Home » Berita Utama » Ikut “Pinasa” dan Belajar Prakarsa Lokal yang Digerakkan secara Swadaya
Ikut “Pinasa” dan Belajar Prakarsa Lokal yang Digerakkan secara Swadaya
Wartawan Koran ini bersama para volunteer dari berbagai kelas saat melakukan aksi pungut sampah di Negara bagian Carolina Selatan, pekan lalu.

Ikut “Pinasa” dan Belajar Prakarsa Lokal yang Digerakkan secara Swadaya

ISU Kota Pintar (smart city) dan berkelanjutan (sustainable) menjadi agenda besar sejumlah kota-kota di Amerika. Pemerintah federal melakukan lomba semacam smart city challenge  dan memberikan dana besar untuk kota-kota di negara bagian yang memiliki prakarsa terhadap pengembangan kota yang manusiawi.

Laporan: Herdiyanto Yusuf
Dari Charlotte, Carolina Utara  

ANAK muda itu tidak banyak bicara. Tangan kanannya terus menarik tuas alat penjepit sampah yang ada di genggamannya. Tangan kiri digunakan menjinjing ember yang terlihat hampir penuh dengan serat kertas dan sejumlah limbah plastik. Pria jangkung itu adalah Justin. Ia mengenakan kaos bertuliskan hands on charlotte di bagian dadanya. Ini adalah nama salah satu instititusi relawan di kota Charlotte yang getol memberangus sampah. Jika diartikan secara harfiah; tangan-tangan Charlotte. Di sana. Berkumpul orang-orang dari berbagai kelas sosial yang mau turun tangan tanpa pamrih. Mereka hanya ingin kotanya terlihat bersih. Itu saja. “Saya pindah dari Ohio, saya baru delapan bulan di sini (charlotte, red),” jelas Justin menjawab pertanyaan saya di sela-sela aksi bersih-bersih di sepanjang jalan di daerah pinggiran Carolina Selatan, Sabtu silam (18/2). Ini negara bagian sendiri yang bertetangga dengan Carolina Utara, di mana saya menginap.
Saat pertama kali pindah ke Charlotte, Justin merasa heran banyak sekali sampah plastik di jalanan. Pemandangan yang membuat dia tergerak secara sukarela meluangkan waktu untuk memungut sampah-sampah di jalanan. “Saya lalu bergabung dengan Hands Charlotte. Sekarang kota ini lebih bersih, tapi kita akan terus melakukan ini,” kata Justin. Saya dan beberapa kawan dari Indonesia berinisiatif untuk menjadi volunteer di acara itu. Kami berjalan lebih empat kilometer di sepanjang bibir jalan untuk memungut sampah plastik. Seperti Pinasa di Luwuk atau LISA di Kota
Makassar. Pokoknya, lihat sampah ambil, masukan ke kantong plastik dan ember. Plastik yang sudah penuh ditumpuk di beberapa tempat. Nanti ada petugas sampah milik pemerintah kota setempat yang akan mengambilnya. Secara pribadi saya sangat menyukai volunteer opportunity ini. Selain saya sudah biasa melakukan ini bersama kawan-kawan di Luwuk Post, saya rasa cukup sehat berjalan berkilo-kilo meter di suhu yang sejuk saat itu. Penggagas gerakan peduli lingkungan ini adalah adalah Greg. Pria parobaya yang memilih menghabiskan waktu pensiunnya sebagai enviroment volunteer. Greg mengelola website dan mencari relawan yang ingin bergabung dalam aksi yang mereka namakan “picking up  litter” ini. Hands on Charlotte salah satu yang bergabung dengan Greg. “Saya tinggal di sekitar ini, tempat ini sudah seperti halaman depan rumah saya, “ kata Greg bersemangat. Greg juga lah yang mengundang para volunter untuk berkumpul sekali dalam sebulan dan melakukan kegiatan bersih-bersih. Lokasinya diumumkan lewat website. Siapa saja bisa ikut. Saat saya hadir dalam acara itu, banyak sekali relawan yang datang. Setidaknya lebih dari 20 orang. Ada beberapa kelompok yang terlihat seperti satu keluarga lengkap dengan anak-anak mereka. Greg mengatur rute dan membagi dalam beberapa kelompok. Dia juga menentukan jam berapa berkumpul lagi di titik awal. Peralatan seperti alat pengait sampah, kantong plastik, ember dan jaket tipis disediakan Greg. Dia mengadakan sendiri alat-alat itu. Tidak ada bantuan pemerintah setempat. Tapi kalau ada donatur yang menyumbang, Greg akan berterima kasih. Adakalanya tidak hanya sekadar memungut sampah saja. Tapi membersihkan hutan dan selokan. Kalau di Luwuk, kira-kira seperti yang dilakukan Gerakan Aktivis Mantailobo (GAM) yang dikomandani Idin Massa. Tentu saja kita harus menghargai aksi-aksi seperti ini. Dan jika semakin banyak yang terlibat akan semakin bagus. Apa yang dilakukan Greg ini hanya sebagian kecil dari prakarsa lokal yang muncul di kota ini. Charlotte hampir menggambarkan situasi kota-kota di Amerika. Di mana inisiatif itu selalu muncul dari bawah. Maklum, umumnya warga Amerika tidak begitu percaya kepada pemerintah. “Umumnya warga Amerika justru menganggap pemerintah adalah sumber masalah,” ujar Dr. Edward Rhodes, guru besar kebijakan publik di George Mason University saat memberikan kuliah kepada kami di Medium Internasional Center, Washington DC, belum lama ini.

