Home » Berita Utama » Ke Amerika, Belajar Smart City dan Kebudayaan (4)
Ke Amerika, Belajar Smart City dan Kebudayaan (4)
Pemandangan pantai kota San Diego (kiri) dan wartawan koran ini di atas geladak USS Mid Way yang menjadi salah satu destinasi wisata paling keren di sana.

Ke Amerika, Belajar Smart City dan Kebudayaan (4)

Kota-kota di Timur USA memiliki ciri khas hispanik yang cukup kuat. Di sana, warga kulit putih dan Amerika latin berisimilasi dengan baik. San Diego salah satunya. Kota eksotik, surga bagi para traveler. Berikut liputan wartawan Luwuk Post, Herdiyanto Yusuf

DARI ujung gagang telepon, Mark Rebstock, Program Officer Meridian Internasional (MI) menanyakan kabar saya. “Selama di Amerika, kota mana yang paling kau sukai?” tanya pria yang postur dan wajahnya mirip Roger Moore, salah satu pemeran serial televisi bergendre spionase, James Bond, 007 itu. Spontan saya menjawab: San Diego!.
Mark yang saat itu didampingi Nicholson B. Geisinger Program officer dari United State Departement Of State (Deplu) kontan tertawa. “Ya, hampir semua orang yang sudah ke San Diego selalu mengatakan seperti itu,” katanya, meyakinkan. Mark adalah official dari MI yang mengatur program saya dan tiga kawan saya dari Indonesia. MI sendiri adalah lembaga nonpemerintah yang sudah puluhan tahun mengurus para pengunjung internasional yang datang ke USA dengan undangan dan biaya full dari  departement of state. Saya berkesempatan ke USA lewat program kunjungan internasional yang dilabeli: Internasional Visitor Leadership Program (IVLP). Dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti; kunjungan internasional bagi para calon pemimpin.
Ini program yang sudah lama digeber pemerintah USA, sudah puluhan tahun. Ratusan pemimpin dunia dan daerah yang tercatat sebagai alumni program ini. Antaranya para mantan perdana menteri, Tony Blair (Inggris), Paul Keating (Australia), Mahathir Mohamad (Malaysia) serta mantan Presiden Filipina, Gloria Macapagal Arroyo. Di Indonesia ada nama-nama beken seperti Megawati, almarhum Gusdur, serta Ahok. Ini tidak terhitung orang-orang yang pernah dan sedang menduduki kabinet serta ratusan pemimpin lokal; gubernur, bupati, politikus serta pemimpin lembaga swasta dan NGO. Tapi ini tidak berarti, semua alumni IVLP diorientasikan untuk jadi pemimpin formal.
Saya beruntung bisa ikut serta dalam program selama empat minggu di Amerika ini, dan setidaknya menjejakkan kaki di sembilan negara bagian di sana.
Tapi secara resmi, saya hanya memiliki program di tiga negara bagian, yakni North Carolina, Ohio dan California. Tentu saja tidak termasuk Washington DC. Kota terakhir, meski adalah jantung negeri Paman Sam, tapi secara administrasi bukan negara bagian. Seperti sudah saya ulas di beberapa segmen tulisan ini, ke USA saya dan tiga kawan dari Indonesia mengikuti progam yang sama yakni melihat dari dekat konsep dan penerapan smart city: livable dan sustainable city di kota-kota besar dan menengah di Amerika. Juga, tentu saja, sesekali menyelami budaya western dengan pendekatan yang lebih halus, culture experience.
Saat Mark menelepon, saya telah menyelesaikan hampir seluruh program di negara bagian terakhir, California. Tentu saja tidak seluruh kota di negara bagian yang pernah dipimpin mantan aktor Hollywood, Arnold Schwarzenegger ini. Hanya San Diego dan beberapa kota sekitarnya yang masih di bawah county itu. Karena itu, ketika Mark bertanya, kota apa yang paling saya senang, saya bisa dengan lancar dan lugas menjawabnya, San Diego.
