Home » Berita Utama » Upah Rendah, Alsintan Mengancam
Upah Rendah, Alsintan Mengancam
Seorang buruh tani perempuan di Desa Bantayan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai saat mengangkut padi yang baru saja dipanen, Minggu (26/2). Upah buruh tani masih ditentukan pemilik lahan sehingga terkesan sewenang-wenang.

Upah Rendah, Alsintan Mengancam

BURUH tani masih luput dari perhatian publik maupun pemerintah.  Itu bisa dilihat dari pengaturan upah yang tidak ditentukan selayaknya buruh pabrik atau perusahaan. Padahal, mereka salah satu yang berperan penting dalam menstabilkan pangan.
Warni misalnya. Perempuan paro baya itu mengaku, kesejahteraan mereka sebagai buruh tani di Kecamatan Luwuk Timur belum diperhatikan oleh para pengolah selaku pihak yang dipercayakan pemilik lahan. “Dengan pendapatan yang masih minim, jelas saja belum dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga,” tutur Marni, Minggu (26/2) siang.
Sudah begitu, upah buruh tani perempuan dan laki-laki dibedakan. Laki-laki lebih tinggi padahal waktu dan jenis pekerjaan hampir sama. Contohnya mencangkul, menanam, memetik, hingga mengangkut gabah. Kondisi ini jelas memunculkan kesenjangan.
Dengan upah buruh tani perempuan lebih rendah, pemilik lahan bisa menghemat. Sebab, di Luwuk Timur, kata Warni, masih lebih banyak buruh tani perempuan. Usia rata-rata antara 20 hingga 50 tahun.
Atas kondisi ini, Warni hanya berharap, ada kepedulian pemerintah untuk mengatur pemberlakuan upah harian kerja bagi kaum perempuan agar setara dengan laki-laki. Sebab, dari beberapa tahun sebelumnya, upah harian kerja perempuan hanya mengalami kenaikan sedikit dan akhirnya bertahan di kisaran Rp 50 ribu per hari. Sedangkan laki-laki hingga Rp 70 ribu per hari.
Kemudian, pekerjaan ini hanya musiman. Tenaga mereka hanya digunakan saat musim tanam dan panen, setelah itu kembali menganggur. Dengan rentan waktu yang cukup lama untuk bekerja lagi, tentunya tidak menutupi ongkos hidup ketika tidak beraktivitas di sawah.
Sementara itu, A’an, (55), yang juga buruh tani di Desa Bantayan, Kecamatan Luwuk Timur mengaku, upah yang diterimanya sebagai buruh tani lak-laki lebih tinggi ketimbang perempuan. “Satu harinya upah yang mereka terima (perempuan) paling tinggi Rp50.000. Sementara, buruh tani laki-laki per harinya itu Rp70.000 hingga Rp100.000,” kata A’an, kemarin.
Menurut dia, terjadinya perbedaan itu karena pemberlakuan upah tersebut bukan ditentukan oleh para pemilik sawah. Tetapi para pengolah sawah. “Kemungkinan itulah penyebabnya sehingga ada perbedaan,” ujarnya.

Khawatirkan Alsintan//
Selain itu, profesi ini kian terancam seiring dengan kemajuan teknologi di sektor pertanian. Memang seperti buah simalakama. Di sisi lain menguntungkan pemilik lahan karena pekerjaan kian hemat dan efektif, tetapi justru mengancam peran buruh tani pada padi sawah dan ladang. Apalagi, setiap tahunnya pemerintah mengucurkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan). Mirisnya, kondisi ini luput dari perhatian pemerintah.
Di Kecamatan Toili setidaknya bayang-bayang akan kehilangan pekerjaan mulai menghantui para buruh tani. Ni Made Sriana misalnya, hanya digunakan tenaganya saat musim tanam. Sebab, saat panen sudah tugas alsintan.
“Yah kita hanya digunakan saat musim tanam dan mencabut rumput saja. Sehari biasanya diberi upah Rp 60 ribu sampai 70 ribu per harinya. Kalau lewat musim tanam kita nganggur,” tutur Sriana, Kamis (23/2).
Buruh tani dari Desa Mulyasari itu, memang sudah merasakan dampak dari kemajuan pesat teknologi ini. Tapi, dia memang tak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah. “Selama berpuluh tahun kita bekerja jadi buruh tani, tapi kalau semakin canggih mesin yang dipakai kita besok-besok tidak tahu mau kerja apa,” jelas Sriana dengan dialeg Bali.
Sriana hanya bisa berharap pemerintah dapat memerhatikan mereka sebagai buruh tani dengan cara memberikan alternatif.“Dengan begitu dapat membantu stabilnya pendapatan kami sebagai buruh tani,” ucapnya.

Terancam Gagal Panen//
Selain buruh tani, keberlangsungan petani yang hanya memiliki lahan tidak lebih, kini terancam tak bisa menikmati hasil jerih payah berbulan-bulan. Dari Kecamatan Moilong dilaporkan, saat ini padi mulai digerogoti hama.
“Banyak yang rusak dimakan tikus, tidak bisa didibenahi lagi karena sudah mulai berbuah,” kata petani di Desa Sumber Harjo, Amirul, kemarin.
Sebenarnya, jika tidak ada aral melintang, rencananya pada musim panen nanti, petani akan melakukan panen raya. Namun, bisa-bisa gagal karena hama tikus susah dibendung kendati telah diracun. “Padahal hasilnya sudah bagus, tapi tikus sudah rusak semua, kalau begini bisa-bisa panen raya gagal,” pungkasnya.
Pun Darso yang hanya memiliki tiga hektar sawah juga mengeluh.  “Bener itu, saya saja setiap hari harus menjaga sawah saya, kalau tidak begitu bisa rugi nantinya,” tutur Darso mengamini pernytaan Amirul.
Di sisi lain, janji pemerintah daerah membenahi distribusi pupuk, ternyata belum sampai di lapangan. Petani di Desa Tanah Abang, Kecamatan Toili mengaku sulit mendapatkan pupuk subsidi.
“Kalau mau ambil di pengecer tetap diberikan, tapi jumlahnya tidak sesuai yang kami butuhkan. Jadi, kadang kita cari di pihak ke tiga tapi harganya juga bisa dikali-kali (mahal),” ucap beberapa petani, kemarin.
Mereka menduga kekurangan ini bukan karena suplai dari pemerintah yang tidak terpenuhi, tetapi ada oknum yang sengaja ‘memainkan’ sehingga imbasnya ke petani yang memang berhak mendapatkan pupuk subsidi. “Pemerintah sudah seharusnya lihat kondisi petani. Seluruh petugas maupun pengecer harus diperiksa agar tidak ada pemikiran-pemikiran yang negatif kepada beberapa oknum yang dicurigai,” keluh mereka lagi. (ir/tr-57/yugo/um)

About uman