Home » Berita Utama » Siapkan Acara Adat Meriah di Tolo
Siapkan Acara Adat Meriah di Tolo
Syaiful Usuria

Siapkan Acara Adat Meriah di Tolo

BANGGAI-Acara adat penjemputan telur Maleo tinggal menghitung hari.  Perhelatan yang dikenal dengan sebutan Malabot Tumbe itu dipastikan sesuai jadwal tanggal 4 Desember nanti.
Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) dikabarkan makin intens bangun komunikasi dengan berbagai elemen adat.
Kepala Bidang Disparekraf, Hasmiaty Londol, mengatakan, baru saja menerima laporan sekaligus undangan dari Camat Labobo, Syaiful Usuria tentang persiapan Malabot Tumbe di wilayahnya.
“Beliau bilang, persiapan di Tolo akan dibuat sedikit berbeda dan dipastikan nuansa adatnya bakal lebih meriah,” ucapnya, Rabu (30/11).
Tolo adalah daerah seputar wilayah Mansalean, ibu kota Kecamatan Labobo.  Di tempat ini berlangsung prosesi adat, di mana rombongan pembawa telur Maleo dari Batui, Kabupaten Banggai akan singgah sebentar dan mengganti lapisan pelindung telur, sebelum melanjutkan perjalanan ke Banggai. “Acara di sana hari Sabtu. Tanggal 3 Desember. Pak Camat minta kami turut hadiri,” ujarnya. Miaty menyatakan, di kegiatan ini Disparekraf sudah membagi seksi-seksi  dan mereka sudah bekerja.  “Hari Jumat ini kami minta dukungan semua SKPD kerja bakti massal dari arah pelabuhan Tumbe hingga keraton Banggai. Sorenya kita gelar gladi  untuk kelompok ketinting (sampan hias),” terangnya lagi.
Disebutkan, puluhan perahu hias telah disiapkan menyongsong datangnya kapal pembawa telur dari Batui. Mereka akan menyertai prosesi ketika kapal tersebut berputar tiga kali di depan keramat Banggai Lalongo sebelum berlabuh di pelabuhan Tumbe.
“Disparekraf memfasilitasi memeriahkan acaranya sehingga tujuan promosi wisatanya tercapai. Sedangkan untuk penyelenggaran adatnya kita serahkan sepenuhnya pada masyarakat adat setempat,” tutupnya.
Anggaran Malabot Tumbe Rp 200 Juta Sementara itu, untuk membiayai sejumlah kegiatan dan promosi wisata Dinas Parekraf Balut, dalam APBD Perubahan, Pemda mengalokasikan anggaran sebesar Rp 400 Juta.
Di dalamnya termasuk untuk penyelenggaraan acara adat Malabot Tumbe, yang puncaknya bakal dilaksanakan Minggu (4/12) nanti.
Anggaran tersebut dirangkai pada tiga kegiatan berbeda yakni kegiatan Gerhana Matahari Total yang sudah dilaksanakan, kegiatan wisata bahari Togean, dan Malabot Tumbe.
Dari alokasi tersebut, acara Malabot Tumbe menyerap anggaran terbesar yaitu di kisaran Rp 200 Juta.
Kepala Bidang Anggaran DPPKA Balut, Abdul Suryojoyo menyatakan, anggaran untuk Malabot Tumbe adalah anggaran Dinas Pariwisata untuk membantu penyelenggaraan kegiatan masyarakat adat dan tidak dimaksudkan sebagai hibah pada lembaga adat. “Harap dipahami, ini (anggaran, red) adalah terkait promosi wisata pada item Malabot Tumbe, jadi bukan bantuan hibah untuk lembaga adat misalnya. Stakeholder dan pertanggungjawabannya ada di dinas,” tuturnya.
Hanya saja kata dia, untuk sukseskan acara Disparekraf berkewajiban menjalin kerja sama degn pranata adat setempat termasuk LMAB dan Keraton. Menyitir petunjuk ini, Hasmiaty Londol, Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Balut menjelaskan, pihaknya berkelindan dengan komponen-komponen adat yang ada sebagai fasilitator membantu pendanaan sesuai proposal yang masuk.
Tapi kata dia, wewenang persetujuan biaya di tangan dinas. “Memang ada keinginan agar prosesi Malabot Tumbe diserahkan sepenuhnya ke adat, jadi pariwisata terima bersih saja. Saya bilang boleh-boleh saja, tapi karena kita dibatasi kewajiban memasukan pertanggungjawaban keuangan yang sangat mendesak, sehingga untuk saat ini kami yang kendalikan dulu,” ungkapnya.
Persoalan anggaran Malabot Tumbe lanjutnya, sudah mengalami perubahan dari tetapan sebelumnya. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, Disparekraf hanya mengusulkan anggaran Malabot Tumbe sebesar Rp 29 Juta. Tetapi dalam rapat persiapan belum lama ini, Bupati Wenny Bukamo yang berharap acara ini bisa dibuat lebih meriah telah meminta Disparekraf mengajukan proposal anggaran tambahan. “Makanya kita dapat tambahan sekitar itu” paparnya.
Terkait keterlibatan penuh kelembagaan masyarakat adat setempat, Hasmiaty menyatakan, hal ini akan direncanakan kemudian jika Malabot Tumbe sudah jadi kalender tahunan pariwisata. “Untuk kedepan, kalau acara Malabot Tumbe bisa dimasukkan pada kalender  parwisata Balut, mungkin pola penanganannya bisa lebih diperluas,” tuntasnya.  (Sbt)

About uman