Home » Berita Utama » Alat Penyalur Rusak, Antrean Mengular
Alat Penyalur Rusak, Antrean Mengular
Seorang sopir bermain gadget sambil menunggu giliran untuk mengisi BBM di SPBU MT Haryono, Kecamatan Luwuk, Senin (26/12). Lambatnya pasokan BBM dari Pertamina ke SPBU karena terjadi kerusakan pada alat penyalur, membuat aktivitas sejumlah warga terganggu.

Alat Penyalur Rusak, Antrean Mengular

Langit bak sejengkal lagi di atas kepala. Tapi, awan hanya terlihat di utara Kota Luwuk. Tak menutupi mentari terik di siang kemarin (26/12). Pria paro baya itu berjalan setengah ngos-ngosan, mendorong sepeda motor bututnya yang mogok lantaran kehabisan bensin.
Alih-alih menjemput kerabat di Bandara S.A Amir, malah terhenti di Kelurahan Tombang Permai, Kecamatan Luwuk Selatan. Padahal, perjalanan pria ini sudah lebih dari separo karena dari Kelurahan Baru, Kecamatan Luwuk.
Saat beranjak dari rumah, isi tangkinya memang sekarat. Dengan harapan, antrean SPBU tidak mengular. Juga bensin eceran berlimpah ruah. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. “Saya ini mau jemput teman di bandara, tapi kosong bensin. Motor saya mogok ini,” katanya dengan keringat deras di dahinya.
Karena kesal, pria yang tak lagi sempat menyebutkan namanya ini menduga ada oknum-oknum yang sengaja menimbun bensin. Sebab, dipastikan dua wilayah, yakni, Kabupaten Bangkep dan Banggai Laut mengalami kondisi yang sama. “Di Luwuk saja sudah  langka, apalagi di Balut (Banggai Laut) dan Bangkep. Dua daerah itu kan ambil bensin dari Luwuk,” tutur pria berkulit putih itu.
Kemarin memang seharian penuh bensin di Kabupaten Banggai langka. Antrean  di seluruh SPBU tak terhindarkan. Kendaraan berjubel. Tak lagi bisa diketahui, mana pengendara yang benar-benar butuh bensin, mana yang antre kemudian menjual lagi secara eceran. Benar-benar pengap.
Harga bensin eceran meroket tak terkendali. Situasi dimanfaatkan demi meraup pundi pundi. Di Kecamatan Toili misalnya, per liter menembus Rp 15 ribu.”Kalau tidak ngantre mau dapat bensin di mana pak? Di penjual eceran saja semuanya kosong, kalau adapun itu mahal, sampai Rp 15 ribu per botolnya,” jelas Mina yang ditemui saat mengantre di SPBU Singkoyo, Kecamatan Toili.
Parahnya, antrean panjang tersebut didominasi jeriken. Akibatnya antrean kendaraan semakin panjang dan tak beraturan. “Saya dari siang mas, tapi sampai sore ini saya belum dapat juga, bagaimana mau dapat kalau jerikennya lebih banyak,” imbuh salah seorang pengantre, Puji, sekira pukul 16.30 Wita kemarin. Di Kecamatan Batui dan Batui Selatan pun demikian. Harga eceran per liter menembus Rp 15 ribu.
Di Kecamatan Moilong malah sempat terjadi kericuhan di tengah membludaknya pengantre di SPBU setempat. Penyebabnya, antrean tak teratur. “Antreannya gak diatur rapi, jadi perkelahian terjadi,” ujar Pebri salah seorang pengantre.
Pengamanan di SPBU tersebut dinilai kurang. Sebab, kericuhan di SPBU itu bukan kali pertama. “Jadi gak tenang, gak saling menghargai, harusnya diatur bagus supaya tertib,” pungkas Abdullah yang juga mengantre di SPBU itu.
Di Kota Luwuk pun antrean terus mengular sejak pagi hingga sore kemarin. Dahlan, seorang pengecer menyatakan, kelangkaan bensin sudah terjadi sejak Minggu sore (25/12). Itu terjadi akibat empat SPBU di Kota Luwuk dan sekitarnya ditutup karena libur Natal. Kata dia, hampir setiap menit pengendara menanyakan stok bensin miliknya.
“Kalau pun dibayar Rp50 ribu per botol, tetap tidak bisa. Soalnya stok bensin habis Minggu sore,”  jelas Dahlan.
Sejumlah pihak menduga kelangkaan bensin karena terjadi penimbunan. Namun, hal itu dibantah Kapolsek Luwuk, AKP Suwardi. Menurut dia, hal itu terjadi karena adanya kerusakan pada alat penyalur bensin dari PT Pertamina TBBM Luwuk ke mobil tangki. “Terdapat trouble pada mesin meteran dari tangki penimbunan ke truk-truk yang akan menyalurkan BBM ke SPBU,” ucap Suwardi.
Ia mengaku informasi tersebut didapatnya saat bertandang  ke perusahaan pelat merah tersebut di Kelurahan Bungin Timur, Kecamatan Luwuk sekira pukul 10.00 Wita dan bertemu langsung dengan Head Of Operation PT Pertamina TBBM Luwuk, Syamsir. “Kami langsung melakukan pengecekan ke lokasi melihat alat meteran yang trouble. Namun tepat pukul 11.30 WITA, alat meteran tersebut sudah bisa berfungsi,” ungkapnya.
Suwardi mengaku, lambatnya penyaluran bahan bakar minyak (BBM) hanya terjadi pada jenis Premium. Sedangkan jenis solar aman. “Tidak ada penimbunan BBM,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banggai, Safari Junus, menyatakan, kelangkaan bensin terjadi karena kebutuhan masyarakat meningkat. Selain itu, akibat mesin pompa Depot Pertamina mengalami kerusakan sehingga tidak dapat menyuplai premium ke mobil tangki. “Tapi dari sisi kuota tersedia sampai akhir tahun. Menjadi langka karena kebutuhan tinggi pada long weekend kemarin, juga ada masalah pada mesin pompa,” ungkapnya.
Selain itu kata dia, akibat kemampuan SPBU dalam menebus kuota bensin. “Ini juga karena kemampuan SPBU dalam menebus jatah premium. Karena ada libur bank bank masih tutup sehingga kuota bensinnya belum dibayar,” katanya.
Ia yakin antrean panjang kendaraan di SPBU SPBU akan berlangsung normal kembali. Sebab, dari pihak Depot Pertamina juga terus memantau  kondisi distribusi BBM. “Agar tidak menyulitkan masyarakat, Depot sudah mensiasati kerusakan mesin pomda dengan cara manual. Sampai siang ini SPBU MT Haryono juga sudah mendapatkan suplai premium empat mobil tangki. Itu sekira 32 ton,” katanya. Safari optimis kebutuhan masyarakat akan terpenuhi sampai akhir tahun.”Besok insya allah sudah normal kembali,” katanya. (awi/um/tr-54/ali/ajy/ris)

About uman