Home » Berita Utama » Pondok Baru Buat Ato
Pondok Baru Buat Ato
Pondok yang ditempati Ato jauh dari kesan layak.

Pondok Baru Buat Ato

HAMPIR setiap hari lelaki 27 tahunan yang tinggal di komplek Padang, wilayah kelurahan Lompio itu selalu terlihat menyusuri jalanan dalam kota Banggai. Orang memanggilnya Ato Buta.

Laporan: Syamsul Bahri-Luwuk Post

KADANG terlihat di Pasar Baru, kadang di pelabuhan. Bahkan tak jarang Ato terlihat menyusuri daerah-daerah perkebunan yang cukup jauh dari tempatnya tinggal.
Ato memang buta. Namun dia mandiri. Tinggalnya di gubug reot yang jauh dari kata layak. Sendirian tanpa teman. Ato bahkan tidak menggunakan tongkat. Orang-orang heran. Meski buta, Ato tak pernah tersesat ketika hendak pulang.
“Barangkali itu kelebihan yang Tuhan kase. Biar buta tapi perasaannya peka,” tutur Yanto, tetangganya.
Kisah Ato jadi menarik setelah sekelompok pegiat sosial yang tergabung pada gerakan Banggai Tersenyum berinisiatif membangun pondok baru untuknya. Berbekal patungan sesama anggotanya, misi kemanusiaan ini mulai digarap.
Aksi simpatik ini kemudian viral di media sosial setempat setelah Renal Nadjil, dokter muda yang bekerja di RSUD Balut mempostingnya guna mencari dukungan khalayak. “Share ini tidak bermaksud apa-apa. Niat kami adalah untuk membantu sesama,” tulis Renal.
Dia mengajak warga Balut turut membantu pembangunan rumah Ato melalui rekening BRI 064701009842500 atas namanya. Kembali ke Ato. Menurut Yanto, ketika bayi, sulung dua bersaudara ini berpenglihatan normal.
Namun saat berumur kurang lebih setahun, dia terserang demam tinggi disertai timbulnya bintik merah di sekujur tubuh. Orang setempat menyebutnya terkena Sarampa. “Mungkin pengobatannya tak tuntas, setelah sembuh penglihatan Ato terganggu hingga sekarang,” terangnya.
Untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari Ato tak berpangku tangan. Dia biasa kerja serabutan. Meski buta, Ato ternyata piawai mengupas Kelapa. Order yang datang bukan karena sekedar kasihan tapi Ato memang bisa kerja bahkan tak kalah hebat dari pekerja normal.
“Sehari dia bisa kupas sampe ratusan butir. Makanya tukang Kopra suka pake tenaganya. Abis itu dia dibayar sesuai pembicaraan,” imbuh Yanto.
Terlepas dari semua itu, sebagian besar keseharian  Ato memang memprihatinkan. Kunjungan Luwuk Post ke pondoknya, Selasa kemarin menyuguhkan pemandangan miris. Rumah berdinding anyaman bambu itu sebagian sudah bolong. Atapnya apa lagi. Agaknya kalau hujan nyaris tak ada sudut yang aman dari tempias.
Sudah seharusnya gerakan sosial Renal Nadjil dan komunitas Banggai Tersenyum yang hendak membangun pondok barunya mendapat dukungan. Ato memang tak mengeluh. Atau barangkali juga keluhannya terlalu pelan untuk didengar. Tapi sudah seharusnya kita yang peduli. (*)

About uman