Home » Berita Utama » Warga Washington masih Keki, Media Sangat Kritis, Rumah Makan ikut Terpapar Politik
Warga Washington masih Keki, Media Sangat Kritis, Rumah Makan ikut Terpapar Politik
Gedung putih masih sangat tertutup sejak pelantikan Donal Trump 20 Januari lalu. Pagar pembatas makin jauh dari kediaman resmi Presiden AS ini.

Warga Washington masih Keki, Media Sangat Kritis, Rumah Makan ikut Terpapar Politik

Kalau Anda berpikir bahwa faksi sosial yang terjadi pasca event politik semacam pilkada hanya ada di Indonesia, mungkin tidak sepenuhnya benar. Di Amerika Serikat (AS), negara yang menjadi benchmark demokrasi dunia, perbedaan pandangan politik juga bisa memolarisasi masyarakatnya. Tentu saja tidak serumit umumnya daerah-daerah di Indonesia.

Laporan:
Herdiyanto Yusuf
dari Washington DC, AS

Restoran Old Ebbit Grill yang hanya berjarak beberapa blok dari gedung putih, kediaman presiden amerika di Washington DC tetap ramai di Minggu siang (12/2). Orang-orang menikmati menu yang krispi tapi dengan harga yang cukup menguras kocek bagi para travelers dengan budget rendah. Setiap orang bisa spending time hingga berjam-jam di sini. Tentu saja bukan hanya karena makanannya yang mengoyak lidah atau seruputan kopi yang mencekak tenggorokan.
Umumnya, pengunjung berkelompok melakukan lobi-lobi, diskusi politik hingga bicara soal bisnis. Sebagai salah satu landmark ibu kota USA (United States of America), daya tarik restoran ini justru karena nilai historisnya.
Sejak lama restoran ini menjadi tempat para politisi bertemu. Jadinya, tempat ini menjadi salah satu barometer politik AS. Yang menarik, siapa saja yang dominan menjadi langganan restoran ini tergantung partai apa yang memenangkan pemilu. “Kali ini, hampir tiga puluh persen pengunjungnya adalah orang-orang dari partai republik sebagai pemenang pemilu di amerika. Sebelumnya tentu saja dominan orang dari Partai Demokrat,” ujar Margareth, pemandu kami saat walking around the city, Minggu (12/2).
Menurut gadis yang baru menyelesaikan S1 di Universitas of Washington ini, isu politik memang paling dominan di Washington. Mungkin karena ini ibu kota negara. “Ya, semua serbapolitik di sini,” tambah Shawn Callanan, interpreter yang dipekerjakan Kementrian Luar Negeri Amarika.
Properti dengan histori politik bukan hanya restoran tersebut. Ada sebuah hotel di dekat gedung putih, Hotel Willard. Hotel berumur 150 tahun ini juga salah satu politicall heritage. Awalnya, dulu karena Presiden Amerika ke-5 Grant sering ke sini untk mengisap cerutu dan meneguk wiski. Hobi yang saat itu dilarang keras oleh ibu negara.
Lama-lama ketika orang-orang tahu presiden sering ke sini, maka tempat ini menjadi ramai. Orang bergerombol di lobi untuk bertemu dan membicarakan sesuatu dengan presiden. Mereka lalu disebut orang-orang lobi. “Ya, bisa jadi ini cikal bakal istilah lobi-lobi yang akrab digunakan hingga sekarang,” jelas Margareth.
Tiga minggu setelah pelantikan Presiden amerika ke-54 itu, suhu politik di Washington relatif panas di tengah musim dingin menusuk saat ini. Unjuk rasa menentang Trump masih  terjadi dan kemungkinan akan terus berlangsung cukup lama. Isunya masih seputar travel ban terhadap 7 negara berpenduduk islam, pergantian orang-orang dekat presiden hingga isu remeh temeh semisal renovasi interior gedung putih yang hingga kini masih misterius__sudah menjadi kebiasaan setiap Presiden AS untuk merubah interior white house sesuai selera. Misalnya, saat era Bill Clinton, dia membangun kolam renang besar di tengah gedung putih, tapi saat Obama diganti dengan lapangan basket. “Kita tidak tahu apa sudah terjadi perombakan besar-besaran dalam gedung putih, tapi media barusan melaporkan Trump sudah mengganti semuanya dengan warna emas kesukaannya, meski kemudian dibantah oleh gedung putih,” ujar seorang warga Virginia saat ditemui di Washington.
Sikap kritis warga AS juga tercermin dari headline sejumlah media besar di Washington. Sejak bangun pagi, tv news seperti CNN sudah membahas berbagai kebijakan Trump di 100 hari pertamanya. Suara-suara publik yang menolak Trump juga di-blow up media. Banyak warga yang secara terang-terangan merasa telah tertipu memilih presiden berambut emas itu.
Tapi, sejauh ini Trump tetap ‘pongah’ menanggapi berbagai kritikan itu. Sebagai presiden dengan background pengusaha, Trump memang tanpa basa-basi. Dia seperti mau ngomong apa saja terserah. Dan konsekuensinya bullying terhadap Trump makin kencang.
Mungkin first lady AS, Mellanie Trump sudah membaca kemungkinan itu. Tak heran, fokus program ibu negara kali ini adalah perang terhadap ciber bullying. Program yang rada-rada tidak logis dan popoler memang. Coba bandingkan dengan program first lady sebelumnya, Michele Obama, yakni menyehatkan anak-anak. (*)

About uman