Skeptisisme terhadap pemerintah ini yang mungkin menjadi pelatuk sehingga banyak prakarsa positif yang justru lahir secara bottom up. Bandingkan dengan Indonesia apalagi di daerah-daerah yang lebih top down. Di Charlotte, salah satu kota terbesar di negara bagian Carolina Utara ini, cukup banyak inisiatif dari kelompok lokal. Umumnya bergerak secara swadaya. Aksi nyata yang dilakukan Greg itu hanya contoh kecil saja. Ada kelompok lain yang lebih fokus dengan isu kota pintar dan berkelanjutan. Misal saja yang dilakukan Suistain Charlotte, NGO yang aktif mengampanyekan kota berkelanjutan yang nyaman untuk ditinggali. Definisi kota berkelanjutan selalu berbeda tergantung kebutuhan lokal. Tapi intinya sebenarnya sama yakni membangun kota yang manusiawi. “Tapi definisi umumnya adalah kemampuan memenuhi kebutuhan masa kini tanpa merusak masa depan,” kata salah satu staf senior Sustain Charlotte, Christine Romot. Kebutuhan yang dimaksud antaranya adalah akses terhadap makanan sehat, air bersih yang terus mengalir dan terjamin kualitasnya, akses terhadap ruang publik, energi termasuk listrik serta ada lowongan pekerjaan. Di Charlotte kata dia, isu-isu degradasi lingkungan menjadi pembicaraan yang serius di tingkat aktivis lingkungan. “Hingga saat ini, kita kehilangan hampir 49 persen pohon, kita punya masalah sampah, punya kemacetan lalu lintas, polusi udara, hingga banyak bahaya untuk para pejalan kaki,” katanya. Karena itu sustain charlotte sangat aktif mengadvokasi ini. Dari mana dana untuk melakukan semua ini? Pihaknya menggalang dana dari para donatur, perusahaan-perusahaan yang berafiliasi pada penyelamatan lingkungan serta melakukan kegiatan-kegiatan amal. “Prinsipnya kita terus mengumpulkan orang-orang yang sependapat dengan kita, yaitu tentang isu-isu keberlanjutan,” tandasnya. Selain sustain charlotte tentu saja banyak lagi organisasi nirlaba yang memperkuat civil society berpihak pada isu kota pintar dan berkelanjutan. Sebut saja yang dilakukan NC League dan Conservation Voters. Ini seperti LSM Lingkungan yang aktif melakukan referendum untuk menilai pendapat masyarakat terhadap semua kebijakan yang berdampak lingkungan. Baru-baru ini mereka melakukan jaring pendapat terkait debu dari pertambangan batu bara di North Carolina. Hasil referendum itu lalu diserahkan kepada dewan kota atau negara bagian. Apa cara ini berhasil mengubah pandangan pemerintah negara bagian, county dan atau pemerintah kota? “Ya, cukup banyak yang berhasil. Kan para anggota dewan itu ingin menggalang sebanyak-banyaknya  dukungan masyarakat,” kata Direktur NC League dan Conservation Voters, Bill Hairdon. Organisasi ini juga ingin memastikan perlindungan sumber daya alam di Carolina Utara serta kualitas kehidupan dan kesehatan komunitas. Di Amerika dengan sistem federal, negara-negara bagian memiliki kewenangan  yang sangat besar. Setiap negara bagian memiliki kewenangan untuk membuat undang-undang sendiri. Tidak harus patuh pada aturan federal bahkan kadang-kadang berseberangan. Di bawah pemerintah negara bagian, ada county yang memiliki anggota dewan, tapi tidak selamanya memiliki eksekutif. Ada juga kota dengan walikota dan anggota dewan kota. Semua struktur pemerintahan di dalam negara bagian itu memiliki kewenangan membuat aturan sendiri. Kadang-kadang berseberangan, tapi umumnya tidak. Kalau ada perselisihan soal itu biasanya dibawa ke pengadilan federal. Soal pajak misalnya, pemerintahan federal memiliki aturan dan besaran pajak sendiri. Negara bagian juga memungut pajak dengan besaran yang berbeda-beda antara satu negara bagian dengan negara bagian yang lain. Jadi kalau Anda membeli barang di Kota Colombus, negara bagian Ohio, akan lebih mahal ketimbang di Charlotte, negara bagian Carolina Utara. Karena pajak pemerintah lokal di Colombus sedikit lebih besar ketimbang di Charlotte.(*/bersambung)

About uman