Home » Berita Utama » Menulis, Membaca, Rekam Jejak Sejarah Kota Luwuk
Menulis, Membaca, Rekam Jejak Sejarah Kota Luwuk
Kota yang berada di pesisir timur Sulawesi, kota dengan tiga suku mayoritas yakni Banggai, Balantak, dan Saluan. Kota yang masih menyimpan banyak sejarah dan budaya, sayangnya belum terekspos karena kurangnya referensi tentang sejarah kota ini.

Menulis, Membaca, Rekam Jejak Sejarah Kota Luwuk

 “Sampai kenapa kota ini dinamakan Luwuk? Kenapa Teluk Lalong dinamakan demikian?” Pertanyaan sederhana yang hanya segelintir orang saja yang tahu jawabanya.

Laporan : Rizka Chaniago, Luwuk Post

BAGAIMANA jika generasi baru bertanya tentang hal itu kepada mereka yang si generasi lama yang juga tidak mengetahui tentang hal itu? Minta bantun internet? Internet sepertinya tidak akan banyak membantu. Mirisnya adalah ketika jawaban yang keluar hanya “saya juga tidak tahu”.
SEORANG guru Bahasa Indonesia saat masih SMP pernah mengatakan kepada saya, “Bahasa daerah di Kabupaten Banggai sebenarnya tidak hanya ada Bahasa Banggai, Balantak, dan Saluan. Ada satu bahasa lagi yaitu bahasa Masama, sayangnya bahasa ini sudah hampir punah.” Tentu saja itu hal baru bagi saya yang hanya tahu tentang BABASAL. Setelah menjadi wartawan, saya bertemu salah seorang wartawan senior di kota ini, saya menceritakan tentang bahasa keempat kepadanya lalu dia mengatakan “Bahasa itu memang ada, dipakai oleh suku Andio di Kecamatan Masama, itu merupakan sub suku dari Suku Balantak. Tinggal dua desa saja yang masih memakai bahasa itu. Generasi mudanya sudah sangat jarang memakai bahasa tersebut, dan memang bahasa Andio di ambang kepunahan,” ucapnya.
Saya membayangkan, apa adik-adik saya tahu tentang sub Suku Andio? Tentang bahasa mereka? Apa anak-anak dari Batui tahu tentang bahasa Suku Andio? Apa yang di Bunta tahu? Mungkin iya, atau kemungkinan besar mereka tidak tahu. Contoh kecil betapa budaya kita sedang terbiarkan, sedikit menghilang dari kekayaan bahasa kota ini. Keberadaannya tidak sepopuler Bahasa Inggris. Untuk Bahasa Inggris, ada program Pemerintah yang mengirim anak daerah ke Pare Kediri Jawa Timur, untuk belajar Bahasa Inggris. Aduh, jangan tanya soal program bahasa daerah. Rencana sudah ada, sayang implementasinya terbentur banyak hal, dan bisa dipastikan mulai terkikis. Terkalahkan.
Beruntung rasanya bertemu dengan Lian Gogali, aktivis perempuan dari Poso di Workshop Kepenulisan beberapa waktu lalu. Ia menyebarkan virus literasi dan kedamaian di Poso. Salutnya, dengan literasi Ibu Lian menyebarkan kedamaian melalui kaum perempuan, menjaga budaya di Poso melalui buku bacaan dan anak-anak. Dalam materinya, Ia bertanya tentang sejarah Kota Luwuk dan peserta banyak yang tidak bisa menjawab. Wajar bagi saya, karena buku tentang kota ini hampir tidak ada, kalaupun ada, hanya beredar untuk kalangan tertentu. Untuk menutup materi pertama, Ibu Lian menulis “Sejarah kota Luwuk, anak Luwuk yang tulis.”
Ya, harus ada yang merekam sejarah kota ini, harus ada yang menulis tentang mereka yang pernah memimpin kota ini, harus ada yang tulis tentang awal kemerdekaan di kota ini, harus ada yang tulis tentang asal muasal nama kota ini, tentang mata air di Teluk Lalong yang hampir tertutup tanah, tentang sampai kenapa Air Jato di Hanga-Hanga dinamakan Laumarang. Harus ada yang menulis suku Andio, tentang tenun di Nambo, tentang prosesi karamat di Batui, tentang Suku Loinang tentang orang-orang transmigran. Agar generasi saya, generasi yang akan datang, tahu bahwa tanah ini menyimpan banyak sejarah. Menyimpan banyak cerita. Agar mereka bangga memakai logat daerah ini dimana pun mereka berpijak. Dan yang menulis itu adalah Kita. Orang luwuk. Masyarakat Luwuk.
Dengan tulisan, guru-guru yang selalu memberikan ilmu bisa menceritakan kepada anak-anak murid mereka tentang sejarah dan budaya kota ini. Orang tua bisa mendongeng kepada anak-anak mereka sebelum tidur tentang cerita rakyatnya orang Luwuk. Mahasiswa akan lebih mencintai tanah ini, menghargai tanah ini. Dan anak-anak kota ini akan selalu rindu pulang untuk mengabdi di tanah ini. Dan Pemerintah akan lebih peka akan kebutuhan kota ini. Kebutuhan akan fasilitas membaca, sarana, dan prasarana. Peka akan kesejahteraan kota ini. Karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (kha)

About uman