Home » Metro Luwuk » Dua Pengedar Diciduk Satres Narakoba
Dua Pengedar Diciduk Satres Narakoba
Dua pengedar berserta barang bukti 21 paket sabu diamankan ke Mapolres Banggai, Sabtu malam (26/11).

Dua Pengedar Diciduk Satres Narakoba

LUWUK-Dua pengedar narkoba jenis sabu-sabu, Rusli Musa Loso alias Utu (37) dan Candra Musa alias Odi (27), diciduk Satuan Reserse (Satres) narkoba Polres Banggai, di jalan Sungai Bunta, Kelurahan Kaleke, Kecamatan Luwuk, Sabtu malam (26/11) sekira pukul 22.15 Wita.
Dalam penangkapan tersebut, Satres Narkoba berhasil mengamankan 21 paket sabu. 10 paket di tangan Utu, sementara 11 paket sisanya di tangan Odi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, penangkapan dilakukan berdasarkan informasi dari sumber, bahwa akan ada transaksi sabu di Kelurahan Kaleke. Atas informasi tersebut, Ia bersama beberapa personil Satres Narkoba langsung ke lokasi.
Setelah tiba, mereka langsung meringkus Odi, dengan barang bukti 11 paket sabu. Saat itu, pelaku lainnya, Utu, masih duduk di teras rumahnya. Karena mengetahui kedatangan polisi, Utu langsung masuk ke dalam rumah. “Waktu di dalam rumah, Utu membuang sesuatu di dalam kloset. Kami curiga yang dibuang itu sabu-sabu,” ungkap Kasat Narkoba Polres Banggai, Iptu Chandra, Sabtu (26/11) saat ditanya usai penangkapan.
Meski demikian, polisi tidak putus asa. Setelah dilakukan penggeledahan, akhirnya polisi menemukan 10 paket sabu di saku Utu. “Selain 21 paket sabu, kami juga mengamankan HP pelaku. Saat ini barang bukti dan pelaku sudah diamankan ke Mapolres Banggai untuk pengembangan penyelidikan,” katanya.
Sementara itu, pelaku Odi saat dikonfirmasi wartawan sumber barang haram tersebut diperoleh, Ia mengungkapkan, 10 paket sabu itu diambil dari dalam Lapas Kelas IIB Luwuk. “Saya dapat dari dalam Lapas, namanya Jul. Saya tidak tahu Jul itu napi atau apa,” bebernya.
Biasanya kata dia, Ia melakukan transaksi melalui jendela Lapas. Sebelum transaksi, Ia berkomunikasi via telepon, kemudian janjian di jendela Lapas dekat portir. “Saya transaksi lewat jendela itu sudah hampir 10 kali,” tutur Odi.
Ia menjalankan bisnis haram ini sekira 2 bulan, dengan keuntungan terbilang sedikit. Biasanya, paket yang diambil dengan harga Rp1,2 juta, untungnya hanya sekira Rp200 ribu saja. “Saya ini kan pemakai juga. Jadi hasilnya keuntungan juga untuk habis dipakai beli sabu untuk dikonsumsi sendiri,” katanya.
Berbeda dengan Odi yang buka-bukaan. Utu terkesan tertutup. Bahkan ditanya sumber narkoba, Utu bungkam. Hanya saja, Ia menyadari resiko pekerjaan yang dilakoni. “Kalau sudah ditangkap begini, mau bagaimana lagi. Ini adalah resiko pekerjaan,” kata Utu.
Utu mengaku, bahwa dirinya pemakai aktif. Sehingga, melakoni bisnis haram itu dilakukan secara terpaksa. “Saya ini makai juga. Dari pada saya beli di orang lain, lebih baik saya menjual. Untunganya kan bisa beli lagi,” tuturnya, Minggu siang (27/11) saat diperiksa penyidik.(awi)

About uman