Banggai, Ismanto Hasan, membeberkan, di area perusahaan migas memang banyak pekerja dari Pulau Jawa. Yang menurut klaim pihak perusahaan memiliki skill. “Padahal sama dengan kita, sekop dan bengko-bengko kawat,” beber dia di hadapan para pejabat daerah saat dialog may day, Selasa (1/4). “Alasan perusahaan anak daerah tidak punya skill, itu hanya teori pembenaran,” sambungnya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Usmar Mangantjo membantah hal itu. “Ada tenaga kerja kiriman, tapi itu yang (punya) skill,” terangnya.
Mirisnya lagi, di tengah “euforia” dialog may day, informasi yang diterima Luwuk Post, terdapat perusahaan di Kecamatan Batui yang tetap beraktivitas. Padahal, sudah jelas momen tersebut hari libur internasional. “PT Puspetindo dan PDP tetap beraktivitas di hari buruh,” ucap Ketua SBSI Kecamatan Kintom, Anto, kepada Luwuk Post.
Anto juga ternyata melaporkan masalah itu kepada Wakil Bupati Mustar Labolo.  Mustar berinisiatif memanggil perusahaan yang memekerjakan  buruh di may day. “Nanti minta menghadap bupati,” kata politikus Demokrat itu.

Pekerja PT GTA Mogok Kerja
May day baru berakhir. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Usmar Mangantjo juga masih semringah karena berhasil meredam demonstrasi. Namun, masalah ketenagakerjaan sudah terjadi. Kemarin (2/5), aktivitas PT Guna Teguh Abadi (GTA), di Desa Uso, Kecamatan Batui, berhenti sementara. Ini akibat ratusan pekerja yang menuntut pembayaran uang pesangon, melakukan aksi mogok kerja.
Informasi yang dihimpun Luwuk Post menyebutkan, pekerja menginginkan agar PT GTA segera membayar uang pesangon atas tindakan PHK sepihak yang dilakukan, tanpa ada rekomendasi dari PHI.
Bahkan, pekerja meminta agar sistem pembayaran uang pesangon harus sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Terlebih khusus yang diatur dalam pasal 164. “Iya, karyawan PT GTA mogok kerja. Mereka menuntut pembayaran uang pesangon,” ungkap Kapolsek Batui Iptu Andi Syamsuri.
Dikatakan, manajemen PT GTA masih menunggu penjelasan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banggai. “Masih menunggu pihak Disnakertrans (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) untuk memberikan penjelasan,” katanya.
Perlu diketahui, aksi menuntut pembayaran uang pesangon tak hanya sekali ini. Beberapa bulan sebelumnya, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dibuat panik saat mengantisipasi amarah buruh.
Buruh merasa selama ini pihak perusahaan melakukan pembodohan terhadap masyarakat, terkait cara PHK yang dianggap tidak benar. Sebab, dalah Undang-undang Ketenagakerjaan sudah cukup jelas, bahwa tenaga kerja di-PHK harus berdasarkan rekomendasi dari Perselisihan Hubungan Industrial (PHI).
Jika PHK tidak memenuhi prosedur, maka perusahaan wajib membayar hak-hak pekerja dua kali lipat. Kondisi inilah yang membuat para tenaga kerja selalu ‘ngamuk”, dan terus menuntut hak-haknya. Sebab, para tenaga kerja menganggap, pihak perusahaan melakukan PHK secara sepihak. (awi/ali)

About uman