Home » Kampus » Tujuh Masalah Kampus Tuai Aksi Mahasiswa
Tujuh Masalah Kampus Tuai Aksi Mahasiswa
Wakil rektor III Unismuh Luwuk, Abd. Ukas, saat menemui masa aksi, dan membahas persoalan yang dibawa mahasiswa, Senin (21/11).

Tujuh Masalah Kampus Tuai Aksi Mahasiswa

LUWUK-Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah, melakukan aksi demonstrasi di depan kampus, Senin (21/11).
Aksi mahasiswa ini menuntut pihak rektorat untuk menyelesaikan tujuh persoalan yang tengah dihadapi Unismuh Luwuk, seperti persoalan pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) dan pembentukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), kejelasan status kampus dua, kelanjutan Rektor Cup, pengadaan ruangan laboratorium sesuai kebutuhan, memperjelas ruang ruang kuliah setiap fakultas, pengadaan sekretariat BEM-BEM Fakultas, hingga transparansi anggaran.
Menurut mahasiswa, hingga hampir tiga tahun terakhir mahasiswa Unismuh Luwuk tidak memiliki Presma. Hal itu merupakan suatu kegagalan, mengingat wakil rektor III Unismuh Luwuk, Abd. Ukas, sebelumnya telah berjanji untuk menyelesaikan pemilihan Presma setelah pelaksanaan taaruf beberapa bulan lalu.
“Wakil rektor III hanya meberikan janji manis, tanpa realisasi. Buktinya, sampai saat ini Presma Unismuh tak kunjung ada,” ungkap mahasiswa.
Selain itu, lanjut mereka, status kampus dua Unismuh Luwuk harus mendapatkan kejelasan, pasalnya hingga saat ini pembangunan di kampus tersebut masih terhenti. “Kampus dua harus diperjelas. Sehingga perkuliahan mahasiswa bisa dilakukan di kampus dua,” tuntut mereka.
Mereka juga berharap adanya kejelasan tentang pelaksanaan kegiatan Rektor Cup yang hingga saat ini belum juga dilanjutkan. Ini menjadi tuntutan mahasiswa, sebab sebelumnya wakil rektor III juga berjanji bahwa pelaksanaan Rektor Cup akan dilanjutkan setelah agenda taaruf.
Biaya kuliah yang semakin hari semakin meningkat, membuat mahasiswa menuntut ketersediaan sarana dan prasarana perkuliahan, seperti ruang kuliah yang nyaman dan mencukupi, serta ketersediaan ruang laboratorium untuk praktik mahasiswa di setiap fakultas. Mereka juga menuntut adanya transparansi anggaran universitas, yang dinilai tertutup bagi mahasiswa, sementara biaya pendidikan setiap tahunnya semakin meningkat.
Selain ketersediaan ruang perkuliahan dan ruang laboratorium, adanya sekertariat BEM-BEM fakultas juga sangat diharapkan, untuk menjadi wadah mahasiswa dalam mengkaji persoalan persoalan daerah.
“Masih banyak BEM-BEM yang sampai saat ini tidak memiliki sekertariat, sehingga BEM fakultas tidak memiliki wadah untuk mengkaji persoalan-persoalan yang ada,” jelas mahasiswa.
Sementara itu, wakil rektor III, Bidang Kemahasiswaan Unismuh Luwuk, Abd. Ukas, saat menemui massa aksi berjanji akan menyelesaikan persoalan persoalan yang menjadi tuntutan mahasiswa. Untuk persoalan pemilihan presam dan kelanjutan Rektor Cup, ia berjanji akan ditindak lanjuti pada awal bulan Desember 2016 mendatang. Menurutnya, tertundanya pemilihan Presma dan kelanjutan Rektor Cup akibat banyaknya agenda rektorat, seperti agenda taaruf, wisuda mahasiswa, hingga agenda kedatangan guru besar di Unismuh Luwuk.
“Pemilihan Presma nanti kita akan lakukan setelah pemilihan dekan dan wakil dekan III bulan Desember. Minimal kita adakan dulu pejabat Presma sementara,” ungkapnya di hadapan mahasiswa.
Tidak hanya menjawab persoalan pemilihan presma dan kelanjutan Rektor Cup, ia juga menjawab kejelasan kampus dua, yang menjadi persoalan mahasiswa. Menurutnya, pembangunan kampus dua saat ini sementara dihentikan, mengingat belum adanya ketersediaan listrik dari PLN. Pembangunan kampus sementara ini dipusatkan di kampus satu, seperti penambahan ruang kelas yang saat ini dilakukan di lantai dua, tiga, dan lantai empat gedung perkuliahan.
Selain itu, ia juga menjawab keluhan mahasiswa terkait banyaknya jam perkuliahan mahasiswa yang saling bertabrakan. Untuk mengantisipasi kelanjutan hal itu, ia berjanji pihak rektorat akan memanggil dekan dan wakil dekan I, untuk menyesuaikan kembali jadwal perkuliahan mahasiswa.
“Nanti kita akan intruksikan agar dosen penanggung jawab mata kuliah itu tidak mengubah jam kuliah, agar tidak terjadi tabrakan,”jelasnya.
Aksi mahasiswa yang sempat diwarnai bakar ban itu akhirnya mereda setelah wakil rektor III menjawab semua tuntutan mahasiswa. Mahasiswa berharap, jawaban atas persoalan yang dibawa mahasiswa bisa ditindak lanjuti sesuai dengan janji wakil rektor III di hadapan mahasiswa. (and)

About uman