Home » Berita Utama » Rayakan Penghematan 20 Persen Penggunaan Listrik dengan Meter Pintar
Rayakan Penghematan 20 Persen Penggunaan Listrik dengan Meter Pintar
Wartawan Koran ini (tengah) dan Dr Khire (dua dari kanan) bersama grup smart city dari Indonesia di Universitas North Carolina, Charlote.

Rayakan Penghematan 20 Persen Penggunaan Listrik dengan Meter Pintar

Bagaimana kolaborasi antara pihak swasta, sipil, dan pemerintah dalam hal mendorong kota pintar dan berkelanjutan? Mungkin Envision Charlotte adalah contoh yang menarik.

Laporan: Herdiyanto Yusuf dari
Charlotte, Carolina Utara

Mac Mcacord nampak semringah saat menceritakan progres proyek digital smart grid Infrastructure. Ini proyek penghematan listrik berbasis digital yang bertujuan menciptakan pusat kota Charlotte sebagai contoh kota paling pintar dalam memanfaatkan listrik, ramah lingkungan, berkelanjutan serta hemat.
“Ssstt..ini masih rahasia ya? Bulan April nanti kita akan merayakan pencapaian 20 persen penghematan energi listrik,” ujar Project Manager Envision Charlotte ini sambil tertawa.
Envision dibentuk 2011 yang merupakan kolaborasi antara pemerintah serta sejumlah perusahaan raksasa yang bergerak dalam bidang yang berbeda. Jadi, bisa dibilang ini lembaga semipemerintah.
Lembaga ini diakui oleh gedung putih sebagai bentuk kerjasama yang paling baik antara pihak swasta dan pemerintah. Di dalamnya ada perusahaan listrik raksasa di Amerika Duke Energy, IT Cisco, dan perusahaan komputer Microsoft.
Kota Charlotte, meski bukan ibu kota  North Carolina, tapi bisa dibilang paling dinamis dan bertumbuh di negara bagian ini. Banyak perusahaan besar dan berpengaruh di Amerika berpusat di sini. Sebut saja Duke Energi, perusahaan swasta penyedia listrik terbesar di Amerika. Sejumlah bank besar seperti Bank Of Amerika memiliki kantor pusat dan menjadi salah satu landmark kota ini. Ada juga perusahaan maskapai seperti American Air Lines dan Delta Air Lines. Pajak lokal dan indeks biaya hidup yang relatif murah mungkin yang mendorong banyak perusahaan memilih tempat ini.
Perusahaan-perusahaan ini yang dominan berpartisipasi dalam proyek-proyek smart city itu. Salah satunya membuat kolaborasi seperti Envision Charlotte. Jadi, Envision menciptakan pilot project di pusat kota Charlotte dengan radius terbatas. Hanya untuk di areal yang disebut lingkaran I-277. Lokasi yang menjadi pusat perkantoran swasta dan bisnis, semacam Downtown. Desain kota Charlotte sendiri sangat unik. Downtown dengan gedung-gedung pencakar langit ini terpusat seperti lingkaran istana yang besar dan berdiri angkuh. Gedung Duke Energy Tower paling menonjol dan menjadi landmark yang memperindah Kota Charlotte.
Envision lewat sponsor Duke Energy menyebar sedikitnya 80 ribu meter listrik pintar yang dilengkapi sensor penggunaan energi. Cisco lalu menghubungkan itu ke pusat data. Sehingga Envision bisa mengontrol penggunaan energi listrik dari kantor bisnis di wilayah itu. “Dan tahun ini target kita untuk menghemat 20 persen penggunaan energi listrik sudah tercapai,” kata Mac. Sensor listrik digunakan untuk mengatur pemanfaatan listrik. Misalnya, listrik akan mati sendiri jika dalam waktu tertentu tak ada orang yang tertangkap sensor. “Tujuan awal kita memang ingin mengubah kebiasaan pemanfaatan energi dan perilaku konsumtif,” katanya. Selain meter pintar, Envision juga mendesain rumah-rumah menjadi pembangkit listrik mini dengan memanfaatkan tenaga surya. Energi matahari itu disimpan dalam baterai Tivo. Tentu saja akan menjadi sumber listrik cadangan. Ide terakhir ini sepertinya bisa menjadi alternatif bagi daerah-daerah krisis listrik seperti Luwuk. Saat listrik padam konsumen tidak perlu panik. Cukup menghidupkan energi cadangan.
Riset terhadap teknologi pintar itu didukung penuh oleh Universitas North Carolina di Charlotte. Universitas terbesar di North Carolina ini memiliki lembaga bernama EPIC (Energi Production and Infrastructure Center). Ini adalah lembaga riset yang berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan penyedia energi dan infrastruktur. “Dana risetnya tidak melulu dari perusahaan seperti Duke Energy. Ada juga dari pembayar pajak dan pemerintah federal,” kata Dr Khire, salah salah profesor yang mengelola EPIC menjelaskan kepada saya. Lalu hasil risetnya untuk apa? “Ya, bisa digunakan oleh siapa saja. Duke Energy termasuk yang banyak memanfaatkan riset kami,” katanya. (*/bersambung)

About uman