Home » Berita Utama » Dituntut 7 Tahun, Divonis 3 Bulan
Dituntut 7 Tahun, Divonis 3 Bulan
Istri terdakwa menggendong anaknya sambil menyaksikan sidang suaminya di Pengadilan Negeri Luwuk, Kamis (19/1). Terdakwa divonis 3 bulan lebih ringan dari tuntutan Jaksa selama 7 tahun.

Dituntut 7 Tahun, Divonis 3 Bulan

LUWUK-Terdakwa kasus pernikahan anak di bawah umur JF (19), divonis 3 bulan hukuman kurungan penjara dipotong masa subsider oleh Hakim Pengadilan Negeri Luwuk, Kamis (19/1). Vonis Hakim lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Banggai yakni, 7 tahun penjara.
Dalam putusannya, Hakim anggota Abdul Rahman Talib SH, mempertimbangkan sisi kemanusiaan. Pasalnya, istri terdakwa, IR yang masih barusia di bawah umur itu, harus memelihara buah hati mereka yang masih berusia tujuh bulan. Berdasarkan pertimbangan itulah, sehingga terdakwa menjalani masa hukuman penjara sebagai tahanan kota.
Mendengar putusan tersebut, terdakwa dan istrinya yang saat itu menggendong anaknya langsung berdiri sambil mendekati majelis Hakim. Mereka mencium tangan Hakim, air mata menetas di lantai ruang sidang  Pengadilan Negeri Luwuk yang berlantai putih tersebut.
“Baik baik ya, jaga anakmu dengan baik. Jangan lagi buat kesalahan,” kata majelis hakim kepada terdakwa dan istrinya. “Iya pak, makasih pak,” jawab terdakwa.
Tak hanya Hakim, terdakwa dan istrinya juga mencium tangan JPU yang menuntut dirinya 7 tahun kurungan penjara. “Makasih pak,” ujar terdakwa pada JPU. “Kamu sudah bebas. Nanti saya urus semua administrasinya supaya kamu bisa pulang hari ini (kemarin) juga,” kata JPU pada terdakwa.
Sidang terdakwa JF ini sempat menjadi perhatian publik. Pasalnya, pada sidang sebelumnya dengan agenda tuntutan Selasa (3/1) lalu, istri terdakwa langsung meninggalkan ruang sidang usai menyerahkan buah hatinya yang masih berusia 7 bulan ke sang suami. Tak ayal, kejadian itu membuat sejumlah pihak kebingungan, termasuk jaksa dan penasehat hukum yang ada di Pengadilan Negeri Luwuk.
Terdakwa sebelum sidang mengaku sudah mengingatkan kepada istrinya agar tabah menjalani cobaan hidup mereka. Ia juga menguatkan istrinya agar tetap menjalani hidup dengan normal, karena mereka telah memiliki buah hati. Hanya saja, istrinya bersikeras jika suaminya tetap dipenjara maka Ia pun ingin dipenjara juga. Tapi jika tidak bisa maka Ia memilih mati. “Katanya lebih baik saya mati saja kalau harus pisah sama kamu lagi,” tutur terdakwa mengulang perkataan istrinya sambil memeluk putrinya sesaat setelah sang istri kabur, Selasa (3/1) lalu.
Terdakwa mengaku bingung dengan sikap istrinya. Sebab Ia pun tak mungkin membawa anaknya yang masih balita ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk. Meski begitu, Ia juga mengaku sangat memahami apa yang dirasakan istrinya. Sebab, terdakwa mengaku sangat mencintai istrinya begitupun sebaliknya. Namun sayang, hubungan keduanya tak direstui orang tua istrinya yang kemudian melaporkan terdakwa atas tindakan pencabulan.
Apapun alasannya, JPU berlandaskan atas perbuatan JF yang diajukan penyidik kepolisian bahwa terdakwa telah melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Karena itu, JPU kemudian menuntut terdakwa dengan 7 tahun penjara. Hal itulah yang kemudian membuat istri terdakwa tak terima dan meninggalkan anaknya.
Meski bujukan dari sejumlah jaksa diberikan, tapi istrinya terlihat tak goyah atas keputusannya meninggalkan buah hati ke suami yang masih mengenakan pakaian tahanan itu. Ia sempat menahan seorang ojek tapi gagal karena dicegat petugas dan suaminya. Namun, kemudian istrinya berjalan ke arah pertigaan Kantor Pos dan pergi entah kemana dengan ojek.(awi)

About uman