Home » Berita Utama » Pendidikan Politik Dinilai Gagal
Pendidikan Politik Dinilai Gagal
Kisman Karinda

Pendidikan Politik Dinilai Gagal

LUWUK–Sejumlah kalangan mengecam pengeroyokan terhadap tim sukses pasangan calon nomor urut 3, Zainal Mus-Rais Adam (Zamra) pada Minggu malam (12/2). Para elit di Kabupaten Banggai Kepulauan dinilai gagal melakukan pendidikan politik terhadap masyarakat di pilkada 2017.
“Tidak perlu begitu. Pilkada kan pesta demokrasi. Seharusnya tidak ada unsur-unsur kekerasan. Kalau ada, berarti partai gagal memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Ini imbas dari politik kita akui, kecintaan rasa memiliki terhadap paslon (pasangan calon) tertentu, tapi tidak perlu terjadi hal itu,” ucap Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Luwuk, Kisman Karinda, Senin (13/2).
Sebagai akademisi, Kisman mengaku, menyayangkan kejadian pengeroyokan itu. Sebab, sebelumnya para paslon sudah sepakat untuk mendukung pilakada damai. “Pilkada di daerah-daerah lain sebenarnya bisa dijadikan pelajaran. Ini tidak bisa terjadi lagi di era demokrasi seperti sekarang. Bersaing saja secara sehat,” tegasnya.
Menurut Kisman, kejadian tersebut justru menjatuhkan pasangan calon tertentu yang diduga melakukan tindakan kekerasan. “Ini yang menilai masyarakat. Pilkada kan menjalankan amanah, mencari pemimpin dengan cara yang demokratis,” katanya.
Kisman menegaskan, pasangan calon sudah diperbolehkan memaparkan visi misinya. Tetapi jika yang terjadi tindakan kekerasan, regulasi pun melarang. Karena itu, masing-masing kubu semestinya mengimbau pendukungnya agar tidak terjadi kontak fisik. “Undang-Undang sendiri tidak memperbolehkan hal itu. Demokrasi kan esensinya keadilan untuk memilih,” ujarnya.
Dia mengingatkan, pengeroyokan tersebut  akan berbuntut panjang pada proses rekonsiliasi pasca pilkada. Sebab, akan muncul dendam politik di tingkat pendukung. “Ini berefek panjang. Rekonsiliasi akan lama,” terangnya. (ali)

About uman