Home » Berita Utama » Distribusi Timpang, IPM Bisa Turun
Distribusi Timpang, IPM Bisa Turun
Musdar M. Amin

Distribusi Timpang, IPM Bisa Turun

LUWUK – Ketimpangan distribusi guru belum juga bisa teratasi.  Penyebaran yang hanya menumpuk di sekolah dalam kota, menyebabkan desa-desa terpencil kekurangan tenaga pengajar. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpotensi menurun jika lambat bergerak mengatasi masalah yang sudah menahun itu.
Merujuk data BPS Kabupaten Banggai tahun 2015-2016, untuk guru SD misalnya, di Kota Luwuk jumlahnya mencapai 444 orang, sementara di Kecamatan Toili Barat hanya 182 orang, di Kecamatan Lobu hanya 33 orang.
Di tingkat  SLTP, di Kota Luwuk menembus 154 orang. Sedangkan di Kecamatan Bunta hanya 75 orang. Kemudian untuk tingkat SMA, jumlah guru di Kota Luwuk  mencapai 148 orang, sementara di Kecamatan Toili hanya 56 orang.
Kondisi ini membuat sejumlah pihak meminta pemerintah daerah mengambil langkah cepat dan tepat. “Persoalan seperti ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Penyebaran guru harus sesuai dan merata hingga ke desa desa terpencil,” ujar Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Farid Haluti, belum lama ini.
Menurut Farid, IPM di Kabupaten Banggai tidak hanya dihitung di dalam kota saja, tapi juga di daerah-daerah terpencil. Buruknya IPM di suatu daerah tidak hanya disebabkan oleh tingkat kemiskinan, kesehatan atau lingkungan yang buruk, tetapi juga tertinggal dalam hal pendidikan. “Hal itulah yang kemudian memberikan kontribusi menurunnya IPM di daerah ini. Sebenarnya daerah ini tidak kekurangan guru. Hanya saja pendistribusiannya saja yang tidak merata,” katanya.
Karena itu, ketegasan pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk menginvetarisir para guru. Mereka yang berasal dari desa-desa terpencil harus dikembalikan ke asalnya, sehingga pendistribusian bisa merata dan tidak hanya tertumpuk dalam kota. “Tapi ketegasan itu tidak ada. Padahal, salah satu persyaratan untuk menjadi guru PNS itu bersedia untuk ditempatkan dimana saja. Komitmen itu harus diperjelas. Jika tidak, persoalan seperti ini akan terus menerus terjadi,” jelas Rektor Unismuh Luwuk itu.
Senada dengan Farid, Akademisi yang juga Rektor Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, Musdar M. Amin, berpendapat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus merencanakan penempatan guru. ”Jika perlu, lakukan evaluasi tentang keberadaan atau penempatan guru di kota maupun di desa-desa terpencil,” katanya.
Dengan evaluasi akan ditemukan kesenjangan terkait jumlah guru yang ada di kota dan desa terpencil. Kesenjangan yang ditemukan akan menjadi bahan rujukan perencanaan penempatan guru ke depan. “Persoalan ini terjadi karena tidak ada perencanaan penempatan guru. Kalau terencana tidak akan seperti ini,” jelasnya.
Dia menilai, proyek pembangunan infrastruktur di sekolah mesti diimbangi dengan perencanaan penempatan guru “Ini akan sangat berpengaruh pada tingkat intelektual masyarakat desa yang minim tenaga gurunya. Seharusnya, Dinas pendidikan saat ini sudah mulai bergerak untuk melakukan perencanaan penempatan guru tersebut,” terangnya. (and)

About uman