Home » Berita Utama » Evert Coba Melawan Arus
Evert Coba Melawan Arus
Evert Kuganda

Evert Coba Melawan Arus

LUWUK – Entah apa yang ada di kepala Evert Kuganda saat ini. Meski kasus penemuan sabu di komplek rumah jabatan bupati  membetot perhatian publik,  namun Evert malah menilai itu bukan kejadian luar biasa. Evert tentu saja terkesan melawan arus. Sebab, opini publik justru menilai ini kejadian yang luar biasa. Penggunaan terminologi Kejadian Luar Biasa (KLB) ini tentu bukan tanpa alasan. Sejumlah nitizen di media sosial menilai penangkapan sabu di lingkungan rujab bisa menciderai pandangan publik yang menganggap  rujab adalah tempat yang seharusnya steril dari narkoba. Kalau rujab saja bisa dimasuki narkoba, lalu bagaimana dengan ruang publik lainnya? Karena itu, banyak yang mendesak dilakukan tes urin untuk memastikan lingkungan rujab masih bersih dari narkoba atau tidak.
Kemarin, kepada Luwuk Post, Evert meminta  kasus Ongki Rompas tak perlu dibesar-besarkan. “Ini bukan kejadian luar biasa kok!” tegasnya santai.
Sekalipun Ongki tertangkap tangan membawa sabu saat berada di rumah jabatan (rujab) Bupati Banggai, menurut dia, tak harus dikaitkan dengan penghuni rujab yang berada di jalan Ir. Sukarno itu.  “Sangat tidak rasional malah tendensius jika kasus yang melilit Ongki harus dikaitkan dengan banyak pihak,” kata Evert.
Ia juga menilai sangat berlebihan wacana untuk dilakukan tes urine di lingkup Rujab Bupati. “Itu sama saja menganggap penghuni Rujab Bupati juga pemakai sabu,” sesalnya.
Anggota Komisi 1 sekaligus Ketua Bapemperda DPRD Banggai ini menginformasikan beberapa orang yang tinggal di lingkup Rujab Bupati berstatus ustad yang notabene jauh dari barang haram tersebut. “Lahirnya keinginan agar dilakukan tes urine di lingkup Rujab Bupati tentu saja melahirkan ketersingungan,” ujar Evert.
Menyangkut status Ongki di Rujab Bupati juga ditanggapi Evert. “Ongki tidak masuk dalam SK susunan kepengurusan di rujab. Dia hanya datang sesuka hatinya. Dan tidak mungkin kalangan yang tinggal di lingkup rujab ingin mengusirnya,” jelas Evert.
Evert menyarankan agar kasus sabu yang melilit Ongki, tidak dibesar-besarkan. Apalagi jika dikaitkan dengan rujab.  “Sebab kalau sudah dikait kaitkan dengan rujab itu sangat tendensius. Padahal, hanya oknum itu saja yang menggunakan sabu, sedang lainnya tidak,” tandasnya.
Terkait desakan agar dilakukan tes urine terhadap ASN maupun penghuni rujab, Kepala Bagian Hukum Setda Kabupaten Banggai, Nur Djalal, mengatakan, kalaupun pemerintah daerah melakukan tes urine terhadap ASN akan dilakukan secara mendadak. “Kalau tes urine akan dilakukan mendadak agar hasilnya lebih maksimal. Tidak akan diumumkan kapan dan dimana,” tegasnya.
Ia menyatakan, pemerintah daerah tidak mentolerir penyalahguna narkoba, termasuk ASN. Sebab, upaya pemberantasan narkoba dilakukan untuk menyelematkan masa depan generasi bangsa. “Negara ini sudah darurat narkoba, harus diperangi, jadi siapapun yang terlibat, dimanapun harus disikat. Saya saja (sebagai Sekretaris BNK) diingatkan oleh Bapak (Bupati-red). Hati hati terhadap narkoba,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa fakta membuktikan Ongki Rompas bukan ajudan bupati karena yang bersangkutan tidak memiliki Surat Keputusan pengangkatan seorang ajudan.
Kata dia, ajudan Bupati Banggai hanya dua orang yakni Ikral dan Wandi, sementara sopir bupati adalah Ridho.“SK ajudan itu cuma dua, hanya Wandi dan Ikral. Ongki tidak,” tegasnya.   Nur menegaskan orang–orang yang kesehariannya dekat dengan Bupati itu bebas narkoba.“Itu Ridho sudah tes urine, negatif,” tegasnya.(yan/ris)

About uman