Home » Berita Utama » Sulap Rumah Apung Jadi Tempat Pemeliharaan Ikan
Sulap Rumah Apung Jadi Tempat Pemeliharaan Ikan
Puluhan rumah rumah apung Desa Kolo Bawah, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Minggu (5/3). Sekira 55 persen warga setempat bekerja sebagai nelayan.

Sulap Rumah Apung Jadi Tempat Pemeliharaan Ikan

Warga Desa Kolo Bawah, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara (Morut), mampu menyulap laut menjadi ladang pendapatan. Yakni dengan menjadikan rumah sekaligus tempat pemeliharaan ikan-ikan bernilai jual tinggi.

Laporan: Marhum,Luwuk Post

Awan hitam bergelayut manja di langit Desa Kolo, pagi itu. Sesekali warga setempat melintas menggunakan perahu mengecek kolam ikan mereka yang berada tepat di kolong rumah.
Suasana tenang seolah menggambarkan tata cara hidup warga setempat yang masih bersahabat dengan alam. Kekeluargaan masih sangat kental. Namun, untuk menembus desa ini memang cukup menguras tenaga. Dari Kecamatan Toili saja harus melewati 70 kilometer jalan terjal.
Tetapi, ketika tiba kedamaian menyambut. Di sana tak ada suara bising kendaraan. Hanya suara gemuruh air laut yang dipicu oleh bocah-bocah di desa itu yang memang sengaja menceburkan diri ke air asin tersebut.
Mereka punya cara bertahan hidup sendiri. Desa yang dihuni suku bajo itu memanfaatkan kolong rumah mereka menjadi lokasi pemeliharaan ikan dan hewan laut lainnya. Sebut saja ikan sunu dan lobster yang dikenal memiliki nilai jual tinggi.
Salah seorang warga Desa Kolo, Daong, menyebut, ikan sunuh di pasaran dibanderol Rp 50 ribu per kilogram. Bergantung kondisi cuaca.”Kalau udang lobster memang kita di sini ada yang budidayakan, hanya saat ini sangat kurang peminatnya,” jelas Daong, Minggu (5/3).
Selain dari hasil penjualan ikan, Daong mengaku, pendapatan masyarakat juga bersumber dari sektor pariwisata. Sebab, banyak dikunjungi masyarakat dari luar daerah hanya sekadar untuk menikmati gurihnya ikan di desanya itu. “”Biasa orang dari daerah lain datang ke desa kita untuk bersantai karena tempat kita ini ikannya melimpah. Malah ada yang hampir setiap tahun ke sini untuk meneliti tentang kehidupan masyarakat pesisir. Kami pun terbuka, menerima dengan senang hati,” katanya.
Desa berpenduduk sekira 450 kepala keluarga (KK) itu, sekira 55 persen tinggal di atas perairan.  80 persen berprofesi sebagai nelayan. “Coba lihat saja di sekitar desa ini, lokasi daratan yang cocok dibuat rumah sudah habis, yang lainnya gunung semua. Hanya kuburan yang bisa tinggal diatas sana,” terang pria 34 tahun itu.
Sebenarnya, gunung-gunung yang disebutkan Daong juga menyimpan potensi. Tetapi, air laut sepertinya sudah terlanjur memberikan rasa nyaman tersendiri bagi mereka. “Orang di sini lebih suka tinggal diatas air karena mereka hampir semuanya nelayan, termasuk saya,” tuturnya. (*)

About uman