Lalu, kenapa San Diego? Kota ini menurut saya lebih komplit untuk belajar tentang Amerika. Tentang gaya hidup, asimilasi budaya, otonomi daerah, inisiatif lokal, pariwisata dan tentu saja semangat perlindungan sumber saya alam. Yang terakhir, negara bagian ini bisa dibilang paling ketat regulasi lingkungannya. San Diego merupakan perpaduan kota wisata dengan citarasa hispanic dan westernya serta kota modern yang fururistik. Seolah-olah seperti Bali dengan pariwisatanya, tapi (juga) seperti New York dan Los Angeles soal gaya hidupnya. Dengan pantainya yang berkilo-kilo meter dan suhu laut yang tidak begitu dingin meski di saat winter, kota di bagian Selatan California ini menjadi salah satu tempat liburan paling favorit di dunia. Dari Asia, turis Jepang dan China paling dominan di sini. Bahkan turis domestik masih saja betah, meski sudah berulang kali ke sana.
“Saya sudah beberapa kali ke sini, tapi tidak pernah bosan untuk terus ke sini lagi,” ujar Shawn Callanan, warga Ventura, yang lahir dan besar di Sacramento, California ini. Selain kotanya yang eksotik, Shawn rupanya memiliki alasan lain menyukai tempat ini. “Di sini banyak ragam bir lokal yang enak,” kata Shawn sambil terkekeh, sedikit bercanda. Jawaban lebih serius kata Shawn, kota ini menyediakan banyak hal yang menarik bagi para pelancong. Taman laut serta Old Town yang merupakan tempat pemukiman asli para pendatang dari Spanyol mungkin bisa sangat menarik. Bahkan yang menyukai panorama pantai, tak akan pernah bosan menyusuri bibir pantai di Marina Park, yang berkilometer panjangnya, lengkap dengan port-port di mana kapal pesiar dari yang sederhana hingga paling mewah hingga yacht berbagai ukuran berlabuh. Panorama pantai itu makin lengkap dengan kapal-kapal perang yang hilir mudik di teluk San Diego. Kota pantai ini memang menjadi pangkalan angkatan Laut Amerika dan Corps Marinir. Sebuah bekas kapal Induk Amerika, USS “Mid Way” malah sudah dimuseumkan di teluk itu dan menjadi destinasi wisata paling laris. Saya berkesempatan naik ke sana dan menyusuri hampir seluruh sisi geladak dan lambung kapal. Suasana teluk  San Diego itu mirip salah satu pangkalan armada USA di Jepang, Yokoshuka. Saya juga pernah ke sana pada tahun 2005 silam atas undangan pemerintah Jepang. Tapi, saya pikir teluk San Diego lebih komplit dibanding kota di pinggiran Kota Tokyo itu.
Tapi yang menjadi salah satu kebanggan orang San Diego adalah Taman Balboa. Taman kota yang mungkin saja paling besar di Amerika ini terintegrasi dengan kebun binatang yang sangat luas dan memiliki koleksi binatang paling komplit di USA. Sekali masuk, kita bisa menikmati banyak hal. Bisa sambil menikmati kuliner, berburu handycraft menyaksikan pameran, mengaso di taman atau bermain-main dengan berbagai jenis hewan.
Belakangan saya baru menyesal, ketika senjakala di bibir pantai San Diego, dua gadis mendekati saya yang tengah duduk menikmati pemandangan lepas. Mereka berdua meminta bantu difoto. Saya menggunakan kesempatan itu untuk memerkenalkan diri lalu bertanya-tanya. Darimana mereka? Oh, rupanya kedua penduduk asli San Diego.  “Sudah ke Bilboa Park?” tanya keduanya kompak. Saya mengiyakan. “Ya, belum ke San Diego kalau belum ke sana. Bagaimana pendapatmu soal taman itu?” Saya menjawab sekenanya. “Iya, sangat menarik, hehe”.
Dalam hati agak menyesal, tidak mengekplorasi lebih dalam saat ke taman itu, kemarin. Karena tidak begitu fit, saya hanya masuk museum artnya, mengantre makanan khas Meksiko lalu duduk di taman sambil mengamati para pelancong dengan wajah-wajah semringah. Ah, sayang sekali!(*)

About uman