Home » Berita Utama » Bumikan Mural, Tekan Kejahatan dan Raup Keuntungan
Bumikan Mural, Tekan Kejahatan dan Raup Keuntungan
Ini pemandang kota Cincinnati dari atas perbukitan di kota lama. Topografinya mirip Luwuk.

Bumikan Mural, Tekan Kejahatan dan Raup Keuntungan

Aktivitas seni menjadikan Kota Cincinnati di Ohio sebagai salah satu kota paling trendi di USA. Belum lama ini, wartawan Luwuk Post, Herdiyanto Yusuf, berkunjung ke sana, berikut liputannya

FADRIAH, kawan saya asal Ternate, Maluku Utara seperti menemukan dunianya. Pelukis yang juga pegiat pariwisata ini langsung berselancar di tengah puluhan lukisan yang terpajang di salah satu bengkel seni di pusat Kota Cincinnati. Matanya terus menyapu seisi ruangan yang memamerkan beragam model lukisan kontemporer. Sesekali dia berkomentar, menjelaskan arti lukisan dan memberikan poin sekenanya.
Jumat malam itu, saya bersama Fadriah, Randy Lamadjido dari Palu serta Yoga Adiwinarto (Country Director Intitute for Tranportation and Development Policy, Jakarta) yang baru saja tiba dari Colombus, sengaja datang ke 14th street untuk menyaksikan pameran lukisan yang berjejer di beberapa bengkel seni di kawasan itu. Jadilah, saya  dan dua kawan lainnya yang tidak begitu paham seni lukisan terbengong-bengong menyaksikan Fadriah kemasuk dalam dunianya.
Meski sama-sama berada di negara bagian Ohio, Kota Cincinnati memang kontas dengan Colombus yang terkesan kaku. Kota yang namanya diadaptasi dari Jendral Romawi, Cincinnatus ini benar-benar dibangun di atas filosofi seni yang tinggi. Ini didukung oleh topografinya yang berbukit-bukit. Kata orang sana, Like Rome; dibangun di atas tujuh bukit yakni Mount Adams, Walnut Hill, Mount Auburn, Vine Street Hill, College Hill, Fairmount dan Mount Harrison.
Downtownnya, tepat di bibir sungai Ohio yang memisahkan kota ini dengan negara bagian Kentucky—saat senja, dari hotel saya di Kentucty, Kota Cincinnati terlihat seperti gadis malam yang memesona.
Sementara kota lamanya berada di punggung-punggung bukit yang luas. Dalam beberapa hari ke depan, saya berkesempatan mengitari kota lamanya di sekitar wilayah Northside. Melihat kampus-kampus dengan bangunan artistik dan komplek rumah-rumah kuno yang diperkirakan berdiri sejak 1800an. Mayoritas bangunannya tetap terjaga. “Tapi ini sudah banyak ditinggalkan, umumnya rumah ini sudah disewakan kepada para mahasiswa dengan harga kontrak yang lumayan tinggi,” Becky Linhardt menjelaskan. Artis sekaligus fotografer ini sengaja mengajak saya ke sana Minggu sore untuk melihat cantiknya desa-desa “kuno” yang mengitari kota Cinninnati. Dia kebetulan tinggal di daerah itu. Malamnya, dia lalu mengajak makan malam di apartemennya yang dijejali berbagai karya seni, fotografi, lukisan hasil karyanya sendiri. Becky kelihatannya betah tinggal di kota dengan segudang senimannya ini. Juga banyak gedung theater modern yang memiliki skedul pertunjukan. Suatu malam saya dan tiga rekan ikut antre membeli tiket pertunjukan. Kami harus beli sehari sebelumnya agar tidak keburu habis. Ribuan penonton ternyata memadati aula utama teater dengan tiga balkon yang luas. Padahal tiketnya lumayan mahal. Paling murah seharga USD65 atau sekira Rp800 ribu.
Citarasa seni yang tinggi di Kota Cincinnati juga didukung oleh seni mural yang menghiasi hampir seluruh sudut kota. Kelihatannya, Cincinnati memang didesain menjadi kota seni yang futuristik. Seni bahkan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di sana. “Kegiatan seni di kota ini telah memberikan keuntungan ekonomi yang luar biasa bagi kota ini,” aku Colleen O’Connor, Office Manager di Art Work. Ini organisasi nirlaba yang fokus bergerak di bidang seni kota. Mereka mendorong munculnya banyak komunitas seni lokal. Mereka juga mendidik banyak anak-anak dari komunitas marginal untuk menjadi seniman. “Banyak yang sudah sukses dan sekarang malah menjadi mentor bagi anak-anak yang lain.
Lahirnya, seni Mural di seluruh penjuru kota Cincinnati juga tidak terlepas dari peran Art Work. Mereka tidak didanai pemerintah. Umumnya berasal dari donasi dan sponsor perusahaan-perusahaan lokal. Untuk membuat mural, harus direncanakan dengan matang. “Kami memilih lokasinya, menentukan temanya, membicarakan dengan pemilik gedung, mencari sponsor dan lalu mengundang seniman yang akan membuat muralnya,” jelas Colleen.
Menurutnya, Selain berdampak pada ekonomi dan keindahan kota, Mural terbukti mampu meredusir kriminalitas dan aksi-aksi vandalisme. Dulu, di cincinnati, gang-gang yang sempit menjadi tempat paling rawan kriminalitas. Art Wor lalu menyebar banyak mural di lokasi-lokasi itu. Hasilnya, angka kriminalitas jauh lebih menurun. “kami percaya, seni di ruang-ruang publik bisa meningkatkan sense of safety,” katanya, meyakinkan. Tapi, mural juga harus mempertimbangkan nilai-nilai lokal. Misal saja, toko-toko dalam mural, biasanya adalah orang-orang memiliki ikatan emosional dengan masyarakat lokal.
Pilihan menjadikan seni sebagai ikon, rupanya juga berimbas sangat jauh bagi kota ini. Baru-baru ini, Cincinnati masuk menjadi salah satu dari 10 kota paling trendi di Amerika. Beberapa yang lain adalah, Salt Lake City, Pittsburgh dan New Orleans.(*)

About uman