Home » Berita Utama » Tak Berkembang Biak di Banggai, Dipelihara di Batui
Tak Berkembang Biak di Banggai, Dipelihara di Batui
Masyarakat adat di kecamatan Batui saat melakukan upacara Tumpe Jumat (2/12), yakni mengantar telur burung Maleo dari Kecamatan Batui ke Keraton Banggai yang berlokasi di Kota Banggai, Kabupaten Banggai Laut. Upacara adat tersebut sudah menjadi tradisi setiap tahun di bulan Desember.

Tak Berkembang Biak di Banggai, Dipelihara di Batui

Tangan kanan Raiyani Muharramah lurus ke depan sembari menggenggam flash, tangan kirinya memegang kamera nikon. Matanya fokus pada Ja’a, warga Kelurahan Tolando yang dipercayakan menyerahkan telur burung maleo dari perahu bermesin katinting ke kapal laut berukuran cukup besar di muara Sungai Batui, Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai menuju Kabupaten Banggai Laut.
Fotografer perjalanan itu memotret Ja’a di atas kapal laut yang berkonstruksi kayu itu, seusai prosesi ritual adat tumpe selesai. Raiyani memang sejak 1 Desember sudah berada di Kota Luwuk Kabupaten Banggai. Wanita berhijab itu sengaja ke daerah ini untuk mengabadikan prosesi adat tumpe. “Iya untuk saksikan ritual adat tumpe,” tutur wanita asal DKI Jakarta itu.
Di sana juga ada Roni. Fotografer asal Kota Luwuk itu, juga ikut mengabadikan prosesi adat yang digelar setahun sekali tersebut. “Jam 2 ke sini (dari Luwuk ke Batui),” ucap Roni dengan kamera yang ditentengnya.
Tak hanya Raiyani dan Roni. Ritual adat tumpe memantik perhatian sejumlah media cetak maupun elektronik. Termasuk fotografer dari berbagai daerah. PT DS-LNG khusus menggelar lomba foto dengan tema ritual adat tumpe.
Ritual adat tumpe memang merupakan warisan sejarah di Kabupaten Banggai dan Banggai Laut. Jumat (2/11) puncak dari segala prosesi yang telah dilalui sejak Kamis (1/12). Sekira 100-an butir telur burung maleo diantar dengan upacara adat dari rumah adat di Desa Sisipan lalu ke muara Sungai Batui, Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui. Setelah itu diantar menuju Kota Banggai, Kabupaten Banggai Laut.
Ritual adat tumpe rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Sejak ratusan tahun silam. Kegiatan sakral itu memiliki cerita sejarah tersendiri sehingga tetap dipertahankan hingga saat ini.
Tidak banyak yang tahu cerita ritual adat tumpe. Terkecuali mereka yang masih ‘berdarah biru’. Salah satunya Samawia Yahya. Monsulangi Kabasaran atau Penjaga Kantir. Samawia merupakan penjaga dari berbagai perlengkapan adat yang digunakan saat ritual setelah telur maleo diantar dari Kecamatan Batui ke Kabupaten Banggai Laut.
Wanita kelahiran 1948 itu menceritakan asal-muasal ritual tumpe. Samawia menuturkan, ratusan tahun lalu, di Kerajaan Banggai di Kabupaten Banggai Laut, tak ada lagi raja yang memimpin. Saat itu, Adi Soko atau yang disebut warga setempat mumbu doi jawa, telah pulang ke daerah asalnya di Pulau Jawa. Adi Soko meninggalkan istrinya yang tengah dalam kondisi mengandung. “Adi Soko pulang membawa sepasang burung maleo,” tutur Samawia.
Sepuluh tahun kemudian, anak Adi Soko sudah lahir. Dia bernama Abu Kasim. Tetapi, kerajaan tak ada lagi yang memimpin. Masyarakat pun mulai bertanya-tanya. Akhirnya, seorang perempuan menyarankan kepada masyarakat agar mencari seorang anak lelaki yang sering bermain gasing. Dia adalah Abu Kasim. “Tali gasingnya itu emas,” kata dia.
