Home » Banggai Kepulauan » Lalandai Terabaikan, Pantai Montop Tak Tergarap
Lalandai Terabaikan, Pantai Montop Tak Tergarap
Yusuf Faisal Isima (kanan) saat mengambil gambar dengan dronnya di pantai Labuan, Desa Montop, Kecamatan Bulagi Utara beberapa waktu lalu.

Lalandai Terabaikan, Pantai Montop Tak Tergarap

Pulau Bali menjadi salah satu daerah di Indonesia yang maju, dan terkenal di dunia karena perhatian dan pengelolaan destinasi wisatanya. Namun, potensi itu belum tergarap dengan baik di Kabupaten Banggai Kepulauan.

Laporan: Steven Pontoh, Salakan

UNTUK mendapatkan pemandangan pantai dengan pasir putih yang indah, banyak warga Indonesia harus merogoh kocek dalam-dalam. Tak sedikit rupiah yang dikeluarkan hanya untuk melihat pemandangan indah pantai Kuta misalnya, di Pulau Dewata, Bali.
Padahal di Kabupaten Banggai Kepulauan sendiri terdapat banyak objek wisata alam yang layak dibanggakan. Potensi alam seperti air terjun, teluk dengan bahari lautnya, hingga pantai dengan pasir putih bisa dijumpai dengan mudah. Coba saja kunjungi pantai Molon di Desa Palam, Kecamatan Tinangkung Utara. Maka Anda akan mendapati pemandangan laut dengan pasir putih nan indah yang membentang luas. Bahkan, pasir putih di wilayah ini katanya adalah pantai pasir putih terpanjang di Bangkep, yakni mencapai 3 Kilometer. Untuk yang suka diving (menyelam) silahkan ke Kecamatan Bulagi yang terkenal dengan teluk jernih yang cocok untuk pecintah alam laut.  Lalu,  di Kecamatan Bulagi Utara, tepatnya di Desa Montop, dimana wilayah ini memiliki tiga destinasi wisata unggulan seperti Pantai Labuan dengan pasir putih membentuk segitiga. Pantai ini selalu menarik perhatian pendatang saat memasuki teluk menuju dermaga Salakan. Posisinya yang berada di sebelah kanan dan jalur kapal yang hanya berjarak sekira 1 kilometer dari bibir pantai bakal membuat kita penasaran akan pasir putihnya. Ada pula Teluk Dongkalan dengan pulau-pulau kecilnya. Selain teluk dan pantai di Bulagi Utara juga terdapat danau yang oleh masyarakat setempat disebut keramat dan jarang dikunjungi. Yakni, Danau Batanggalang. Sayang, meski begitu banyak potensi wisata alamnya, pemerintah setempat terkesan belum tertarik. Padahal,  wisata alam dapat menjadi pendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hingga saat ini, upaya pemerintah untuk mendongkrak sektor pariwisata bisa dibilang lemah. Bahkan anggaran yang ada pembangunannya tidak begitu terasa. Seorang pemerhati wisata setempat, Faisal Yusuf Isima, mengungkapkan fokus pemerintah dalam membangun satu destinasi wisata unggulan belum begitu terlihat di Bangkep. Bahkan, dari sisi pemanfaatan anggaran sudah bisa terlihat.
“Jadi misalkan anggaran dua miliar kalau difokuskan pada satu destinasi wisata saya kira akan kelihatan hasilnya. Tapi kalau kemudian anggaran sebesar itu dibagikan ke 12 kecamatan, maka saya kira itu kurang baik. Tapi itulah yang terjadi selama ini,” terang fotografer lokal, yang intens mempromosikan wisata alam melalui foto dan video ini.
Selain beberapa destinasi wisata di atas, Yusuf juga menyebutkan masih ada banyak potensi lainnya seperti Pantai Teduang dengan tatanan karang buatan membentuk lambang cinta. “Pantai Teduang saja bukan milik pemerintah. Itu milik perorangan. Jadi seorang pensiunan polisi yang membuat itu. Setiap hari dia mengumpulkan satu persatu karang kemudian menatanya menjadi gambar cinta sehingga bisa kita nikmati sekarang,” paparnya.
Yusuf menjelaskan keinginannya untuk memajukan destinasi wisata Bangkep muncul saat Ia berkunjung ke Malaysia, Singapura dan Hongkong. Bahkan, untuk memastikan potensi wisata di kampungnya bisa digarap, Ia sampai berulang kali mengunjungi satu persatu destinasi wisata di Hongkong dan Singapura. Yusuf mencontohkan Singapura dengan wilayah daratan yang terbilang kecil saja mampu memanfaatkan potensinya dengan baik.
“Kalau mau dihitung, masih banyak potensi wisata alam di daerah kita ini. Tapi pemanfaatannya yang belum terasa. Singapura itu pasir pantainya saja impor dari kita tapi mereka bisa maju,” terang Yusuf bersemangat sembari memperlihatkan foto-foto kenangan saat melancong ke negeri Jiran dan Singapura.
Ia juga mengkritik sikap pemerintah yang selama ini terkesan diam tanpa perhatian ke potensi wisata itu. Meski begitu, harapan untuk memajukan daerah dari sisi pariwisata masih sangat dinantikan. Ia mengaku akan terus mempromosikan daerahnya melalui  foto dan video. Karena menurutnya, Bangkep akan lebih maju jika potensi pariwisatanya digarap dengan baik.
Hal senada juga disampaikan Marsel, warga Bulagi. Salah satu destinasi wisata yang sudah pernah digarap pemerintah yakni pemandian Lalandai kini terabaikan. Padahal, pengelolaan objek wisata itu pemerintah sempat mengeluarkan rupiah yang tak sedikit nilainya. Tempat dengan pemandangan air jernih dan ikan air tawar itu kini tak terawat. Bangunan-bangunannya terlihat kumuh dan mulai menua karena jarang diperhatikan. Marsel mengungkapkan sejak dibangunkan kolam renang hingga sejumlah gasebo, pemerintah melalui Dinas Pariwisata terkesan mengabaikan potensi pendongkrak PAD ini. “Pemandiannya sangat bagus dan nyaman, tapi tidak ada yang kontrol. Apalagi untuk mengelola,” keluhnya.
Sama halnya dengan Yusuf, Marsel juga berharap ke depan objek wisata yang ada di daerahnya bisa diperhatikan dan digarap dengan serius oleh pemerintah, sehingga bisa menambah pundi-pundi pendapatan daerah untuk meningkatkan pembangunan.(*)

About uman