Home » Berita Utama » Sembunyikan Sabu di Bungkus Rokok dan Pembalut Wanita
Sembunyikan Sabu di Bungkus Rokok dan Pembalut Wanita
Barang bukti berupa 18 paket sabu-sabu dan handphone yang diamankan polisi dari tersangka Midun, Sabtu (22/10).

Sembunyikan Sabu di Bungkus Rokok dan Pembalut Wanita

LUWUK-Lapas Kelas IIB Luwuk selalu kebobolan. Mulai dari narapidana yang bebas menggunakan handpohone (HP), hingga mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi. Hal itu terbukti dengan beberapa kali penangkapan kasus narkoba oleh Satuan Reserse (Satres) Narkoba Polres Banggai. Bahkan beberapa narapidana ikut terjerumus dalam bisnis haram itu.
Terbaru, Satres Narkoba Polres Banggai berhasil mengamankan 18  paket narkoba jenis sabu-sabu siap edar dari tangan pelaku Ali Yusuf alias Midun (21), di jalan baru kompleks pasar Simpong, Kelurahan Simpong, Kecamatan Luwuk Selatan, Sabtu malam (22/10) sekira pukul 21.00 Wita.
Dari 18 paket sabu-sabu itu, 5 paket seberat 1 gram dikemas dalam pembalut wanita. Sementara 6 paket seberat seperempat gram dan 7 paket seharga Rp 300 ribu per paket dimasukan ke dalam bungkusan rokok.
“Kami temukan 18 paket sabu itu, di dalam saku celana pelaku. Kalau dihitung seluruhnya, dari 18 paket ini harganya mencapai Rp17,7 juta,” ungkap Kasat Narkoba Polres Banggai, Iptu Chandra, Sabtu malam, usai penangkapan.
Dari pengakuan pelaku, barang haram tersebut diperoleh dari dari dalam Lapas Kelas IIB Luwuk. Tapi, pelaku bungkam ketika ditanya siapa yang mensuplai 18 paket sabu siap edar itu. “Nanti kami akan periksa dia (pelaku_red) lagi. Intinya, dia sudah mengakui barang (sabu_red) diambil dari dalam Lapas,” tuturnya.
Selain 18 paket sabu, Satres Narkoba juga mengamankan 1 unit HP Samsung milik pelaku. “Untuk saat ini, barang bukti dan pelaku sudah diamankan di Polres Banggai untuk pengembangan penyelidikan,” kata Chandra.
Di sisi lain, sejumlah pihak mempertanyakan keseriusan petugas Lapas Kelas IIB Luwuk dalam hal zero HP dan narkoba sesuai  instruksi Kementrian Hukum dan HAM (KemenkumHAM).
Pasalnya, sejak Januari hingga September 2016, terdapat tiga narapidana kasus narkoba yang ditangkap di dalam Lapas karena kedapatan membawa narkoba. Empat kali penangkapan di portir Lapas. Dari  80 kasus penangkapan di luar Lapas 70 persen pelaku mengakui barang haram tersebut berasal dari dalam Lapas. Selain itu, masih banyak narapidana yang bebas menggunakan HP di balik jeruji besi. Hal itu terpantau dari postingan narapidana di sosial media fecebook.
Dengan kondisi seperti itu Lapas Kelas IIB Luwuk dipastikan sudah menjadi sarang narkoba. Belum lagi HP yang digunakan untuk mengendalikan distribusi narkoba, mulai dari pengiriman hingga penyaluran ke pengguna. “Yang paling penting saat ini  petugas Lapas harus merazia HP narapidana. Karena untuk memutus mata rantai, harus melalui HP agar tidak ada lagi komunikasi,” tandas seorang warga Luwuk, Moh Dahlan, Minggu (23/10).
Publik juga mempertanyakan keseriusan pimpinan Lapas Kelas IIB Luwuk, JFK Johannes dalam memberantas narkoba. Pasalnya, sampai detik ini, Johannes belum bisa membuktikan bahwa petugas  Lapas bersih narkoba melalui tes urine. Padahal Johannes pernah berjanji akan berkoordinasi dengan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Banggai. “Sampai sekarang petugas Lapas belum dites urine. Dengan demikian, selama belum ada hasil tes urine, maka opini masyarakat yang mencurigai keterlibatan sipir memelihara sarang narkoba di Lapas itu benar adanya,” tegas pria berkulit sawo matang itu.(awi)

About uman