Masyarakat pun menemukan Abu Kasim, lalu diperintahkan untuk mencari ayahnya di tanah Jawa. Abu Kasim pun menuruti permintaan itu. Tapi syaratnya, pelayarannya selama tiga bulan harus bersama dengan 40 bayi laki-laki. “Tiba di Tolokibit (sekarang salah satu desa di Kecamatan Banggai Selatan, Kabupaten Banggai Laut), ada petir. Bayi-bayi itu kemudian menjadi dewasa. Ayunan mereka dibuang ke laut,” jelasnya.
Abu Kasim pun melanjutkan perjalanan mencari ayahnya dan berhasil menemukan. Tapi, Adi Soko tak lagi mau kembali memimpin Kerajaan Banggai. Adi Soko hanya menyarankan anaknya agar menemui saudaranya di Ternate, Maluku Utara, Prins Mandapar jika belum bisa memimpin kerajaan. “Sepasang burung maleo itu dibawa untuk diberikan ke Mandapar,” ucapnya.
Prins Mandapar pun mengikuti Abu Kasim ke Kerajaan Banggai dan langsung memimpin. Burung Maleo juga dipelihara di kerajaan itu. Tetapi, selama bertahun-tahun, burung monogami itu tak berkembang biak karena kondisi alam yang tidak cocok.
Burung itu akhirnya dipindahkan ke Kecamatan Batui. Tetapi, syaratnya telur pertama harus dibawa ke Kerajaan Banggai untuk dibagikan kepada rakyat Prins Mandapar. “Di sini dipelihara di hutan Bangkiriang dan berkembang,” tutur Samawia. Sejak itulah, prosesi adat tumpe dimulai, hingga saat ini.
Sebelum diseberangkan dari Kecamatan Batui ke Kabupaten Banggai Laut, sejumlah prosesi adat harus dilewati. Akhir pekan kemarin, prosesi dimulai dari rumah adat di Desa Sisipan, lalu  dibawa ke perahu bermesin katinting ke kapal laut berukuran cukup besar di muara Sungai Batui, Kelurahan Tolando.
Sabtu pagi (3/12) sekira pukul 04.00 Wita, telur maleo diberangkatkan menuju Kabupaten Banggai Laut. Tetapi harus mampir di wilayah Pinalong, Kabupaten Bangkep dan di Tolo. Tolo adalah daerah seputar wilayah Mansalean, ibu kota Kecamatan Labobo.  Di tempat ini berlangsung prosesi adat, di mana rombongan pembawa telur Maleo dari Batui, Kabupaten Banggai akan singgah sebentar dan mengganti lapisan pelindung telur, sebelum melanjutkan perjalanan ke Banggai.
“Pembungkus 10 butir telur maleo itu dihanyutkan sebagai tanda bahwa pembawa dari Batui sudah sampai di Tolo,” katanya.
Setelah itu baru pelayaran dilanjutkan ke Kota Banggai Kabupaten Banggai Laut. Di sana, pembawa telur maleo harus singgah di Desa Tinakin Laut. Keesokan harinya berputar-putar di depan Banggai Lalongo yang menjadi tempat Abu Kasim.  “Kemudian baru ke kerajaan,” terangnya.
Sebelum menuju kerajaan, saat masih di Pelabuhan Banggai, pembawa telur dari Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai harus melapor kepada Jogugu (Seorang perangkat adat di Kabupaten Banggai Laut) yang telah menyambut. “Jogugu kemudian mengarahkan prajurit untuk menjemput telur itu,” tuturnya.
Dari ratusan telur yang akan diserahkan, 10 butir telur maleo harus dibawa sendiri oleh rombongan dari Kecamatan Batui. Penyerahan telur melalui Jogugu tidak langsung ke Raja Banggai. “Setelah diserahkan ada upacara adat di sana,” jelasnya.
Keesokan harinya, pembawa telur dari Kecamatan Batui kembali. Ketika tiba, tiga minggu berturut-turut, upacara syukuran digelar di tiga tempat. “Kegiatan adat di Lowa, Kuob, dan Matindok,” tuturnya.  (ali)

About uman