Home » Berita Utama » Hasil Panen Terus Merosot
Hasil Panen Terus Merosot
Salah seorang petani di Desa Hunduhon, Kecamatan Luwuk Timur mengeringkan padi hasil panen di lantai jemur milik seorang pengusaha penggilingan padi, Sabtu, (18/3). Hasil panen di Kabupaten Banggai sejak tahun 2013 hingga tahun 2015 terus mengalami penurun.

Hasil Panen Terus Merosot

LUWUK TIMUR – Hasil panen padi sawah di Desa Hunduhon, Kecamatan Luwuk Timur, menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak menentu yang mengakibatkan sawah-sawah di wilayah tersebut mengalami kekeringan.
Seorang petani setempat, Suwarno, mengatakan, hasil panen tahun ini rata-rata hanya menghasilkan gabah basah 4 hingga 5 kuintal per hektar. Sedangkan tahun lalu, masih bisa mencapai 5 hingga 6 kuintal per hektar.
Selain itu, kata Suwarno, suplai air dari irigasi di Desa Pohi tak cukup mengairi seluruh sawah di Luwuk Timur. Akibatnya, padi sempat layu. Bahkan, ada petani yang harus menyemai ulang benih padi. “Tahun ini umumnya hasil panen bisa disebut menurun dibanding panen-panen sebelumnya,” katanya.
Kekurangan air irigasi berdasar data Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, yakni mencapai 6.000 hingga 8.000 liter per detik  dari total 24.513 hektare sawah. Belum lagi jika ditambah dengan kebutuhan air di lahan sawah yang baru saja dicetak tahun 2016 lalu. Jadi, jumlah air irigasi hanya 18 ribu liter per detik.
Terkait hasil panen, merujuk data BPS Kabupaten Banggai, tahun 2015 lalu produksi padi sawah dan padi ladang di Kabupaten Banggai masih menembus 170,953,6 ton. Angka ini menurun jika dibandingkan produksi tahun 2014 yang menembus 182.549 ton dan tahun 2013 yang mencapai 176.480 ton.
Sementara itu, di Desa Tirtasari, Kecamatan Toili dilaporkan, para petani terus mencari strategi agar hama tikus tak lagi menggerogoti padi. Sebab, jika dibiarkan akan terjadi gagal panen. “Yang punya sawah menunggu tetangganya nanam duluan. Setelah rentan waktu dua atau tiga pekan baru mereka itu mulai tanam, biar hama tikus itu tidak serang sawah mereka karena sudah masuk di sawah tetangganya yang sudah lebih awal nanam,” jelas salah seorang petani setempat.
Hanya saja, jika proses penanaman lambat, pemilik sawah harus mengeluarkan dana lebih untuk membeli antihama. Sebab, hama seperti kupu-kupu akan menggerogoti lagi padi yang belum panen. ”Hama lainnya, macam kupu-kupu, belalang dan lainnya itu akan lari ke sawah yang belum panen, itu yang buat biaya perawatan lebih mahal,” pungkasnya.
Di tengah merosotnya produksi padi, petani belum didukung dengan infrastrutkur yang memadai.  Petani padi ladang di Desa Singkoyo, Kecamatan Toili misalnya, mereka membutukan perhatian pemerintah daerah untuk membangun jalan.  Kepala Desa Singkoyo Ambring Ayung mengatakan, sekira 40 petani padi ladang di Dusun Bintani, membutuhkan akses jalan menuju lahan garapan. “Kalau mau ke ladang, mereka harus jalan kaki naik ke gunung itu, lumayan tinggi lagi,” kata Ambring, belum lama ini.
Dia berencana, dengan adanya APBDes ini, tahun ini pihaknya akan membuat semcam  jalan usaha tani untuk para petani padi ladang. “Ini penting juga. Apalagi kualitas beras dari hasil padi ladang lebih disukai para konsumen karena rasanya lebih enak dari beras lainnya,” tuturnya. (ir/um/tr-57)

About uman