Home » Berita Utama » Kemenag Bentuk Tim Validasi
Kemenag Bentuk  Tim Validasi
Camat Luwuk memprakarsai pertemuan membahas polemik pembangunan rumah ibadah di Kelurahan Bungin, Rabu (9/11). Pada rapat di kantor Kecamatan Luwuk itu perwakilan panitia pembangunan gereja tak hadir.

Kemenag Bentuk Tim Validasi

LUWUK– Rapat menyikapi polemik pembangunan gereja Bethel di Kelurahan Bungin Timur dilaksanakan di kantor Camat Luwuk, Rabu (9/11). Pertemuan yang dipimpin Camat Luwuk Subhan Lanusi itu dihadiri Kementerian Agama (Kemenag) Banggai, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Banggai, Polres Banggai, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), Forum Umat Islam (FUI) Bungin dan Bungin Timur beserta warga. Hanya saja tak ada satupun perwakilan panitia pembangunan gereja yang hadir.
Kepala Kemenag Kabupaten Banggai, DR Qasim Yamani menjelaskan, pihaknya telah membentuk tim observasi dan validasi. Tim ini berperan menindak lanjuti usulan warga untuk pembangunan rumah ibadah. Terkait dengan pembangunan gereja Bethel, tim menilai telah memenuhi syarat. Sehingga dikeluarkan rekomendasi.  Akan tetapi sambung Qasim, dengan adanya komplain warga, maka perlu ditindak lanjuti oleh pihak yang berkompoten. “Itu antara lain yang kami sampaikan pada rapat bersama Bupati, Ketua DPRD dan unsur Forkopimda di kantor Kesbangpol,” kata Qasim.
Kepala BPMPPT Kabupaten Banggai, Ernaini Mustatim mengatakan, jika mendasari surat kesepakatan bersama (SKB) dua Menteri, pembangunan rumah ibadah itu sudah bersyarat. Selain adanya dukungan tanda-tangan minimal 90 warga pengguna juga telah disetujui oleh minimal 60 warga yang tinggal disekitar lokasi. Begitu pula telah ada izin formal dari BPMPPT, rekomenasi dari Dispetarung serta FKUB.
“Tanggal 17 Januari keluar rekomendasi Dispetarung, tanggal 27 Januri rekomendasi dari FKUB dan tanggal 9 Mei 2016 keluar izin Bupati Banggai. Secara legalitas formal sudah terpenuhi,” kata Ernaini.
Penjelasan instansi berkompoten itu langsung terbantahkan, setelah Camat Luwuk Subhan Lanusi memberi kesempatan kepada warga untuk menyampaikan testimoni terkait dukungan tanda-tangan.
Sapruddin warga RT 5 Bungin Timur mengaku keberatan. Sebab nama-nama yang membubuhi tanda tangan tak jelas keberadaannya. “Dari mana nama-nama yang terlampir. Sementara warga yang tinggal disekitar lokasi tidak ada,” kata Sapruddin.
Muhtar Mahmud warga RT 3 juga mempertanyakan adanya tanda-tangannya yang mendukung pembangunan gereja. “Kan aneh, saya tidak setuju, tapi nama dan tanda-tangan saya ada dalam lampiran itu,” kata Muhtar. Hal senada dikatakan Akbar. Warga setempat ini mengaku tanda-tangannya dipalsukan. “Nama dan tanda-tangan saya ada. Tapi kapan saya menandatanganinya,” tanya dia.
Ketua RT 2 Salehuddin mengaku bingung. Pasalnya, panitia mencatut namanya untuk mendukung pembangunan rumah ibadah. Sementara faktanya, Dia tidak pernah bertanda-tangan. Andri Gunawan warga RT 2 mengaku telah menandatangani kertas yang disodorkan panitia. Tapi saat itu panitia menyodorkan kertas tanpa kop surat. “Saya sempat tanya tanda-tangan untuk apa ini. Soalnya tidak ada kopnya. Sayapun tanda-tangan, karena saya percaya atasan saya (mantan Lurah Bungin Timur Samuel),” kata Andri. Keberatan lain juga disampaikan Yaya Sofia. Staf Kelurahan Bungin Timur ini mengaku menandatangani selembar kertas itu pada kop surat yang kosong. “Saya keberatan, karena tidak jelas apa yang ditanda-tangan,” ujarnya.
Dari sejumlah warga yang memberi testimoni, satu diantaranya mendukung. Dia adalah Dedi Labalo warga RT 4. “Saya sempat didatangi panitia. Penjelasannya tentang pembangunan gereja. Saya Muslim. Tapi bagi saya itu tidak ada persoalan, sehingga saya menandatanganinya,” ujarnya.
Ketua FUI Bungin dan Bungin Timur, Firmansyah mengatakan, secara administrasi persyaratannya lengkap. Tapi proses dibawahnya illegal. Forum ini tekan Firmansyah tidak berniat memprovokasi warga. Tapi keberadaannya untuk menampung aspirasi warga yang keberatan atas pembangunan rumah ibadah itu.
“Kami telah buat tim investigasi. Hasilnya, dari 76 warga yang menandatangani, 26 diantaranya mengaku tidak pernah memberi persetujuan. Dan kami punya data soal kerancuan itu,” ujar Firmansyah. Lagi pula sambung dia, tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu, lantas sudah dilakukan peletakkan batu pertama.
Sekretaris FUI Bungin dan Bungin Timur, Ustad Erik menyesalkan panitia yang tidak hadir pada pertemuan ini. Padahal ini menjadi momentum tepat untuk bermusyawarah. “Pak Seklur Bungin Timur sudah mengundang semua pihak, termasuk panitia pembangunan gereja. Tapi mengapa mereka tak hadir. Harusnya berani berbuat, berani juga bertanggung jawab,” sindir Ustad Erik.
FUI Bungin dan Bungin Timur rencananya akan melayangkan surat kepada Bupati Banggai untuk mencabut izin pembangunan rumah ibadah.
Kemenag Banggai Qasim Yamani mengatakan, ini bukan lah rapat terakhir. Masih akan ada pertemuan lanjutan. Hasil rapat ini akan ditindak lanjuti pada pertemuan ditingkat kabupaten. (yan)

About uman