Home » Berita Utama » Oskar Ngaku Ditinggal Golkar
Oskar Ngaku Ditinggal Golkar
Oskar Paudi

Oskar Ngaku Ditinggal Golkar

LUWUK-Oskar Paudi merasa ditinggal Partai Golkar yang dulu rapat  dengannya. Itu setelah dia benar-benar kehilangan kursi Ketua Komisi II DPRD Banggai.
Kemarin, DPRD Banggai melakukan perombakan penguasa alat kelengkapan dewan (AKD).
Dalam perombakan itu pula Oskar Paudi tergusur.
Sebenarnya tergusurnya Oskar Paudi telah diperkirakan sebelumnya. Kini benar-benar PDI Perjuangan melakukan aksi sapu jagad.
Posisi Ketua Komisi II yang semula diduduki Oskar Paudi, kini dikuasai Suprapto, politisi PDI Perjuangan.
Menariknya, kerabat Oskar Paudi yakni Evert Kuganda yang juga Ketua Partai Demokrat Banggai, terdepak dari kursi Ketua Badan Legislasi (Baleg). Posisi itu kini diberikan kepada Zainudin politisi partai berlambang banteng moncong putih.
Oskar agaknya tidak terlalu berlebihan ketika merasa ditinggal Golkar. Pasalnya partai berlambang pohon beringin rindang itu adalah pemilik mayoritas kursi di gedung DPRD.
Oskar mengatakan, pada pemilihan AKD lalu dirinya mendapat sokongan kuat dari Golkar. Kini dia tidak tahu mengapa Golkar tidak mempertahankannya.
“Tapi tidak apa, politik memang begitu,” kata Oskar.
Berbeda dengan Eevert Kuganda, yang semula diperkirakan mendapat sokongan dari PDI Perjuangan tapi pada kenyataanya tidak. Agaknya PDI Perjuangan memutus kontrak persahabatan politik dengan Demokrat?
Hingga berita ini diturunkan memang belum terdapat kepastian apakah Demokrat – PDI Perjuangan picah kongsi? Namun yang pasti, jika Evert Kuganda masih tetap disokong PDI Perjuangan tentu kursinya masih bisa dipertahankan. Setidaknya demikian pemikiran masyarakat.
Pemilihan unsur pimpinan AKD DPRD Banggai diwarnai banyak skorsing. Tersingkirnya Oskar Paudi dan Evert Kuganda tampaknya merupakan peristiwa paling menarik dalam agenda para wakil partai tersebut.
Otomatis, setelah terdepak sebagai unsur pimpinan AKD, fasilitas yang semula diberikan kepada Oskar Paudi dan Evert Kuganda pun bakal ditarik.
Fasilitas itu misalnya kedaraan dinas DN 20 C yang semula dipegang Oskar Paudi bisa saja dipindahkan ke Suprapto. Demikian pula mobil dinas DN 25 C yang semula dikendarai Evert Kuganda dapat saja sewaktu-waktu ditarik lalu diberikan ke Zainuri.
Kini setelah terdepak dari posisi pimpinan AKD, apakah Oskar Paudi dan Evert Kuganda bakal menyusun ‘barisan sakit hati’ dan membentuk koalisi sekaligus oposisi? Kita lihat saja nanti. (RN)

About uman