Home » Politik » Porporsional Tertutup Minimalisasi Politik Uang
Porporsional Tertutup Minimalisasi Politik Uang
Sutrsino K. Djawa

Porporsional Tertutup Minimalisasi Politik Uang

LUWUK– Sistem porporsional tertutup yang bakal diterapkan pada pileg 2019, menyusul adanya revisi undang-undang nomor 8 tahun 2012 tentang pemilu, memiliki kelemahan. Tapi dibalik itu ada kelebihannya. Salah satunya dapat meminimalisasi praktik politik uang (money politic).
Pendapat ini dikemukakan aktivis akademisi, Sutrisno K. Djawa kepada Luwuk Post, Senin (14/11). Wakil Rektor II Unismuh Luwuk ini menjelaskan, sistem caleg terpilih berdasarkan nomor urut ini dianggap mampu menekan high cost di pemilu. Sebab  masyarakat cukup memilh partai. Sementara partai hanya akan mengirim para kader terbaiknya ke parlemen. Hal ini juga yang menyebabkan terjadi deparpolisasi, mengingat dengan modal uang dan popularitas figur secara instan bisa terpilih tanpa susah payah jadi pengurus partai.
Akan tetapi dibalik kelebihan tadi, Sutrisno juga membeberkan sejumlah kelemahan apabila sistem porporsional terbuka tidak diterapkan pada pileg mendatang. Kelemahannya, akan memperkuat sistem oligarki kepartaian dan menguatnya partai (struggle of power). Selanjutnya, proporsional tertutup bisa dianggap kembali kepada sistem orde baru (orba), mempersempit saluran partisipasi masyarakat dalam pemilu, menjauhkan antara wakil rakyat dan pemilih pasca pemilu, komunikasi tidak berjalan efektif serta krisis calon. “Akan sedikit yang berminat menjadi caleg, karena yang duduk di kursi parlemen sudah ditentukan partai,” jelas Sutrisno.
Ini ibarat dua kutub yang saling berlawanan. Terlebih lagi ditingkat pusat terjadi perdebatan antara pro dan kontra, apakah tetap menggunakan porporsional terbuka atau kembali pada sistem porporsional tertutup.
Terlepas masih adanya tarik menarik, bagi pak No sapaan akrab Sutrisno K. Djawa, karena sudah menggunakan sistem porporsional terbuka, kedepan tinggal bagaimana memperbaiki instrumen dan mekanisme dalam rekrutmen, termasuk penetapan kader partai sehingga sinyalemen tadi tidak terbukti. “Apalagi saat ini kita telah berada di depan dengan politik keterbukaan yang bertanggung jawab,” kata dia. (yan)

About uman