Home » Politik » Menyamar Sebagai Ojek, Ditawarkan jadi Gubernur Sultim
Menyamar Sebagai Ojek, Ditawarkan jadi Gubernur Sultim
Djar'un Sibay dan almarhum Sudarto foto bersama pada sebuah kegiatan pemerintahan di Kabupaten Banggai.

Menyamar Sebagai Ojek, Ditawarkan jadi Gubernur Sultim

DJAR’UN Sibay punya banyak kisah bersama mendiang Sudarto. Pernah menjadi rival di panggung politik pilkada hingga bermitra pada pemerintahan. Berikut nostalgia Djar’un.

SOFYAN LABOLO-LUWUK POST

TIDAK jauh beda dengan yang lain. Djar’un pun merasa tidak percaya jika Sudarto telah dipanggil sang Khalik. Memastikan informasi itu, beberapa kerabat dihubunginya. “Saya kaget sekali. Awalnya anak saya menelepon. Katanya di media sosial (medsos) ramai sekali mengabarkan bahwa pak Darto (sapaan akrab Sudarto) telah meninggal dunia,” kata Djar’un yang ditemui di kediamannya, Senin (3/10).
Djar’un penasaran. Dia pun menghubungi Wakil Bupati Mustar Labolo yang saat itu berada di Palu. “Mustar membenarkan bahwa pak Darto meninggal di rumah sakit Budi Agung,” kata Djar’un. Tapi, Djar’un masih juga belum percaya. Diapun mengontek Faizal Mang. “Cerita Faizal, sebelum menghembuskan nafas terakhir karena penyakit jantung yang dideritanya (Sabtu 1/10 petang), pak Darto masih sempat menghadiri kegiatan Pramuka pada pagi harinya,” kata Djar’un.
Bukan tanpa alasan rasa penasaran Djar’un itu. Sebab selama berkunjung ke Luwuk, tidak terlihat tanda-tanda kesehatan Sudarto labil. “Dari penampilan pak Darto, tidak memperlihatkan dalam kondisi sakit,” ujarnya. Itu tercermin dari tiga kali pertemuan terakhirnya bersama Sudarto. “Mulai dari pelantikan pengurus Lansia, halal bi halal di Luwuk hingga tatap muka bersama DPD RI di kantor bupati. Pak Darto segar bugar,” kata Djar’un.
Sudarto bukan orang baru bagi Djar’un. Dia mengenalnya sejak tahun 1996. Saat itu Sudarto menjabat sebagai bupati Banggai periode pertama. “Saya kenal pak Darto sejak Ia menjadi bupati. Karena saat itu saya Ketua DPRD yang memproses administarsi pelantikannya,” katanya.
Dulu kenang Djar’un, Sudarto dipilih tunggal menjadi kepala daerah. Untuk jabatan Wakil Bupati harus berasal dari ASN dan ditunjuk oleh bupati. Kala itu, Sudarto memilih Basri Sono sebagai Wakil Bupati. “Jabatan Sekkab yang tadinya diemban Basri Sono menjadi kosong. Dan Ali Hamid diporsikan untuk jabatan tersebut,” kata Djar’un.
Sudarto dan Djar’un pernah menjadi rival. Tepatnya pada pilkada 2001. Melalui pemilihan di DPRD, Sudarto berpasangan dengan Ma’mun Amir. Sedang Djar’un Sibay satu paket dengan Basri Sono. Di atas kertas, kolaborasi Djar’un-Basri unggul. Estimasi itu didasarkan perolehan kursi di legislatif. Namun prediksi itu melenceng. Pasangan Sudarto-Ma’mun unggul. Keduanya meraih dukungan 22 suara. Sementara paket Djar’un-Basri hanya 18 suara. Bagi Djar’un itulah dinamika politik. Pasca pemilihan, semuanya berjalan seperti biasa.
Banyak hal positif yang dipetik Djar’un selama bermitra dengan Sudarto di pemerintahan. Kisah manis itupun dibeber Djar’un. “Ketika pak Darto tugas luar daerah, satu pesannya buat saya, kalimatnya seperti ini, Saya Titip Kabupaten Banggai pada Bapak,” jelas Djar’un.
Jauh hari sebelum Presiden RI Jokowi dan beberapa kepala daerah lain di Indonesia, mempopulerkan istilah blusukkan, Sudarto sebenarnya lebih awal melakukannya. Sudarto paling aktif turun ke rakyatnya untuk berkomunikasi. Bahkan Sudarto pernah menyamar sebagai tukang ojek, hanya ingin melihat langsung masyarakat yang dipimpinnya. “Itu cara pak Darto melihat langsung kondisi riil rakyatnya,” ujarnya.
Sudarto sukses di panggung politik. Dan hal itu diakui Djar’un. Rumusnya simple, yakni dekat dengan rakyat. Meskipun dalam setiap momentum politik, Sudarto terus mendapat kepercayaan rakyat, namun Ia tidak lupa kacang akan kulitnya. Artinya kata Djar’un sekalipun Sudarto masih menjadi pejabat publik, namun tidak pernah melupakannya. “Walaupun saya sekarang sudah menjadi rakyat biasa, tapi pak Darto tetap berkomunikasi dengan saya. Malah pak Darto kerap meminta saran terkait rencana kebijakannya,” ucapnya.
Dari sederet tokoh, Sudarto salah satu pejuang yang gigih terhadap pembentukan Provinsi Sultim. Faktanya, Sudarto sebagai pemerkasa deklarasi Sultim di Kota Luwuk tahun 2001 lalu. Karena konsisten Sudarto terhadap perjuangan aspirasi itu, Djar’un mengaku pernah menawarkan ketika Sultim terwujud maka Sudarto menjadi Gubernur pertama. “Jawaban pak Darto simple. Dia menginginkan yang didorong adalah kalangan tokoh muda,” ujar Ketua DPRD Banggai tiga periode ini. (*)

About uman