Home » Politik » Dicibir Saat Nyaleg, Berbuah Dua Periode di Parlemen
Dicibir Saat Nyaleg, Berbuah Dua Periode di Parlemen
Sebagai Ketua DPC Partai Hanura Banggai, I Wayan Supadiyasa bercita-cita ingin membesarkan partainya. Targetnya Hanura mendominasi kursi di DPRD Banggai.

Dicibir Saat Nyaleg, Berbuah Dua Periode di Parlemen

SEBELUM menjadi ketua partai dan aleg dua periode, I Wayan Supadiyasa punya pengalaman menarik. Selain berkisah, Ia juga berobsesi. Pada pileg 2019 Partai Hanura merajai parlemen lalong.

SOFYAN LABOLO-LUWUK POST

RUANGAN itu tak luas. Hanya berukuran 3×3 meter. Didalam ruangan yang cat warna putihnya mulai memudar itu perabotnya tak lengkap. Hanya tiga buah kursi plastik dan satu meja setengah biro. Dari luar ruangan sudah terlihat baliho berukuran 1 x 1,5 meter. Disana terpampang jelas wajah pemilik ruangan tersebut. Dia adalah I Wayan Supadiyasa.
Wawancara pada Rabu (12/10) kemarin itu, diagendakan pada pukul 10.00 wita. Karena padatnya aktivitas Supadiyasa sehingga interviu itu baru dimulai pukul 12.40 wita. “Maaf tadi saya lagi berkunjung pada sejumlah konstituen, sehingga pertemuan ini molor,” kata Supadiyasa yang langsung mengklarifikasi Luwuk Post baru tiba di kantor DPC Partai Hanura Kabupaten Banggai jalan Gunung Lompobatang Kelurahan Baru Kecamatan Luwuk itu.
Di kalangan politisi di Kabupaten Banggai, nama Supadiyasa tak asing. Selain dia ketua partai sekaligus legislator dua periode. Satu hal yang membedakan antara Supadiyasa dengan wakil rakyat lainnya di parlemen lalong. Dari 35 aleg, Supadiyasa termuda.
Pria kelahiran 11 Mei 1982 ini sedikit berkisah tentang perjalanan politiknya menuju kursi empuk legislatif. Pada pencalegkan di pemilu legislatif (pileg) 2009 lalu, Supadiyasa tak masuk hitungan sebagai rival terberat. Karena Supadiyasa dianggap masih terlalu hijau untuk urusan politik. Malah saat nyaleg Supadiyasa sempat dicemooh oleh para pesaingnya di dapil II. “Mana mungkin anak kemarin jadi aleg. Masih butuh waktu untuk memahami politik,” kata Supadiyasa mengutip cibiran caleg lain saat itu.
Hal itu yang kemudian menjadi spirit sekaligus menambah keyakinannya bahwa tidak ada yang mustahil jika dilakoni dengan kerja keras. “Saya berpegang pada salah satu filosofi barat bahwa apa yang engkau pikirkan itulah yang terjadi,” kata lelaki 2 anak ini.
Talenta politik memang sudah tertanam pada diri Supadiyasa. Selain berasal dari keluarga politisi, disiplin ilmunya juga menunjang. Bahkan hasrat menjadi aleg sudah ada sejak masih duduk di bangku SMA. “Saya terjun ke dunia politik setelah selesai menyelesaikan studi S1 di Untika Luwuk serta S2 di Untad Palu. Ilmu itulah yang saya terapkan,” ujarnya.
Pada pileg 2009 lalu, Supadiyasa meraih 2.007 suara atau kursi keenam dari 12 kursi yang disiapkan di dapil II. Keberhasilan yang ditorehkan itulah sekaligus menjawab bahwa pendatang baru di ranah politik jangan dipandang sebelah mata.
Ketatnya kompetisi pada pileg 2014, cukup mengganggu eksistensi Supadiyasa dalam mendulang perolehan suara. Tampilnya 10 caleg asal etnis Bali di dapil II berdampak menurunnya perolehan suaranya. “Saya hanya meraih 1.928 suara. Itu karena eks tim sukses di pileg 2009 ikut menjadi caleg di pileg 2014,” kata Wakil Ketua Komisi III DPRD Banggai ini.
Kesuksesan Supadiyasa menjadi aleg dua periode, diikut pula pada karirnya di partai politik. Sejak bergabung di Hanura, jabatan awal Wakil Ketua PAC Kecamatan Toili Barat, yang saat itu DPC Hanura Banggai diketuai Ramli Ishak Kuku. Pada kepemimpinan Syafrin Luneto, Supadiyasa naik pangkat. Dia menjabat Wakil Ketua Kaderisasi. Momentum Musda DPC Hanura Banggai yang dilaksanakan Februari 2016, menjadi pintu masuk Supadiyasa menjadi ketua partai.
Bukan pekerjaan mudah bagi Supadiyasa untuk memaksimalkan perolehan kursi Partai Hanura pada pileg 2019 mendatang. Tapi paling tidak ada obsesinya kedepan, menambah jumlah kursi yang saat ini hanya memiliki dua wakil di DPRD Banggai. Di tengah kompetitifnya parpol, Supadiyasa bercita-cita Hanura menjadi pemenang pileg. Minimal masuk tiga besar partai yang mendominasi perolehan kursi di dewan.
“Kalau toh tidak jadi pemenang, minimal jatuh diantara bintang-bintang. Ya, bisa kedua atau ketiga,” kata Ketua Prada Kabupaten Banggai ini. (*)

About uman