Home » Metro Luwuk » Giat Sosialisasi agar Maleo Terjaga dari Kepunahan
Giat Sosialisasi agar Maleo Terjaga dari Kepunahan
Noval Suling, saat memperlihatkan salah satu koleksi burung Maleo di ruang kerjanya, Dinas Pendapatan Banggai, Senin (14/11). Ia begitu peduli dengan populasi burung Maleo, yang mulai langkah dan hanya terdapat di pulau Sulawesi.

Giat Sosialisasi agar Maleo Terjaga dari Kepunahan

Pria ini sangat mencintai burung Maleo. Ia juga gemar dengan dunia fotografy. Hasil karya foto itulah yang disebarluaskan sebagai bentuk sosialisasi di dunia maya. Sehingga tidak sedikit warga baik dari Indonesia, hingga luar negeri mengetahui salah satu satwa yang dilindungi karena hampir punah itu ada di kabupaten Banggai.

Laporan: Fajri Rahmadhani, Luwuk Post

NOVAL Suling namanya. Meski hari-harinya lebih banyak dihabiskan sebagai pegawai di Dinas Pendapatan Banggai, namun sesekali Ia menyempatkan berkunjung ke lokasi penangkaran burung Maleo yang ada di Desa Taima, Kecamatan Bualemo.
Di sana, Ia bersama sejumlah rekannya yang tergabung dalam Aliansi Konservasi Tompotika (Alto) yang fokus dalam perlindungan hewan langkah, bersama-sama menjaga agar burung endemik Sulawesi itu agar bisa tetap terlihat hingga ratusan tahun kemudian.
Noval mengaku sangat mencintai burung yang menjadi ikon Kabupaten Banggai, karena punya peran saling ketergantungan dengan alam  yakni bisa menyebar benih, yang berdampak juga pada manusia. “Alasan lain juga karena gemar foto satwa,” terang peraih juara tiga dalam lomba fotografi Luwuk Landcape SILU 2016 kemarin.
Berbagai cara ia dan rekannya lakukan, agar masyarakat benar-benar sadar akan pentingnya menjaga burung Maleo dan hewan langkah lainnya seperti kura-kura, salah satunya dengan melakukan gerakan sosial layaknya kampanye tentang Maleo, baik di lingkungan masyarakat hingga sekolah, karena jika sejak dini sudah dibekali dengan kesadaran akan satwa maupun lingkungan, tentu akan berdampak baik ketika siswa tersebut tumbuh dewasa. “Kami sering buat pameran yang memperlihatkan foto burung Maleo, hingga mengadakan drama yang membawa pesan pelestarian satwa,” tandas pria yang menjabat sebagai govertemen manager relation di Alto itu.
Menurutnya, burung Maleo lebih menyukai tinggal dan beradaptasi di wilayah kepala burung, sebutan ujung Timur, Kabupaten Banggai. Karena hutannya yang masih terjaga, terlebih di tengah-tengahnya ada gunung tinggi yang disebut Tompotika. Ia bahkan menyebut di gunung tersebut masih banyak satwa langka yang tidak ada di daerah lain. “Disana ada cucurut (tikus hutan) kadal batik, hingga reptil,” ungkap kelahiran Luwuk, 2 November 1980 itu.
Kehadiran Alto yang sudah bertahun-tahun pun kini mendapat dukungan. Tidak hanya dari masyarakat, aparat desa, tetapi juga dari pihak berwajib yakni polsek. Sehingga ketika ada oknum yang hendak menggangu burung Maleo dan satwa langka lainnya, anggota polsek tidak segan-segan menindakinya. “Kami melihat aparat hukum di Bualemo sangat merespon dengan perlindungan satwa dan hewan lainnya,” akunya.
Namun masih ada satu harapan darinya bersama rekan Alto, yakni berharap pemerintah menjadikan kawasan hutan di Kecamatan Bualemo yang luasnya sekira empat ribu hektar sebagai ekosistem atau hutan lindung yakni menjadi rumah bagi hewan dan tumbuhan. “Bupati Banggai sudah menyepakati, tinggal menunggu tanda tangan dari Gubernur Sulteng,” akunya.
Menurutnya, karena Maleo menjadi ikon Kabupaten Banggai, maka tidak ada salahnya Pemda bisa mengupayakan agar hutan ekosistem bisa tercapai, agar ribuan burung Maleo yang bersarang di wilayah kepala burung tidak pergi atau berpindah tempat, hanya karena terganggu maraknya pembangunan. “Jangan ambil, makan telur dan daging Maleo,” pungkasnya.(*)

About uman