Home » Metro Luwuk » Kekuatan Cinta Luluhkan Hati Hakim
Kekuatan Cinta Luluhkan Hati Hakim
JF bersama istrinya menyalami Majelis Hakim dan JPU usai pembacaan putusan di ruang sidang Pengadilan Negeri Luwuk, Kamis (19/1). JF divonis tiga bulan lebih ringan dari tuntutan Jaksa selama tujuh tahun.

Kekuatan Cinta Luluhkan Hati Hakim

Apapun rintangannya, siapapun orangnya, bahkan orangtua sekalipun, tidak akan pernah menghalangi kedua insan jika sudah dimabuk asmara. Seperti kisah cinta JF dan IR yang berujung di pengadilan. Berikut laporannya.

Laporan, Asnawi Zikri/Luwuk Post

Kamis (19/1) sekira pukul 14.00 Wita, Pengadilan Negeri Luwuk dipadati masyarakat, baik terdakwa maupun keluarga terdakwa yang sedang menunggu jadwal persidangan. Ada yang duduk, berdiri sembari berdiskusi dengan pengacara maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang berpakaian ciri khas mereka yang serba hitam hitam dengan sehelai kain putih di bagian dada.
Sidang begitu padat, kasus narkoba, penganiayaan, pencabulan, sengketa tanah, maupun kasus pernikahan dini. Dari sidang sidang itu, kasus pernikahan dini lah yang sangat menarik perhatian publik yang saat itu berada di area Pengadilan Negeri Luwuk.
Bagaimana tidak, kisah cinta antara JF (19) warga Sisipan, Kecamatan Batui dan IR (15) warga Tataba, Kabupaten Banggai Kepulauan, tidak direstui orangtuannya, sehingga dibawa ke ranah hukum. JF terpaksa harus mendekam ke sel tahanan karena tidak mampu membayar denda sebanyak Rp35 juta atas permintaan orangtua IR. Sebab, orangtua IR tidak terima dengan tindakan JF yang menyetubuhi IR layaknya suami istri. Dari hasil persutubah itu, JF dan IR membuahkan seorang anak laki laki yang masih berusia tujuh bulan. Padahal, jika JF mampu membayar denda itu, orangtua IR tidak akan melanjutkan kasus pernikahan dini tersebut.
IR sempat membentak orangtuanya, karena tidak ingin orang tercitanya harus nginap di hotel prodeo. Apalagi mereka sudah memiliki buah hati mungil yang ganteng. Sebab, anak mereka harus dibimbing ayah maupun ibunya agar besar nanti menjadi anak yang saleh dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Bahkan, pada sidang sebelmnya dengan agenda pembacaan tuntutan, IR sempat menyerahkan anak laki laki mereka kepada JF, karena tidak sanggup dengan tuntutan hakim yang menghukum JF tujuh tahun penjara. IR tidak sanggup merawat anaknya selama itu, sehingga diserahkan ke JF untuk hidup bersamanya di tahanan. IR pun pergi meskipun dipanggil suami, Jaksa dan pengacara. Tindakan IR itu sempat membuat Jaksa dan pengacara panik karena bingung mau dibawa ke mana anak mereka, karena tidak mungkin anak berkulit putih itu dibawa ke tahanan. Selang beberapa jam, IR balik dan mengambil anaknya.
Meski demikian, perlawanan IR tidak bisa membendung kemarahan orangtuanya agar JF dipenjara. IR dan JF pun pasrah. JF rela menanggung perbuatannya demi mempertahankan rumah tangga mereka. Bahkan, JF sempat menyampaikan permohonan maaf kepada IR dan orangtuannya, karena harus membina istri dan anaknya dari balik jeruji besi.
Perjuangan JF dan IR melawan hukum berakhir setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Luwuk memvonis JF tiga bulan kurungan penjara dipotong masa subsider. Vonis Hakim itu lebih ringan dari tuntutan JPU tujuh tahun penjara. Vonis Hakim ini mempertimbangkan faktor kemanusiaan, karena anak mereka masih kecil dan butuh bimbingan orangtua. Selain itu, Hakim juga mempertimbangkan fakta persidangan, bahwa JF dan IR saling suka dan tidak ada unsur paksaan.
Hakim anggota Abdul Rahman Talib SH, mempertimbangkan sisi kemanusiaan. Pasalnya, IR yang masih barusia di bawah umur itu harus memelihara buah hati mereka yang masih berusia tujuh bulan. Berdasarkan pertimbangan itulah, sehingga JF menjalani masa hukuman penjara sebagai tahanan kota.
Mendengar putusan tersebut, JF dan istrinya yang saat itu menggendong anaknya langsung berdiri sambil mendekati majelis Hakim. Mereka mencium tangan Hakim, air mata menetas di lantai ruang sidang  Pengadilan Negeri Luwuk yang bertehel putih tersebut.
“Baik baik ya, jaga anakmu dengan baik. Jangan lagi buat kesalahan,” kata majelis hakim kepada terdakwa dan istrinya. “Iya pak, makasih pak,” jawab terdakwa.
Tak hanya Hakim, terdakwa dan istrinya juga mencium tangan JPU yang menuntut dirinya 7 tahun kurungan penjara. “Makasih pak,” ujar terdakwa pada JPU. “Kamu sudah bebas. Nanti saya urus semua administrasinya supaya kamu bisa pulang hari ini (kemarin) juga,” kata JPU pada JF.(*)

About uman